BAB 30

247 53 47
                                        

TINGGAL KAN VOTE, KOMEN DISI NI 🥰😉Dan share cerita ini ke teman, kluarga, pacar maupun penerbit✮❀

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TINGGAL KAN VOTE, KOMEN DISI NI 🥰😉
Dan share cerita ini ke teman, kluarga, pacar maupun penerbit✮❀

HAPPY READING MAYLDERR🥰

.
.
.

.
.

Keheningan hutan itu semakin menyesakkan. Tidak ada suara hewan, tidak ada angin yang berdesir melalui pepohonan. Yang ada hanya langkah-langkah berat mereka yang menggema di antara batang pohon yang rapat. Skala, Agatha, Naura, Kayla, Rayhan, dan Aksa berjalan lebih cepat, terhimpit rasa cemas yang kian memuncak.

Skala memeriksa ponselnya sekali lagi, dan lagi-lagi tidak ada sinyal. Ponsel milik Rayhan, Kayla, Aksa, dan Agatha pun menunjukkan hal yang sama. Sama sekali tak ada sinyal.

"Gue nggak suka ini," kata Naura, suara penuh kekhawatiran. "Gue ngerasa ada yang aneh di sini."

Skala mengangguk pelan. "Gue juga, tapi kita nggak bisa berhenti sekarang. Kita harus sampe ke titik yang lebih aman."

Namun, baru saja mereka melangkah beberapa meter, bayangan hitam muncul di ujung pandangan mereka. Terlihat samar-samar di antara pepohonan, sosok itu bergerak dengan cepat, seakan mengintai mereka. Keheningan hutan yang mencekam semakin terasa, dan kini, mata mereka mulai tertuju pada bayangan itu.

"K-kalian liat itu?" tanya Agatha, suara bergetar.

"Iya," jawab Skala, matanya tetap waspada. “Tetep tenang. Jangan ada yang jauhan. Jangan ada yang gerak dulu."

Namun, bayangan itu tidak berhenti bergerak. Semakin lama, sosok tersebut semakin mendekat. Tangan Rayhan secara refleks meraih pentungan di pinggangnya.

"Siapa itu?" Aksa berbisik, wajahnya serius. "Gue rasa bukan manusia."

"Jangan langsung ," Skala berbisik, matanya masih fokus pada bayangan yang mendekat. "Kita nggak tahu apa itu."

Bayangan itu semakin jelas, tinggi besar, dan bergerak dengan langkah yang tenang. Terlihat dari gerakannya, sosok itu sepertinya sedang mengintai, mengamati mereka dari balik pepohonan. Tanpa sinyal, tanpa komunikasi, mereka benar-benar terjebak dalam ketidakpastian.

Aksa menelan ludah, menatap Skala. "Gimana, Kal? Kita harus ngapain?"

Skala memikirkan sejenak, napasnya terasa semakin berat. "Tetep ngumpul, pegangan tangan. Kita nggak bisa mencar, apalagi di hutan gelap kayak gini. Lo lihat, kan? Kalau kita kepecah, bahaya banget, apalagi buat cewek-cewek di sini."

Rayhan yang mulai gelisah menatap Skala dengan ekspresi yang menantang. "Gue nggak takut, gue bisa ngejar itu. Kita harus tau siapa dia dan apa yang dia mau dari kita. Gue bisa .…"

"Enggak," tegas Skala, matanya menyipit penuh peringatan. "Kita nggak tahu siapa dia, dan kalau kita kejar, kita bisa mencar nantinya. Apalagi kalau dia bawa jebakan, kita malah jadi sasaran. Jangan bodoh."

MY BEST ENEMY ( SUDAH TERBIT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang