X

81 15 1
                                        

Buku terbuka. Lembarannya berwarna kekuningan termakan usia dan berkerut karena basah. Meski demikian, tulisan di dalamnya tetap terbaca. He Jun bisa melihat sketsa manusia setengah ikan dengan grafik organ tubuh dan informasi yang tertulis dalam bahasa asing.

Dua bulan merah yang menggantung di langit, meski bersinar, cahayanya seolah tidak menyentuh lautan. Vernon hanya bisa membaca jurnal itu setelah He Jun susah payah mengeringkan dan menyalakan satu-satunya lentera di perahu mereka. Da In, yang duduk di sebelahnya, turut membaca isi jurnal dengan penuh minat.

"What do we do now?"

"We'll lure them out."

He Jun tidak benar-benar mendengarkan, dia sibuk memerhatikan perairan sekitar, memeriksa apakah sesuatu benar-benar berenang tepat di bawah perahu mereka ataukah itu hanya imajinasinya.

"Lure them, how?" Da In bertanya, lalu menebak-nebak. "Human bait? Sacrifice?"

Bulu halus tengkuk He Jun tiba-tiba meremang, dia melirik pada dua laki-laki di sisi lain perahu. Sialnya, dia tidak mengerti sepatah katapun yang mereka ucapkan.

Vernon menggeleng. Dia menunjuk pada jurnal yang menampakkan notasi musik. "A song. They love this one in particular. According to the book, Maids appear on the side of the ship to listen when the fishermen sing this verse."

"Interesting." Da In mengangguk paham.

Dia tampaknya cukup senang dengan situasi yang tersaji di atas sekoci. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa senyumannya berubah menjadi kaku ketika pria asing yang duduk di sampingnya mulai mengeluarkan suara nyanyian yang serak basah. Menurutnya itu tidak buruk, tapi juga tidak menyenangkan untuk didengar.

Berbeda dengan He Jun, yang sama sekali tidak menyembunyikan bagaimana dia memutar bola matanya ketika sang pemimpin ekspedisi tiba-tiba bergumam dan bersenandung. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berbohong, He Jun berpikir bahwa Vernon adalah penyanyi yang buruk.

Ombak kecil membuat perahu kayu bergoyang perlahan. Permukaan laut memantulkan gambaran bergelombang dari dua bulan merah di langit. Itu membuat angkasa dan lautan seolah memiliki wajah yang sama.

Vernon telah bernyanyi cukup lama, tapi tidak terjadi apa-apa. Tidak ada bayangan yang mencuat dari kegelapan laut, atau tanda-tanda kehadiran manusia setengah ikan atau apapun itu. Sosok tertua di perahu rehat, menegak minuman, membasahi kerongkongannya.

He Jun menghela napas lega, berpikir penderitaan telinganya telah berakhir. Rupanya, ia salah besar. Suara bagai kotak gagak mulai kembali terdengar. Sang musisi mengerutkan keningnya ketika mendengar satu lagi nada yang salah. Jika Vernon terus-menerus menggaungkan lagu itu, telinga He Jun mungkin akan berdarah.

"Dia terus menyanyikannya dengan keliru." He Jun bicara pada Da In, karena suka atau tidak, pemuda berambut keriting itu adalah satu-satunya orang di perahu yang bisa diajak bicara. "Dia buta nada atau semacamnya?"

Da In mengabaikannya dan terus-menerus menegak minumannya. Dia terlihat mulai sedikit mabuk.

"Aku haus," kata He Jun.

Ketika dia lagi-lagi diabaikan, pemuda itu nekat merebut kantong kulit berisi soju dari tangan Da In. Namun, ketika diminum, yang memenuhi kerongkongan He Jun adalah alkohol kualitas buruk yang membuat tenggorokannya terbakar. Rasanya persis seperti menelan cuka.

Pemuda itu memuntahkan soju di mulutnya ke sisi perahu dan mencibir. "Itu alkohol terburuk yang pernah masuk ke mulutku."

Da In tidak terlihat senang saat soju-nya tumpah sia-sia. "Itu mungkin alkohol terakhirmu. Seharusnya tidak kau sia-siakan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 03 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Silent SeaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang