𝐌𝐚𝐧𝐢𝐬 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐞𝐭

300 11 2
                                    


3 perempuan yang tadi sempat di cari-cari akhir nya sudah berada di rumah milik pak kyai Ahmed.

Dewa tak bisa lagi berkata-kata begitu mendengar cerita dari sang istri,untuk pertama kali selama mereka bersama baru kaki ini dewa mengetahui kalau istri nya yang ia tahu lembut dan kalem.

Bisa memanjat pohon mangga yang cukup besar dan tinggi tanpa ada pengamanan.

Untung nya istri nya baik-baik saja, jadi dewa juga bersyukur.

"Mas Diba minta maaf" ucap Diba begitu pelan dengan tatapan yang menunduk.

"Uda maafin Aza juga yang sudah ingkar janji" ucap Hamzah ikut meminta maaf pada dewa.

"Saya maafin kamu za, sekarang kamu pulang pasti kakak mu saleh sudah menunggu mu" ucap dewa terdengar begitu lembut.

"Kalau begitu aza pamit pulang, Assalamu'alaikum"sebelum keluar hamzah menyempatkan untuk menyalami tangan Ahmad dan Arum, lalu gadis muda itu benar-benar pergi.

"Wa'alaikumussalam"jawab semua orang yang ada di ruangan itu.

"Nak, sejak kapan kamu bisa manjat? " tanya Arum yang juga masih kaget mengetahui putri nya bisa memanjat.

Padahal sebelum nya gak ada tuh Arum melihat putri nya itu manjat.

"Diba nurutin naluri aja bu"ucap Diba dengan suara pelan dan masih menundukkan kepala nya.

"Kalau di ajak ngobrol angkat wajah nya Sayang, tatap orang nya selagi itu masih mahram untuk mu" ujar Dewa.

Diba menuruti kata suami nya dan tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan sendu milik sang suami.

"Bah.. Bu.. Saya bawa istri saya pulang aja yaa, kasihan pasti istri saya ini lelah habis MANJAT"dewa sengaja menekan kata di akhir nya dengan masih menatap penuh pada sang istri.

Diba menghena nafas begitu kasar dan pasrah kalo memang suami nya ini bakal marah dengan nya.

Setelah berpamitan dewa pun membawa istri nya pulang ke rumah mereka yang jarak nya lumayan jauh.

Tangan besar nya itu sangat erat menggengam tangan mungil sang istri seakan tak mau melepaskan nya lagi.

"Mas.. " panggil Diba, langkah wanita itu pun terhenti membuat dewa juga ikut menghentikan langkah nya.

Diba bisa mendengar helaan nafas dari suami nya. "Kita bicarakan di rumah aja, gak enak di lihatin para santri" ucap dewa mengingat kini mereka berada di kawasan yang sering di lewati santri.

Dan beberapa juga ada yang menyapa ke 2 nya dan dewa membalas nya hanya dengan anggukan dan salam.

Diba kembali pasrah tak kala kaki nya kembali melangkah itu pun karna tangan nya di tarik oleh sang suami, tapi tarikan yang pelan.

Sesampai nya di rumah dewa tak langsung membicarakan masalah nya tapi memilih masuk kekamar mandi terlebih dahulu.

Sedangkan Diba menunggu suami nya di kamar mendudukkan diri nya pada pinggir kasur.

Tak lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok suami nya dengan baju santai nya.

"Kamu bersih-bersih aja dulu" ucap dewa dan lagi-lagi Diba menuruti nya.

Tak butuh waktu lama Diba pun keluar dari kamar mandi dengan memakai daster lengan pendek sambil mengelap rambut panjang nya yang basah dengan menggunakan handuk.

Diba menatap nanar ruang kamar nya yang kosong, mata wanita muda itu sudah berkaca-kaca.

Diba kembali mendudukkan diri nya pada pinggir kasur.

𝐁𝐢𝐝𝐚𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐒𝐮𝐫𝐠𝐚 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐃𝐞𝐰𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang