08 - Gibran?

651 68 13
                                        


"Scorpio brengsek!" Zavran meremas kertas bertuliskan tantangan dari Scorpio yang menginginkan pertempuran diantara mereka dengan perasaan marah.

"Mereka sengaja nantangin kita karena mereka tahu kalau Gibran menghilang." ucap Umay.

"Sanggupin aja! Biar mereka tahu kalau tanpa Gibran pun kita juga bisa ngebantai mereka!" teriak beberapa anggota.

Zavran terdiam sembari menatap kosong kearah anak buahnya. Memiliki posisi sebagai wakil membuatnya harus bersedia menggantikan Gibran dalam posisi saat ini.

Meskipun secara kekuatan fisik Gibran dan Zavran itu hampir sebanding namun Zavran mengakui bahwa dirinya tak sebaik Gibran dalam mengatur strategi. Apalagi saat ini Alvares banyak kehilangan anggota dengan kekuatan hebat. Beberapa dari mereka keluar setelah memilih untuk menikah dan Alvares saat ini hanya tersisa 58 orang.

"Kita nggak bisa nolak tantangan ini,Zav." ucap Umay yang tak direspon oleh Zavran.

"Gue ragu kita menang. Scorpio tiga kali lipat lebih banyak daripada kita belum lagi kali ini kita maju tanpa Gibran dan Lucas, dan jangan lupa jumlah kita sekarang lebih sedikit dari terakhir kali kita ketemu mereka." jelas Zavran.

"Iya juga, terakhir kali kita juga kebantu sama Zhero." timpal beberapa anggota lain.

"Kalau kita nolak, kita sama aja nyerah diawal!" teriak anggota yang lain.

Merasa terdesak oleh anggotanya sendiri, akhirnya Zavran mengambil keputusan bahwa mereka akan menerima tantangan itu entah seperti apa hasilnya nanti.

...

Gibran menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam kini menunjukkan pukul 12.40 dimana keduanya masih terus berjalan menyusuri lebatnya hutan belantara tanpa beristirahat .

Udara terasa dingin meskipun saat ini tengah hari dan kini Gibran tertinggal cukup jauh dari Geon. Entahlah, dirinya merasa malas untuk mengejar langkah cepat sang ketua Zhero.

"Cepetan ! Kita udah dekat sama jalan!" teriak Geon sumringah dari arah depan. Cowok itu berhenti sembari menunggu Gibran sampai.

Berbeda dengan Geon yang terlihat bahagia , Gibran justru sebaliknya. Leader Alvares itu tidak merespon apapun dan terus berjalan tanpa berbicara dengan rivalnya.

"Lo kenapa njir? Kesurupan demit Lo?" tanya Geon sembari menyamai langkah Gibran.

"Bran Lo ken-"

Ucapan Geon terhenti ketika ia berhasil mencekal lengan rivalnya. Tangan Gibran terasa dingin dan wajah cowok itu juga terlihat begitu pucat.

"Lo sakit?"

"Nggak." ketus Gibran dan segera melepaskan cekalan Geon.

Namun baru beberapa langkah cowok itu berjalan, tubuhnya terjatuh . Dengan naluri sesama manusia, Geon langsung mendekati rivalnya terheran.

Ia dengan cepat menyentuh leher dan dahi milik leader Alvares yang terasa begitu dingin dan napasnya yang semakin tersengal-sengal.

"Lo kenapa,njing!" panik Geon. Tentu ia panik karena ia tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan musuhnya dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Ja-jangan bunuh gue ... gue nggak mau Resha sendirian ...." racau Gibran membuat Geon makin bingung.

...

Sedari dulu, Resha selalu hidup bergantung dengan Gibran.  Wajar saja, dari ia kecil ia hanya memiliki Gibran dalam hidupnya. Tidak ada yang bisa menjadi Gibran dimatanya.

Bagi Resha, Gibran adalah sosok terbaik yang selalu rela melakukan apapun demi kebahagiaan dirinya. Ia tidak pernah peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang kakaknya karena dimatanya Gibran adalah orang terbaik di dunia ini.

Dari jendela kelasnya, Resha dapat melihat rintik hujan yang mulai terlihat. Menyadari sesuatu, remaja itu langsung bergerak gelisah dalam duduknya hingga menarik atensi Jean yang duduk disebelahnya.

"Kenapa,Resha?" tanya Jean sembari berbisik.

"Gerimis," jawab Resha masih dengan pandangannya yang gelisah.

Jean masih menatap bingung. "Terus kenapa? Itu cuman gerimis,nggak hujan deras. Kita nggak bakal basah kuyup."

"Abang." jawab Resha singkat.

Jean tersenyum tipis lalu menepuk pundak Resha pelan. "Abang Lo nggak kenapa-napa, nanti gue sama Haje bantuin nyari Abang lo sepulang sekolah."

Resha menggeleng dan kembali mengucapkan kalimat dengan bibir bergetar nya. "Kalau cuacanya dingin, Abang gampang banget kedinginan,Je. Kalau dia sendirian gimana? Siapa yang nolongin dia? Nggak ada orang lain yang tahu soal ini,Je." jelas Resha.

Jean hanya terdiam menatap sahabatnya yang panik. Resha bahkan terlihat seperti ingin menangis ketika mengatakan apa yang membuat dirinya cemas.

Ternyata benar yang dikatakan oleh orang-orang diluar sana bahwa cara ampuh untuk menghancurkan Gibran adalah dengan menyakiti Resha, begitupun sebaliknya. Menghancurkan Resha juga begitu mudah dengan menyakiti Gibran .

Kedua bersaudara itu tumbuh bersama tanpa kasih sayang orang tua dan mereka hanya memiliki satu sama lain. Gibran bahkan merasa bahwa tidak ada yang membuatnya bahagia kecuali Resha dan Resha menganggap tidak ada orang baik di dunia ini kecuali Gibran.

....

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WITH GIRESHA | GIRESHA 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang