Epilog

9.9K 304 35
                                        

Pembaca, kusarankan putar lagu Sal Priadi - Dari Planet Lain sambil menggulir halaman Epilog. Putarlah beberapa kali. Selamat membaca!!!

~~~

Sepuluh minggu berlalu sejak Mikael memutuskan menghilang dari keluarganya dan tak melakukan apa-apa di tempat persembunyiannya, gudang rumah Pak Ardaad. sehari-hari Mikael hanya makan, tidur, dan ke rumah utama pak Ardaad untuk menumpang kamar mandi.

Pak Ardaad menerimanya dengan baik, Mikael sudah bercerita tentang hidupnya sejak minggu keduanya menempati gudang itu, Pak Ardaad dan Pak Aryo tak menghakiminya sedikit pun meskipun nasehat-nasehat yang keduanya berikan sepertinya tak masuk ke dalam kepala Mikael.

Tapi, sikap Mikael yang demikian tak membuat Pak Ardaad memperlakukannya berbeda. Mikael tetap dirawat dengan baik, dengan manusiawi.

"Status korban kecelakaan kamu diubah polisi menjadi orang hilang, dari berita katanya korban kecelakaan mungkin diselamatkan oleh seseorang karena dari pecahan kaca mobil yang tersebar di dalam mobil menunjukkan kaca mobil dipecahkan dari luar dan tak ditemukan mayat meskipun tim sar sudah menyusuri sungai selama ini. Kamu sedang dicari polisi, masih belum ingin kembali?" Pak Ardaad melirik sajadah dan sarung di kursi yang ia letakkan seminggu lalu, tak ada posisi yang berubah, itu artinya Mikael masih tak melakukan sholat, setiap minggu Ardaad rutin mengganti sajadah dan sarung meskipun Mikael tak menyentuhnya sama sekali.

Mikael menggeleng. Pak Ardaad meletakkan koran baru di meja, di antara buku panduan sholat dan buku-buku ketuhanan yang tampaknya sudah mulai dibaca Mikael.

"Lusa saya ke pasar dengan Pak Aryo, apa ada keperluan lain yang kamu butuhkan? nanti saya bawakan."

Mikael menatap pakaiannya, kaos dan celana panjang yang dibelikan Pak Ardaad di pasar untuknya, ada beberapa pasang lagi di lemari. Mikael hanya punya sehelai pakaian saat diselamatkan, ponsel dan dompetnya pun tinggal di dalam mobil pada saat kecelakaan. Ia tak punya uang sepeser pun dan tak punya kartu identitas. Bahkan jika punya kartu ATM, Mikael juga tak akan memakainya karena pasti transaksinya akan terbaca dan polisi mudah menemukannya. Mikael sepenuhnya menjadi beban baru bagi Pak Ardaad, bahkan laki-laki itu tak menelpon Agil meskipun Pak Ardaad memberikannya ponsel tua, ponsel bekas yang dibeli di pasar untuk komunikasi keduanya.

Mikael menggeleng lagi.

Pak Ardaad menarik kursi lalu duduk menghadap Mikael yang duduk di tempat tidur.

"Tidak baik hidup di masa lalu terus-terusan, Mikael. Kamu bilang ibumu berubah lebih baik, bukankah kamu harus hidup juga di masa sekarang?"

Tak ada jawaban.

"Tidak banyak orang tua yang menyadari kesalahan terhadap anaknya dan meminta maaf, saya yakin ibu kamu benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu yang berdampak pada hubungan kalian saat ini,"

"Di hati yang dingin itu, usahakan buka ruang maaf untuk ibumu, perlahan-lahan saja. Saya tau kamu sangat terluka, saya juga tidak pernah mendukung psrselingkuhan. Tapi menerima keadaan dan menerima ibumu lagi, mungkin itu bisa mengembalikan kasih sayang yang dulunya kamu rasa hilang. Ini bukan untuk ibumu, tapi untuk kamu, Mikael."

"Saya yakin ibumu menyayangi kamu. Sesekali kalau kamu berkenan, lihatlah penyesalannya sebagai cinta, jangan sebagai rasa bersalahnya. Masa lalu keluargamu memang tidak bisa diubah tapi kamu punya kuasa untuk menentukan sampai mana masa lalu itu mempengaruhi. Kamu yang bisa menghentikannya karena semuanya tersimpan di kepala dan hati kamu."

"Rasa sayang itu bisa saja masih ada dan tertimbun di antara begitu banyak kebencian, alih-alih menimbunnya lagi hingga mati, bukan kah ada baiknya menggeser kebencian itu perlahan-lahan dan melihat apakah rasa sayang itu masih bisa diselamatkan? jika bisa diselamatkan, keputusan ada di kamu apakah ingin menyelamatkan atau tidak. Kemarahan kamu, kekecewaan kamu, keputusan kamu untuk menghilang, saya pikir kamu sebenarnya ingin menemukan rasa sayang itu lagi di hati kamu dan menyakinkan diri bahwa ibu kamu tetap ibu yang berusaha menjadi lebih baik untuk kamu anak sulungnya, orang yang menempati rahimnya untuk pertama kali."

Tsabiya [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang