Siap masuk ke cerita Skala × Agatha bersama Atlantis dan the Queen's gank?
yang penuh konflik, rahasia, dan musuh yang... terlalu dekat?
Kalau musuhmu selalu ada di setiap masalahmu...
kamu bakal lawan dia, atau malah jatuh ke dia?
Bertengkar setiap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haii maylderr jangan lupa tinggalkan jejak ya hihi 🥰
. . . . .
Saat itu, sebelum mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan. Sebagai ketua, Skala harus mengendalikan situasi terlebih dulu agar lebih kondusif.
Skala duduk di sudut ruangan, cahaya dari layar ponselnya menyinari wajahnya yang serius. Di luar hujan turun dengan deras, membuat suasana malam itu terasa semakin mencekam. Di sampingnya, Aksa duduk di atas meja, sementara Rayhan berdiri di jendela, memantau keadaan sekitar.
Misi mereka ke hutan segera dimulai, tetapi Skala merasa ada yang belum beres. Dia bisa merasakan ada mata yang mengintai, dan karena itu, dia memutuskan untuk memberi arahan lebih hati-hati.
Dengan hati-hati, Skala membuka aplikasi pesan di ponselnya dan membuat grup baru dengan nama "Tim Atlantis." Ia mengetik pesan dengan cepat, memastikan setiap detailnya jelas.
Pesan Skala di Grup "Tim Atlantis":
Skala: "Keano, lo jagain si kembar bareng The Queens yang nggak ikut, ya. Jangan sampe mereka keluyuran kemana-mana. Kalau ada yang aneh, langsung hubungi gue."
Skala: "Rayhan, Aksa, lo berdua ikut sama gue ke hutan. Naura, Kayla, Agatha—lo bertiga ikut. Kita butuh yang lincah-lincah."
Skala: "Alva, Dirga, Avka, Keano, Alana, Dea, Aina—lo semua tetap di base. Beberapa dari lo butuh istirahat, dan kita butuh orang yang bisa ngeliat dari jauh. Alana, Alva, lo berdua yang mantau komunikasi dan data. Aina, Dea, lo siapin cadangan makanan. Avka, lo yang jagain perimeter."
Rayhan: "Pinter, Skala. Kalau ada yang di base, kan, kita bisa punya mata di dalam rumah, luar rumah, sama di hutan juga. Tapi lo yakin Keano bisa jagain si kembar?"
Skala: "Keano masih bisa diajak kerja sama, dia bakal lebih bisa diandelin kalo dia di base. Dia juga masih ada urusan sama The Queens."
Aksa: "Jangan lupa, beberapa dari kita masih cedera ringan. Dirga, Alva, mereka lebih cocok buat mantau. Aina, Dea, lo bantu siapin makanan atau apa pun yang bisa dimakan. Avka, lo bantu jaga perimeter."
Skala: "Iya, itu juga kenapa mereka di base. Mereka nggak cukup siap fisik buat turun langsung, tapi mereka nggak bisa gitu aja lepas tanggung jawab."
Naura: "Siap, Skala. Kita siap. Kalau ada apa-apa, langsung lapor ke grup."
Kayla: "Diterima. Kita bakalan fokus sama tugas masing-masing."
Agatha: "Hutan itu banyak banget bahayanya. Kita harus hati-hati."
Skala: "Mudah-mudahan setelah ini misi terakhir kita buat cari peneror itu. Semuanya tergantung apa yang kita temuin di hutan nanti."
Dengan satu tarikan napas panjang, dia menaruh ponselnya dan siap menghadapi apa yang akan datang.
Di dalam rumah yang sunyi, hanya terdengar suara desah napas dan langkah kaki yang mantap. Meskipun anggota lainnya tengah bersiap untuk misi di hutan, Alva dan Alana memikul beban yang tidak kalah besar. Misi mereka bukanlah petualangan di luar, tetapi menjaga agar rumah tetap aman dan siap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi.