Extra Chapter (3) END

2K 83 1
                                        

~Terkadang kita merasa dunia terlalu kejam, nyatanya waktu kebahagiaan kita bukan tidak ada, tetapi hanya sedikit... Tertunda~

"Mama, kupersembahkan nyawa orang-orang biadap ini kepadamu, mereka yang sudah membuatmu pergi dariku dan papa. Bahkan darah mereka yang tertumpah tidak sebanding dengan kesakitanmu..." Seorang remaja laki-laki mengangkat tinggi-tinggi sebuah kepala yang baru saja ia penggal.

Senyum manis dari wajahnya yang rupawan terlihat begitu menyeramkan dengan percikan darah yang menodai wajah itu. Dengan tak berperasaan ia melempar kepala itu sembarangan dan kemudian duduk di atas altar batu sambil bersenandung kecil.

"Mama, bagaimana keadaanmu disana sekarang? Aku merindukanmu... Aku ingin tahu bagaimana rasanya dipeluk olehmu, seperti anak lainnya." Pemuda itu kembali tersenyum meski air mata mulai menetes dari sudut matanya.

"Papa mulai menggila, semenjak mama pergi. Kalau mama kembali ke sini, pasti mama tidak akan mengenali wilayah Kekaisaran lagi, semuanya hangus tak bersisa, bahkan kerajaan lain tidak luput dari kegilaan pak tua itu." Remaja itu kembali terkekeh seolah mengingat hal lucu.

Ia kemudian bangun dari duduknya dan menatap langit yang terlihat kelabu.

"Mama, jika ada kehidupan selanjutnya, izinkan aku menjadi anakmu lagi... Aku akan menjadi anak yang patuh, aku berjanji." Remaja itu kemudian menarik pedang yang terlampir di pinggangnya dan menariknya dari sarung. Suara gesekkan logam terdengar nyaring di tempat sunyi itu.

Perlahan tatapannya yang tajam itu memperhatikan bilah pedang dan mengelusnya pelan dengan jarinya.

"Mama, izinkan aku untuk menemuimu."

Dengan gerakan perlahan remaja itu menempelkan ujung pedang kedadanya dan dalam sekali hentakan pedang tajam itu menembus jantungnya.

Darah mengucur dan langkahnya mulai goyah, dengan gemetar ia mencoba tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.

"Aku pulang, mama..."

*****

Di tempat lain.

Seorang pria paruh baya dengan jubah kebesarannya tampak jatuh berlutut di lautan api, di sekelilingnya hanya terlihat puing-puing bangunan yang runtuh dan mayat manusia yang bergelimpangan tak tentu arah.

Aroma anyir darah seolah ia tidak perdulikan lagi, pria itu menatap langit dengan wajah datarnya.

"Dia sudah pulang... Jadi dia lebih memilih meninggalkan aku duluan? Dasar anak durhaka!" Desis pria itu tampak kesal.

Ia menarik napas yang terasa tipis di sekitarnya, dengan sisa-sisa kekuatannya ia berdiri dengan pedang berbalut darah kering sebagai penopangnya.

"Lihatlah ji ya, kau memilih pergi. Apa kau tidak tahu kalau merawat anak begitu sulit? Dan kau malah meninggalkan dia kepadaku, dia sangat keras kepala dan juga licik sepertimu. Tapi dia anak yang baik, aku tidak bisa mengaturnya, dia hanya ingin kamu ada disini." Pria itu tersenyum tipis.

Rambut panjangnya berantakan bercampur debu dan darah, bahkan rambut-rambut halus tumbuh tak terawat di wajahnya. Pria itu kemudia berjalan dengan sempoyongan tanpa perduli langkahnya yang menginjak sisa-sisa manusia yang sudah tak utuh.

Permaisuri Licik (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang