03 - Keributan Terbaru

479 73 5
                                        


Nama Gibran Melviano sudah tidak asing lagi di telinga anggota geng motor lain. Apalagi ditelinga anak-anak Zhero yang rasanya sudah bosan mendengar nama itu.

Mereka mengakui jika ketua Alvares itu memang sangat ditakuti oleh geng motor lain  karena kemampuannya juga jiwanya yang sangat pendendam.

"Gue bosen tawuran sama geng-geng itu! Menang mulu! Kita butuh lawan yang sepadan nggak sih?" ucap salah satu anak Zhero.

"Alvares maksud Lo?" timpal yang lain.

"Susah njir menang lawan Alvares. Terakhir kali kita menang itu udah lama banget. Gue aja sampai lupa," seru yang lain.

Mereka mengatakan hal itu bukan berarti mereka mengakui jika Alvares lebih hebat dari mereka. Bagi mereka, Zhero tetaplah yang terbaik.

"Pengalaman terburuk gue ketika pertama kali gabung Zhero itu, gue ngira kalau Gibran cuman anggota biasa." ucap Mike. Dia menggeleng sembari tertawa kecil.

"Bisa-bisanya njir!"

"Ya kalau dilihat sepintas, Gibran itu cuman kayak anak biasa yang mukanya polos! Bisa ditipu pakek permen!" jengkel Mike.

Mike rasa, pendapatnya benar dan bisa diterima teman-temannya.

Alex, wakil Zhero itu tertawa mendengar ucapan Mike. "Gue nggak nyalahin lo sih, soalnya muka si Gibran emang se plot twist itu."

"Nah ! Bener kan apa gue bilang!" Mike berujar heboh ketika merasa bahwa Alex membela dirinya.

"Gibran dan Resha itu sama. Mereka emang kelihatan lugu. Wajahnya gak memancarkan kalau mereka anak begajulan tapi kalau kalian nyoba berhadapan sama mereka di lapangan, baru kalian tahu yang sebenarnya." ucap Alex.

...

Dua cowok dengan usia berselisih 12 tahun itu tampak fokus dengan kegiatan mereka sore ini. Resha tengah memberikan minum pada anak-anak ayam barunya sedangkan Gibran hanya menunggu Resha sembari menikmati camilannya.

"Abang! Bantuin Resha dong! Makan mulu." Resha berujar ketus ketika melihat Gibran yang hanya bersantai ria.

"Yang minta dibeliin anak ayam warna-warni siapa?" tanya Gibran.

"Resha."

"Ya udah berarti yang rawat lo," jawab Gibran santai.

Resha merengut tak suka. "Kalau ayamnya udah gedhe, terus bisa digoreng, jangan harap abang bisa makan!"

Gibran tertawa. "Alah palingan tiga hari lagi juga mati itu."

"Lagian anak SMP mana coba yang mintanya dibeliin anak ayam. Noh temen-temen lo pada minta yang lebih berbobot. Gak aneh kayak lo," sambung Gibran.

"Resha kan adik yang baik jadinya mintanya yang gampang-gampang aja."

"Gampang palalu! Kita nyari nih anak ayam sampai kota sebelah!" ketus Gibran sementara Resha hanya tersenyum lebar.

...

Malam ini, mood Gibran benar-benar dibuat hancur sehancur-hancurnya. Cowok itu bahkan duduk di atas meja makan dengan tampangnya yang tertekuk.

Semua ini berawal ketika Geon dan sang kekasih tiba-tiba saja datang kerumahnya dengan alasan rindu dengan Resha. Alasan apa-apaan ini?! Bilang aja ketua Zhero itu sedang caper dengan Resha sekaligus pamer pacar.

"Bang Geon tumben mau kesini?" tanya Resha.

Tentu saja Resha heran karena tidak mungkin sekali kalau Geon datang membawa kedamaian. Kalau duo G itu sampai bertemu, apapun keadaannya mereka pasti akan saling menantang satu sama lain.

"Kangen sama kamu lah," Nesy menjawab pertanyaan Resha. Cewek itu tersenyum manis ketika berbicara dengan Resha. Berbeda dengan Geon yang memasang wajah malasnya. Alasannya hanya satu, Geon malas bertemu Gibran,musuh abadinya.

Resha hanya tersenyum canggung. Sejujurnya, ia cukup tidak nyaman dengan Nesy. Tapi mau bagaimana lagi?

"Aku siapin minum dulu," ucap Resha. Anak itu segera berjalan kearah dapur.

Sebenarnya Resha sudah meminta tolong pada Gibran namun sudah cukup lama ia menunggu, sang kakak tak kunjung kembali.

"Abang ngapain sih duduk di situ? Kurang kerjaan banget." Resha berujar jengkel. Bahkan ia makin jengkel saja rasanya ketika Gibran tidak membuatkan minum untuk tamunya malam ini.

"Dia kan tua umurnya doang, otaknya mah berhenti di umur 15 tahun kayaknya," ucap Geon yang tiba-tiba nongol ke dapur. Entahlah baginya seperti rumah sendiri.

Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Geon benar-benar ingin memulai pertengkaran rupanya.

Gibran yang tengah dalam keadaan tidak mood segera menjawab ucapan rivalnya itu. "Setidaknya otak gue gak hilang separo kayak otak lo!"

"Ngatain gue Lo?!"

"Kalau iya,Lo mau apa?!"

"Anjing Lo ya!"

"Ngaca! Lo juga anjing!"

Resha hanya berkedip polos ngelihat kelakuan dua ketua geng itu. Aneh saja rasanya ngelihat mereka tiba-tiba berantem dengan alasan yang gak jelas. Nggak mungkin banget mereka tiba-tiba bestie.

"Udah sana pulang aja lo,ganggu orang lagi istirahat aja!" usir Gibran. Cowok itu turun dari meja dan berjalan melewati Geon. Tak lupa bahunya ia tabrakkan dengan bahu Geon. Benar-benar khas remaja berebut kekasih.

Sementara itu, ketika Gibran hendak kembali ke kamarnya yang melewati ruang tengah. Cowok itu tidak sengaja bersitatap dengan Nesy,kekasih Geon.

"Eh tunggu!"

Langkah Gibran terhenti, ia menatap Nesy yang kini mendekat dengan senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya.

"Kamu itu pemilik resto yang deket sama taman kota itu kan?" Nesy bertanya antusias dan Gibran hanya mengangguk.

"Oh! pantesan aku kayak pernah lihat kamu di sana, tapi jarang banget. Aku kaget aja ternyata kamu kakaknya Resha."

Gibran mengangguk tak peduli lalu ia kembali membawa langkah kakinya untuk menaiki anak tangga, membiarkan cewek bernama Nesy itu berteriak memperkenalkan diri.

"Aku Nesy!"

Beralih ke dapur, kini Resha menatap jengkel kearah Geon karena gara-gara cowok didepannya ini, kakaknya menjadi tidak mood.

"Apa lo ngeliat gue kayak gitu?" sinis Geon.

"Ya tadi bang Geon tuh nggak seharusnya sinis gitu sama Abangku, kan gimanapun juga ini rumah aku, bang Geon sopan bentar kek sama bang Gibran,"

Geon mendengus kesal namun karena ini titah paduka jadi cowok itu mengangguk dengan senyum terpaksanya, "Iya mol, gue kesini juga ngikutin maunya si Nesy."

...

WITH GIRESHA | GIRESHA 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang