47. Semua Terjadi Karena Aku

1K 45 0
                                        

"Ayah dari anak yang kamu kandung adalah keturunan suku cahaya, suku cahaya memang sudah lama kehilangan kekuatannya, tapi bukan berarti mereka telah punah." Ji ya terdiam seribu bahasa, ia tidak pernah menyangka kaisar xiao adalah seorang keturunan suku cahaya.

"Mungkin suku kegelapan saat ini mencari keberadaanmu, untuk melindungi mu dari kematian. Karena jika kamu mati sebelum gerhana matahari maka usaha mereka akan sia-sia, sang pembawa petaka harus hidup sampai dewi cahaya menjatuhkan kembali murkanya di dunia ini untuk kedua kalinya."

Dengan cepat ji ya menyela, ia merasa ada yang aneh disini. "Jika mereka ingin melindungiku dari kematian, kenapa mereka ingin membunuhku?"

Sang nenek malah tersenyum.

"Mereka bukan mau membunuhmu nak, tapi membunuh apa yang ada di perutmu. Anak yang kamu kandung itu memiliki kekuatan cahaya yang besar, karena kamu adalah sang pembawa petaka, maka kamu mampu membangkitkan kembali kekuatan suku cahaya yang telah lama hilang. Bahkan kekuatan anakmu itu kelak dapat menyaingi kekuatan dewi cahaya. Dewi cahaya tentu tidak akan mau ada manusia yang menyaingi kekuatan miliknya. Meskipun dia dewi, dia tetap seorang pecemburu."

Nenek tua itu lantas menutup buku usang ditangannya, lalu berjalan meninggalkan ji ya yang masih penuh dengan tanda tanya besar dalam kepalanya.

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku... Tidak mau petaka dan bencana itu terulang kembali." Lirih ji ya yang tiba-tiba teringat dengan keluarga putri agung han ji ya.

Meski hanya sebentar mereka bertemu, namun kenangan indah yang mereka tinggalkan begitu membekas dalam hidup ji ya yang bukan siapa-siapanya mereka.

Ji ya tidak tega apabila mereka merasakan bencana yang datang karena dirinya. Guan jian dan raja han mereka pantas bahagia, terlepas dari semua yang telah terjadi, ibu kandung putri agung han ji ya yang mati karena rencana penyihir jahat yang ingin mendatangkan jiwa ji ya dari masa depan.

Mengapa semuanya terasa semakin berat ketika ia telah mengetahui segalanya? Semenjak kedatangannya ke zaman ini, ji ya telah mengorbankan 2 nyawa tanpa ia sadari.

Ibu kandung putri agung han ji ya dan putri agung han ji ya itu sendiri, mereka telah menjadi pion dalam rencana licik penyihir dari suku kegelapan. Dengan melenyapkan kedua orang itu, akhirnya jiwa ji ya yang berada dari masa depan datang ke zaman ini sebagai hasil dari mengorbankan orang-orang tak bersalah.

Ryu an, ayah angkatnya yang baik hati, bagaimana perasaannya ketika tahu pujaan hatinya telah tiada karena kehadiran ji ya dari masa depan.

Xixi pelayan kecil yang selalu bersama dengannya dulu, pelayan polos dan baik hati, juga tidak lebih dari kaki tangan penyihir untuk memuluskan rencana yang sudah mereka rencanakan sejak lama.

Tubuh ji ya bergetar saat air matanya luruh, dadanya terasa sesak seolah ada benda tumpul yang menahan dirinya untuk bernapas.

Untuk pertama kalinya ji ya menangis...

Sejak ia datang pertama kali di dunia ini, ji ya tidak pernah benar-benar menangis karena sedih, tapi kali ini hatinya terasa sakit.

Dulu, ji ya tidak pernah sesedih ini untuk apapun yang terjadi, air matanya tidak pernah terjatuh jika bukan untuk sesuatu yang menguntungkan baginya. Tapi kali ini seluruh perasaannya bercampur padu, menciptakan rasa sesak di setiap tarikan napasnya.

Ji ya selalu merasa dirinya bisa melewati semuanya sendirian, ia sangat percaya diri dengan kepintaran serta kelicikannya selama ini. Nyatanya dia sudah kalah telak semenjak pertama kali sadar berada di tubuh putri agung han ji ya.

"Kenapa mereka menarik jiwaku kemari? Bukankah itu akan membawa bencana? Apa mereka tidak takut mati..."
Mata ji ya yang sudah memerah menatap kosong dinding di depannya.

"Mereka tidak takut mati nak, mereka hanya tidak ingin mati sendirian. Semenjak murka dewi cahaya jatuh untuk pertama kalinya, suku kegelapan yang tersisa telah menyematkan dendam yang terdalam di hati mereka, untuk menghancurkan suku bumi yang sudah menghasut mereka." Sahut nenek tua itu yang datang kembali sambil membawa sebuah sebilah belati panjang yang tersarung dengan baik.

Perlahan ia menggapai tangan ji ya dan memberikan belati itu kepadanya.

"Sejak awal, di zamanmu kamu sudah terpilih sebagai sang pembawa petaka. Apa kamu ingat hal apa yang terjadi sebelum kamu tersadar bahwa kamu berada disini?"

Ji ya kembali menerawang kejadian yang membuatnya tiba-tiba berada di zaman ini.

"Aku ingat, aku didorong oleh seorang pria karena aku menegurnya yang pacaran di sembarang tempat!" Seru ji ya yang kembali teringat sepasang kekasih tidak tahu malu yang memadu kasih di dekatnya waktu itu.

Sang nenek terkekeh samar.
"Benar, pria itu adalah pria yang sama yang mengejarmu saat ini. Dia adalah penyihir dari suku kegelapan, kamu tidak lupa bukan? Suku kegelapan memiliki kekuatan dimensi, meski harus mengorbankan banyak hal bukan tidak mungkin dia muncul di zamanmu."

Benar, rasanya semua yang ji ya pikir kebetulan itu bukan kebetulan semata. Semuanya sudah terencana dengan baik bahkan semua yang terjadi adalah sandiwara, yang membuat ji ya terlena di zaman ini.

Mendadak rasa sedih ji ya menjadi amarah yang menggebu-gebu.
"Akan aku kuliti pria itu jika aku bertemu lagi dengannya! Penyihir sialan itu sudah membuat hidupku seperti ini, dia harus bertanggung jawab dengan semua ini!"

Namun, perlahan wajah ji ya menjadi sendu. Memangnya ia bisa apa kalau pria penyihir itu datang lagi? Ji ya hanya manusia biasa dari zaman modern yang tidak bisa sihir atau apapun itu.

"Lalu aku harus apa nek? Aku, tidak mau bencana terjadi. Aku tidak mau keluarga dari tubuh yang aku tempati ini terkena dampak karena kehadiranku yang seorang pembawa petaka ini." Ji ya berkata dengan lemah. Ia tak ingin orang-orang baik yang selama ini ia temui ikut menjadi korban akibat rencana jahat seseorang pendendam.

"Mudah saja, kamu hanya perlu mati sebelum gerhana matahari, dan bencana itu tidak akan terjadi."

Ucapan nenek tua itu lantas menutup rapat mulut ji ya, ia tidak menyangka satu-satunya jalan yang harus dia tempuh adalah kematian.

Mata ji ya akhirnya menatap perut buncitnya, kehamilan yang sudah berjalan 6 bulan ini. Jika ji ya mati, bukankah anaknya juga akan mati? Apakah ji ya harus mengorbankan satu nyawa lagi kali ini?

Tidak, ji ya sama sekali tidak takut mati. Tapi, anaknya tidak bersalah sama sekali, mengapa ia juga harus menanggung masalah ini juga?

"Anakmu tidak akan mati nak, belati ini kamu hanya perlu menusuknya di jantungmu. Sang pembawa petaka adalah jiwamu, bukan tubuh yang kamu gunakan sekarang. Belati ini tidak akan membuat tubuh ini mati, ia hanya akan membuat jiwamu terlepas darinya. Aku dapat menjaminnya nak, setelah jiwamu pergi tubuh ini akan tetap hidup meski tanpa jiwa, itu adalah waktu yang cukup sampai anak ini lahir."

Ji ya lantas terdiam, ia mulai menatap belati di tangannya dengan dalam.

"Nenek yakin, bahwa anakku tidak akan mati?" Ji ya bertanya dengan tatapan tajam penuh tekad.

"Sangat yakin, kamu hanya perlu menusuk jantungmu dengan belati itu, usahakan jangan terlalu dalam agar tidak terjadi pendarahan dan tubuh itu akan tetap hidup bahkan dengan di obati sedikit saja." Jelas sang nenek tua itu.

Mata ji ya berkilat penuh tekad yang mengakar teguh dalam hatinya.

"Baiklah, aku akan melakukannya."

Bersambung.

Satu chapter menuju ending.

Gas scroll lagi, dah mau tamat ni.

Btw, 3 chapter ini izel buat dalam satu hari😌

Permaisuri Licik (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang