Siap masuk ke cerita Skala × Agatha bersama Atlantis dan the Queen's gank?
yang penuh konflik, rahasia, dan musuh yang... terlalu dekat?
Kalau musuhmu selalu ada di setiap masalahmu...
kamu bakal lawan dia, atau malah jatuh ke dia?
Bertengkar setiap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
... . . .
“Gue nggak percaya ini...” Naura mendengus kesal, melemparkan catatan yang tadi dibaca Skala ke tanah. “Kita dipermainkan! Tadi pagi udah ada kertas teror, sekarang muncul lagi di sini! Kapan selesai-nya?!”
Skala meremas tangan, mengatur napas, tapi tetap tegak, menghadapi situasi yang semakin berat. “Kita nggak bisa kalah sama ketakutan, Naura. Yang kita butuhin sekarang adalah fokus, dan jangan biarkan rasa curiga itu jadi hal yang ngerusak kita.”
Sambil berbicara, dia melirik ke arah Avka dan Aksa yang ada di sampingnya. Aksa terlihat gelisah, tangannya menggenggam erat senter yang mulai meredup. Tiba-tiba, Aksa memecah keheningan dengan suara kocaknya yang biasa.
“Jadi gini ya? Jadi si pelaku ini kira kita mau jadi ‘kayak film horor’ gitu? Sempet-sempetnya ngasih undangan sampe kayak gini, ya kan? Gue gak ngerti lagi deh!” Aksa melirik semua orang dengan gaya santainya, meskipun ekspresinya masih tegang.
Alva, yang udah mulai jenuh dengan suasana ini, nyengir, coba ngelawak sambil menepuk bahu Aksa. “Bro, lo bener-bener niat ya. Teror dan kita malah disuruh tertawa. Kalau lo nggak ikut, kita bakal nambah beban.”
“Ya kan, daripada terus-terusan ketakutan, bisa-bisa jadi stres gila deh!” Aksa tetap ngelawak, meskipun dia sendiri bisa ngerasain ketegangan yang udah mulai memuncak.
Skala cuma geleng kepala, sambil menahan tawa. “Kadang-kadang, lo emang bisa bikin suasana jadi aneh, Aksa.”
Tapi di dalam hati, Skala tahu, humor itu bukan cuma pelepas stres sementara. Itu cara Aksa buat ngelawan rasa takut. Semua orang butuh sesuatu buat nahan rasa cemas yang nggelembung di perut mereka.
Di sisi lain, Agatha yang udah beberapa waktu diem, akhirnya ngomong pelan. “Tapi... gimana kita tahu kalau si pelaku ini nggak ada di antara kita?”
Semua terdiam. Ada yang nunduk, ada yang melirik satu sama lain dengan curiga. Tapi tiba-tiba, Avka nyelonong dengan gaya khasnya.
“Gue bilang sih, gue yang curiga sama Reyhan.” Avka nyengir sambil main-main neken leher Reyhan yang duduk di sampingnya. “Pantesan dia dari tadi kayak nggak fokus. Jadi, kita curigain si Reyhan nih?”
Reyhan nyengir sinis, terus bales. “Bentar, bentar. Lo nggak lihat tadi sih siapa yang suka ngomong sendiri di pojokan? Itu lo, Avka! Jadi nggak usah nyalahin gue!”
Semua langsung ketawa, suasana sempat cair sejenak. Tapi, setelah itu, keseriusan kembali datang. Ketegangan mulai mengembun lagi.
“Gue nggak tahu siapa yang bisa dipercaya sekarang,” gumam Naura. “Tapi gue rasa kita harus cari petunjuk lebih lanjut, nggak bisa cuma ngandelin obrolan yang nggak jelas kayak tadi.”
Skala mengangguk, tetap berpikir keras. “Gue setuju. Tapi, satu hal yang pasti—siapa pun pelakunya, dia nggak bisa dibiarkan bebas.”
Saat itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di belakang mereka, dan seketika mereka semua berbalik. Semua mata tertuju pada Agatha, yang buru-buru menoleh ke belakang.