"Abang ! Resha pulang !"
Resha berteriak tanpa mengucap salam terlebih dulu. Anak itu berjalan memasuki rumahnya yang gelap dan tidak melihat tanda-tanda kakaknya menyambut kepulangannya.
Pandangannya menangkap handphone milik kakaknya tergeletak di sofa. "Abang nggak di rumah kayaknya, tapi handphonenya kok ada."
Resha membuka handphone milik kakaknya yang menang ia ketahui password nya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat ada nomor asing yang sebelumnya mengirimkan pesan pada Gibran bahwa dirinya tengah sekarat di dalam gedung tua.
"Anjing! Ini mah bukan gue!"
...
Hari telah berganti menjadi pagi dan kini masih belum ada tanda-tanda ada pertolongan. Geon terus bersikeras mencari bantuan sedangkan Gibran lebih menginginkan mencari jalan kembali ke jalanan
"Kalau kita bisa balik ke jalan besar itu, pasti ada orang yang bisa kita mintai bantuan," usul Gibran.
"Kalau yang kita temuin justru preman?"
"Terus kita ini apa?! Orang baik?! Kita nggak ada bedanya sama preman," sinis Gibran.
Lagi pula Geon ini aneh sekali. Pasti itu karena efek tidur di dekat pemakaman jadi roh jahat masuk ke tubuhnya.
Dua cowok berstatus rival itu kini berjalan melawan arah. Geon mengawali sedangkan Gibran mengekor dibelakang. Sesekali Gibran mencari sesuatu yang sekiranya bisa dimakan,seperti buah-buahan.
"Kayak monyet," sindir Geon ketika melihat Gibran membawa tiga buah pisang di tangannya. Sedangkan yang disindir tidak terima hingga akhirnya kulit pisang itu mendarat sempurna di dahi Geon.
Sembari menikmatinya makanannya, Gibran tanpa sengaja melihat luka milik Geon yang masih terlihat terbuka. Bahkan terkadang masih mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Bruk !
"Apa?!" tanya Geon ketika Gibran melemparkan jaket kulitnya.
"Pakai." ketus Gibran lalu berjalan mendahului ketua Zhero yang masih menatapnya bingung.
"Kenapa gue harus pakai? Ogah gue berbagi apapun sama orang yang udah ngebunuh orang tua gue."
Gibran menoleh ke belakang dengan santai. "Pakai aja njing, setidaknya lo nggak mati di sini. Gue nggak mau jadi tersangka kalau lo sampai mati sekarang."
Geon yang kebetulan merasa lukanya bertambah perih waktu terkena angin, akhirnya memakai jaket milik sang musuh dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
"Gue mau Resha jadi anggota gue."
Langkah Gibran terhenti. Ia berbalik dan menatap Geon yang terlihat begitu serius dengan apa yang ia katakan. "Apa Lo bilang?"
"Resha jadi anggota Zhero." Geon mengulang kembali perkataannya membuat Gibran mendecih. Ketua Alvares itu kini berjalan mendekat dan menarik kerah jaket yang melekat di badan Geon.
"Apa yang ngebuat Lo yakin,hah?" Gibran benar-benar tersulut emosi. Matanya berkilat marah.
"Selama ini, gue yang selalu jagain dia, gue yang selalu ada buat dia," jawab Geon.
Bugh !
Bogeman mentah dari Gibran membuat Geon tersungkur. Ketua Alvares itu benar-benar memiliki kekuatan yang diatas rata-rata. Dengan membabi buta, Gibran terus memberikan pukulan demi pukulan untuk rivalnya hingga Geon berhasil bangkit dan membalikkan keadaan.
Ketua Alvares itu kini terbaring dengan Geon yang berhasil menduduki perutnya. Namun ketika hendak melayangkan tinjunya, Geon mengurungkan niatnya membuat Gibran terheran.
"Kenapa berhenti?!"
Geon tidak menjawab. Ia bangkit lalu membersihkan pakaiannya yang kotor terkena debu lalu berjalan pelan meninggalkan Gibran yang keheranan.
Ada alasan mengapa Geon memutuskan untuk menghentikan apa yang ia lakukan sewaktu berduel tadi dan Geon akan diam seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin itu salahnya juga memancing amarah Gibran.
...
"What! Jadi Gibran nggak di rumah?!" teriak Lucas heboh ketika mendengar kabar dari Resha.
"Lo yakin,Resh?" tanya Umay. Cowok itu masih terus memperhatikan layar percakapan handphone yang menampilkan pesan pada Gibran kemarin.
"Anjir,gue kira kemarin Gibran ngumpet karena gue mau minta es batu, taunya dia nggak di rumah." Lucas berujar heboh membuat anggota geng lain melirik kesal.
Tapi sekesal apapun mereka dengan Lucas, tidak ada juga yang berani dengan cowok itu. Pasalnya, Lucas di kenal sebagai anggota inti yang memiliki badan paling kekar dan tentu kekuatannya yang tidak main-main.
"Kayaknya ini beneran. Gue barusan denger kabar kalau ternyata Geon juga menghilang," jelas Zavran.
Semua anggota kini menatap serius kearah sang wakil ketua.
"Ada dua kemungkinan penyebab hilangnya Gibran. Yang pertama, bisa jadi Gibran ada masalah sama Geon dan yang kedua, bisa jadi Gibran dan Geon dijebak dengan alasan yang sama." Zavran menjelaskan sembari menatap tajam satu persatu anggota Alvares.
"Untuk penyebab yang pertama, gue rasa nggak mungkin karena gue tahu sendiri Gibran nggak pernah menyembunyikan sesuatu hal yang menyangkut masalah geng. Jadi, gue yakin kalau ini ada di opsi kedua yaitu mereka berdua dijebak oleh orang yang sama dengan mengatasnamakan Resha. Karena siapapun tahu kalau mereka dekat sama Resha," sambung Zavran.
"Dan Lo, tadi malam kemana?" tanya Zavran sembari menatap tajam kearah Resha.
"Aku kerja kelompok di rumah Baim. Tapi selesainya kesorean jadi aku disuruh nginep karena itu juga hari terakhir keluarga Baim di sini karena mereka mau pindah ke Bali." jelas Resha.
"Iya, Resha udah nge-chat Gibran jam 16.10 dimana jam ini Gibran pasti udah ke tempat yang ada di pesan itu," ucap Umay. Cowok itu mencocokkan antara jam masuk pesan Resha dan nomer tak di kenal itu.
"Seseorang yang gue curigai itu temen Lo,Baim." celutuk Lucas tiba-tiba.
Siapa dalang dibalik masalah ini?
Baim? Atau....... siapa ya?
Btw Resha setiap ngomong sama anggota Alvares emang pakai kata (aku) soalnya dia kn masih kecil,masih kiyowoooo🥺
KAMU SEDANG MEMBACA
WITH GIRESHA | GIRESHA 2
Action"Penerus Alvares itu semakin agresif setelah melihat saudaranya diambang kematian, gue bahkan gak bisa membayangkan apakah ini awal kehancuran atau bersatunya mereka." Sifat Resha benar-benar jiplakan Gibran. Mereka sama-sama mematikan dan Resha mem...
