kejutannn

168 22 3
                                    

Adnan menghela nafasnya berat, selama rapat, wajah istrinya kian pucat dari saat mereka berangkat tadi pagi.

Selama beberapa hari ini istrinya terus saja demam ringan yang sembuh dan datang terus meneruss, saat pulang kantor kemarin tubuh Maira tiba tiba panas dan lemas, kemudian minum obat dan sembuh, sepertinya pagi ini badan nya panas lagi, dan itu membuat Adnan resah sendiri.

Adnan berdiri dan membuka tirai nya, Maira masih bekerja seperti biasa, dan itu membuatnya sangat khawatir, apakah tidak ada dari mereka memperhatikan wajah istrinya yang semakin pucat, kenapa malah terus bekerja seperti ini.

" permisi, Saya butuh daftar supplier yang pernah bekerja sama dengan tim 1, kemana saya harus minta file nya?" Tanya Agam yang baru saja masuk

" daftar supplier ada di mba Maira pak " jawab Adit

" sebentar saya kirim melalui email "

" Maira " Panggil Agam

" ya pak?"

" kamu sakit?"

" tidak pak"

Mendengar itu mata Agam berkeliling seperti mencari sesuatuu, saat menemukan nya ia menunjukan tepat di depan wajah Maira.

" lihatlah wajahmu "

" ahh " tunduk Maira tak enak

" kalau sakit jangan dipaksakan, izin pulang atau seenggaknya ke ruang kesehatan"

" saya cuma sedikit pusing "

" pusing juga sangat merepotkan, ga perlu kamu tahan, pulang saja "

" biar nanti saya minta adit yang kirim file nya, kamu beresin barang kamu"

" tapi pak. Saya..."

" kamu tidak berani izin sama pak Adnan? Mau saya izinkan?"

" bukan begitu pak, saya bener bener...."

Brukkk

Maira yang tiba tiba oleng dari posisi nya awal jatuh terduduk karena lemas.

" Mairaaaa" panik Agam

" loh, mbak Maira kenapa mbaa?" Semua tim berkerumun mendekati Maira yang bersimpuh.

" ga bisa begini, saya bantu keruang kesehatan " Agam berjongkok dengan maksud ingin membantu Maira berdiri

BRAKKKK

Seseorang membuka pintu dengan kasar, semuanya menoleh ke sumber suara, seorang Adnan berjalan dengan wajah yang sulit di artikan kearah mereka.

" Biar saya, Kita kerumah sakit sekarang!!" Tanpa babibu Adnan mengangkat istrinya yang sudah sangat lemas tanpa perduli pandangan orang padanya.

" t..tadi itu pak A..adnan kan?" Tanya Celina yang masih belum lepas dari keterkejutan nya.

Adit mengangguk tanpa suara, ada yang aneh dengan sikap pak Adnan

Memang benar beliau adalah orang yang sedikit bicara dan tidak seramah pak Agam ketua tim perencanaan 2, dengan sorot mata yang tajam beliau juga mengeluarkan aura Dingin hingga terkesan sulit di dekati.

Tapi tadi, suara pak Adnan lebih dingin dari biasanya, meski samar suara itu terdengar gemetar bersamaan dengan sorot matanya yang tak terbaca.

" lohh kenapa ini? Kok pada ngumpul? Eh ada pak Agam " sapa Rian ramah saat melihat ada Pak Agam.

Rian yang sudah dinas diluar kantor untuk rapat lapangan sejak pagi tidak tau sama sekali situasi aneh barusan.

" kalian kenapa sih, balik kerja sana, kalo pak Adnan liat bisa habis di libas kalian semua" celetuk Rian lagi.

MATA TEDUH MAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang