BAB 28

254 77 58
                                        

Di tengah perjalanan menuju tempat persembunyian sementara, suasana tegang mulai mencair

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Di tengah perjalanan menuju tempat persembunyian sementara, suasana tegang mulai mencair. Aksa, yang biasanya banyak canda, kali ini terlihat lebih sering mendekati Naura. Mereka berjalan berdampingan di barisan belakang.

Naura melirik ke arah Aksa, yang sedang sibuk memainkan senter kecilnya. “Kamu kenapa sih diem-diem aja? Nggak biasanya, loh,” goda Naura sambil tersenyum tipis.

Aksa tertawa kecil. “Nggak apa-apa, gue lagi mikir aja. Lo gimana, masih takut?”

“Ya jelas takutlah, kita nggak tahu siapa yang nulis kertas ancaman itu,” jawab Naura, suaranya sedikit pelan. “Tapi... untungnya gue nggak sendirian.”

Aksa tersenyum dan menatapnya. “Selama gue di sini, lo nggak usah takut. Gue nggak bakal biarin lo kenapa-kenapa.”

Naura terdiam, pipinya mulai memerah. Dia berusaha menutupi perasaannya dengan mengalihkan pandangan. “Sok jago lo!” katanya, meski hatinya terasa hangat mendengar janji itu.

Di sisi lain, Skala berjalan bersama Agatha di depan. Sejak insiden di ruang bawah tanah tadi, keduanya jadi lebih sering bertukar pandang. Agatha yang biasanya galak dan suka melontarkan komentar sarkastik kini terlihat lebih lembut.

“Lo nggak capek?” tanya Skala sambil menyerahkan botol air padanya.

Agatha menerimanya dengan ragu. “Nggak, gue masih kuat kok. Thanks.”

Mereka berjalan dalam diam sejenak sebelum Agatha tiba-tiba berbicara. “Tadi waktu lo bilang nggak bakal ninggalin gue... Lo serius?”

Skala menoleh, wajahnya serius. “Tentu aja. Gue nggak bakal ninggalin lo, Gatha. Lo penting buat gue.”

Agatha tertawa kecil, berusaha menutupi rasa malunya. “Duh, gombal banget sih. Tapi, makasih ya... udah jagain gue.”

Skala tersenyum, merasa puas melihat Agatha yang mulai melunak padanya.

Sementara itu, Reyhan yang biasanya dingin terlihat mulai membuka diri pada Keyla. Mereka berjalan di tengah kelompok, saling melontarkan candaan kecil.

“Lo tuh, ya, udah tahu jalan ini serem, masih aja ngeledek gue,” kata Keyla sambil melirik Reyhan dengan kesal bercanda.

Reyhan terkekeh. “Gue cuma pengen lo lupa sama rasa takut lo. Ternyata berhasil.”

Keyla tertawa kecil. “Oh, jadi lo perhatian juga, ya. Gue kira lo cuma bisa ngomong galak.”

“Perhatian? Ya... mungkin aja,” jawab Reyhan sambil mengangkat bahu.

Obrolan ringan mereka perlahan membuat suasana yang tegang jadi lebih hangat. Masing-masing mulai menyadari bahwa ketegangan dan rasa takut yang mereka alami malah membuat mereka semakin dekat satu sama lain.

Namun, di balik semua ini, ancaman masih menggantung di udara. Kertas ancaman terakhir dengan tulisan “Kalian tidak bisa lari” terus menghantui pikiran mereka. Tapi satu hal yang pasti—mereka tidak lagi sendirian menghadapi ini semua.

MY BEST ENEMY ( SUDAH TERBIT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang