Kecepatan up ku tergantung ramenya komentar yaaa
Jam sudah menunjukkan pukul 17.35 di mana matahari perlahan mulai meninggalkan siang. Di daerah perkotaan mungkin masih terlihat terang namun berbeda dengan di hutan.
Geon terbangun dari tidurnya ketika merasakan perih di lengan kirinya. Sialan ! Ia baru sadar jika tangannya tergores besi dan ini cukup panjang.
Pandangan matanya menangkap daerah sekitar yang mulai remang-remang. Sebentar lagi pasti gelap dan mereka berdua belum beranjak pergi dari pohon besar yang tadi mereka gunakan untuk beristirahat.
"Bangun,njing!" ucap Geon ketus sembari melemparkan ranting kecil kearah Gibran yang masih terlelap.
"Berisik!" balas Gibran tak kalah ketus.
"Lo mau ikut gue nyari bantuan atau tidur di situ sampai pagi?" tanya Geon.
Gibran tak menjawab. Cowok itu tetap memilih untuk melanjutkan tidurnya setelah perjalan jauh yang sangat melelahkan.
Geon tentu berbeda dengan Gibran. Sekasar apapun Geon dengan anak-anak di jalanan, namun cowok itu masih memiliki sisi baik yang sering ia tunjukkan untuk orang-orang di sekitarnya.
Berbeda dengan Gibran yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Padahal jika dipikir, Geon masih berbaik hati tidak membunuh Gibran saat ini walaupun Gibran adalah orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
Jika ditelisik dari wajah, wajah Geon terlihat lebih galak daripada Gibran karena demi apapun, Gibran terlihat seperti anak polos yang tidak mengerti apapun. Namun hatinya, entahlah. Gibran hanya menunjukkan sisi baiknya pada Resha saja.
Melihat Gibran yang masih setia memejamkan matanya, Geon kini bangkit dan berjalan menjauh lalu ia berteriak. "Itu pohon beringin ! Kata Gavin, banyak setannya!" teriak Geon.
"Tungguin gue !"
Geon tersenyum miring ketika Gibran kini berlari mengikuti langkahnya. Geon tahu dari Resha kalau sebenarnya Gibran cukup penakut dengan hal-hal mistis. Hanya saja cowok itu selalu berpura-pura berani.
Hari mulai gelap sedangkan dua manusia yang menyandang status musuh itu masih saja belum menemukan tanda-tanda munculnya bantuan.
Udara terasa semakin dingin membuat Gibran mengeratkan jaket kulit yang ia kenakan. Terlebih Geon yang hanya menggunakan kaos tanpa lengan. Luka di lengan kirinya juga terasa semakin perih.
"Lo bawa uang? Gue laper." ucap Gibran namun Geon hanya menoleh tanpa menjawab. Bahkan cowok itu berjalan lebih cepat dari sebelumnya,membuat Gibran yang tertinggal hanya mendengus kesal.
Lagi pula di hutan seperti ini memangnya ada yang menjual makanan? Aneh sekali Gibran ini.
"Woy! Gue laper!" teriakan Gibran mampu menghentikan langkah Geon.
Geon berbalik dan mendekati yang lebih muda. Tangannya dengan cepat melayangkan pukulan keras yang membuat Gibran terhuyung ke belakang.
"Apa-apaan Lo!" ujar Gibran emosi. Ia rasa, dirinya tidak membuat masalah apapun dan kenapa Geon mendadak memukulnya? Apa Geon juga lapar dan berniat membunuh Gibran untuk dijadikan makan malam?
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH GIRESHA | GIRESHA 2
Боевик"Penerus Alvares itu semakin agresif setelah melihat saudaranya diambang kematian, gue bahkan gak bisa membayangkan apakah ini awal kehancuran atau bersatunya mereka." Sifat Resha benar-benar jiplakan Gibran. Mereka sama-sama mematikan dan Resha mem...
