Extra Chapter (2)

1.1K 54 3
                                        

"Ji ya, hey mengapa kau melamun?" panggilan bernada kesal itu sontak membuat sang pemilik nama sedikit tersentak dari lamunannya.

Dengan wajah linglung, ji ya menoleh ke arah teman semasa sekolah menengah atas nya itu. Perempuan sipit keturunan korea itu menggembungkan pipinya seolah menunjukan kekesalannya secara terang-terangan kepada ji ya. Da Hyun namanya, ia adalah sahabat sehati ji ya, yang sama-sama memiliki otak cemerlang langganan ranking tinggi di sekolah.

Da Hyun melipat tangannya di dada sembari terus menatap tajam, ji ya yang tampak masih bingung dengan perilaku sahabat yang ngambek itu hanya bisa terdiam berusaha mengingat apakah ia melakukan kesalahan.

"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? kau selalu melamun, aku sudah berbicara panjang lebar sejak tadi tetapi kau malah sibuk dengan pikiranmu sendiri. Lalu untuk apa kita bertemu hah?!" Ji ya meringis pelan mendengar omelan Da Hyun yang memekakan telinga.

"Maaf, ada banyak hal yang selalu menggangu pikiranku akhir-akhir ini." lirih ji ya, yang membuat Da Hyun seketika merasa khawatir, tidak biasanya sahabatnya ini menjadi uring-uringan seperti ini, seperti orang yang baru saja di ditinggalkan kekasih. Akan tetapi, setahu Da Hyun sahabatnya ini sama sekali tidak tertarik untuk menjalani sebuah hubungan romantis.

"Masalah apa yang sedang kau pikirkan? ceritakanlah padaku, siapa tahu aku bisa membantu daripada kau terus melamun seperti itu, bisa-bisa kau gila sendiri."

Ji ya tersenyum kecil, lalu menggenggam tangan Da Hyun erat.
"Kau tahu? Aku bermimpi memiliki suami tampan bahkan memiliki anak dengannya."

Ucapan Ji ya sukses membuat Da Hyun melongo, seorang Ji ya yang selalu memikirkan karir di masa depan dibanding menjalin hubungan romantis, tiba-tiba berbicara tentang suami? bahkan anak? Apakah ia sedang demam? atau kerasukan Cupid?

Da Hyun lantas memeriksa kening ji ya, "Tidak panas, tapi kenapa ucapannya tiba-tiba melantur seperti ini? perasaan aku tidak memesan alkohol juga?"

Wajah Ji ya langsung berubah sinis, bisa-bisanya ia di bilang demam bahkan mabuk oleh sahabatnya sendiri.

"Kan sudah aku katakan kalau aku bermimpi, itu cuma mimpi jadi jangan anggap aku tidak logis seperti itu. Memangnya kau tidak pernah melewati masa puber? Wajar kan memikirkan sesuatu hal yang berbau romansa."

Da hyun hanya mengangguk pelan dengan senyum mencurigakan di wajahnya.

"Yah itu wajar bila orang lain merasakannya, kalau kau yang merasakannya barulah tidak wajar. Melihat orang pacaran saja kau seperti akan sekarat saat itu juga, apalagi tiba-tiba bermimpi memiliki suami bahkan anak, apakah dunia dekat lagi kiamat?" Tutur Da hyun dramatis yang semakin membuat ji ya kesal.

Ji ya mengangkat tangannya dan menampilkan jari tengahnya kepada Da hyun, sedangkan Da hyun tertawa terpingkal-pingkal setelah berhasil mempermainkan perasaan sahabatnya itu.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dari membuat sahabat tercinta kesal setengah mati, benar bukan?

"Tapi aku serius, mimpi itu benar-benar terasa amat nyata bagiku. Bahkan aku masih dapat mengingat tiap detail mimpi itu, walaupun harus berakhir begitu menyedihkan." Ji ya mulai menyeruput kopi miliknya diatas meja, wajahnya tampak murung dan jelas itu semakin menarik rasa penasaran dari diri Da hyun.

Tidak biasanya ji ya memikirkan sesuatu hal sampai membuatnya melibatkan perasaan sedalam itu.

Da hyun tersenyum tipis sambil melipat tanganya di dada. "Memangnya mimpi seperti apa yang membuat sahabatku yang hatinya beku tiba-tiba layu seperti ini?"

"Entahlah aku juga bingung harus menceritakannya dari mana. Tapi apa kau ingat 2 minggu lalu aku sempat pingsan di jalanan waktu itu?" Da hyun tampak berpikir sejenak lalu menangguk.

"Itu benar-benar berita besar, aku sampai kaget karena wajahmu terpampang di media sosial dan viral, kenapa bisa kau pingsan tiba-tiba begitu, padahal aku lihat di videonya kamu hanya didorong biasa."

Ingatan Da hyun kembali mengingat kejadian 2 minggu lalu, dimana ia tidak sengaja melihat video viral yang ternyata adalah ji ya yang sempat bertengkar dengan sepasang kekasih dan tiba-tiba pingsan saat di dorong oleh orang yang bertengkar dengannya.

"Itu dia masalahnya!" Seru ji ya sambil menggebrak meja membuat semua mata disana tertuju kepada mereka berdua.

Da hyun meringis pelan dan meminta maaf kepada pengunjung lain. Ji ya benar-benar suka membuat masalah di publik, Da hyun tidak habis pikir dengan kelakuan random sahabatnya ini.

"Aku tahu kau bersemangat, tapi jangan membuat kita jadi bahan gunjingan orang." Tegur Da hyun yang hanya mendapat balasan wajah jutek ji ya.

"Memangnya apa hubungan kejadian 2 minggu lalu dengan mimpi anehmu itu?"

Ji ya menghela napas keras dan kembali menyeruput kopinya yang nyaris tumpah tadi.

"Aku bermimpi masuk ke zaman kuno karena kejadian itu! Dan kau tahu apa yang lebih parahnya? Aku jadi selir! S.E.L.I.R kau tahu?! Mau taruh dimana wajah cantikku ini? Perempuan cantik sepertiku menjadi selir yang disiapkan untuk Kaisar bajingan, tapi sayangnya dia tampan."

Oke, Da hyun menyerah sekarang. Sahabatnya ini sepertinya terdeteksi stress berat, akan lebih baik dibawa ke psikiater secepat mungkin sebelum semakin tidak terkendali.

Selain tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi, imajinasi ji ya juga tampaknya terlalu tinggi sehingga ucapannya melantur, apakah ini efek dari otak yang terlalu jenius?

"Mau ikut aku ke psikiater setelah ini?" Tanya Da hyun yang langsung di hadiahi sentilan maut ji ya.

"Aku tahu, kau pasti tidak akan percaya. Tapi itulah yang aku alami, kau tidak tahu betapa frustasi nya aku disana. Seolah hidupku selalu di ujung tanduk, kalau tidak mati sebagai tumbal bagi kaisar bajingan itu, ya mati sebagai pembawa petaka."

Da hyun mengelus dahi nya yang panas karena di sentil ji ya. "Itu hanya mimpi ji ya, mengapa kau terlalu memikirkan hal abnormal seperti itu? Lebih baik kita melakukan hal yang membuat gembira, misalnya menonton konser atau pergi ke event cosplay. Disana akan lebih banyak pria tampan daripada yang ada di mimpimu itu."

Ji ya kembali mendengus, "Tetap saja, vibes nya beda. Meskipun sifatnya seperti bajingan, dia tetap pria kuno yang tampan." Gumam ji ya dengan nada pelan nyaris tak terdengar.

Tapi Da hyun masih dapat mendengar gumaman ji ya lalu meledeknya.

"Omo~ sejak kapan sahabatku jadi penyuka red flag seperti ini, kau berniat menjadi masokis? Hahahaha..."

Tawa Da hyun meledak dan membuat wajah ji ya semakin menghitam karena kesal. Ji ya bahkan sudah bersiap ingin mencubit perut ramping sahabatnya itu agar berhenti tertawa, tetapi belum sempat ji ya melakukannya.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang, aroma parfum yang begitu segar dan mahal langsung semerebak dalam penciuman ji ya.

"Ho~ jadi istri licik ku ini suka di kasari kah?" Suara berat yang khas itu lantas membuat tubuh ji ya membeku sesaat dan jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

Sedangkan di depannya, Da hyun yang tertawa langsung terdiam dan menatap ji ya kebingungan.

"Dia siapa ji ya? Kau punya pacar?"

Sedangkan ji ya bahkan tidak bisa berbicara sepatah kata pun, tubuhnya mendadak kaku.

"Aku suaminya, namaku Xiao Xi Ang. Salam kenal temannya ji ya." Ucap orang itu lagi dan kali ini ji ya benar di buat lemas setelah mendengar nama yang membuatnya uring-uringan 2 minggu ini.

Mata ji ya mendadak gelap dan tubuhnya merosot lemah dari kursi, ji ya langsung tidak sadarkan diri.

'Dia benar-benar kembali?'

Bersambung.

Chapter berikutnya barulah ending extra chapter ya guys.

Ayo absen, siapa yang masih nungguin cerita ini? Btw izel agak telat upnya ya? Hahaha izel lagi sibuk skripsian guys, makanya harus bagi waktu buat ngetik cerita sama ngetik skripsi😌

Permaisuri Licik (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang