Setelah tiga minggu di rumah sakit, akhirnya bayi Tsabiya bisa dipulangkan ke rumah dalam keadaan yang sudah sangat baik. Tsabiya bersyukur doa-doanya dikabulkan dan anaknya perlahan sehat.
Rumahnya sedang ramai, ada Mikaila, mertuanya, ada Agil juga. Mereka semua sedang berkumpul mengitari bayi mungil yang diberi nama Tsavir Haitar Migantara. Nama yang Mikael ajukan ke Tsabiya dan pakai inisial Tsabiya untuk anak laki-laki mereka. Untungnya, Tsabiya setuju dan suka.
Tsavir tertidur pulas di ruang tengah rumah sederhana peninggalan orangtua Tsabiya. Mikael sudah dipastikan tidak jauh-jauh dari anaknya. Mikael selalu duduk dan memperhatikan dengan kagum bayi mungilnya bernapas meskipun Tsabiya kini tidak menggubrisnya dengan serius. Tsabiya tidak peduli pada kehadiran Mikael setelah kejadian bertemu Om Odi di rumah sakit. Bicara asal perlu dan ogah-ogahan.
Sementara di ruang tengah rumah ada yang berkumpul, Tsabiya mengambil kesempatan masuk ke dalam kamar untuk memompa asi. Selama tiga minggu, Tsabiya punya masalah dengan ASI yang sulit keluar alias sedikit. Meski sudah mencoba beberapa cara yang dianjurkan dokter dan mertuanya, tampaknya belum ada yang berhasil juga.
Tsabiya membuang napas jenuh memandangi botol susu yang hanya terisi sedikit ASI setelah dipompa barusan.
"Biya?" Mikael muncul di pintu membuat Tsabiya terkejut dan langsung mengancing bajunya.
Tsabiya tak menjawab, Mikael memilih menghampirinya.
"Habis pompa ASI?" tanyanya basa-basi.
"Masih sedikit," jawab Tsabiya sekenanya.
"Tidak apa-apa, Biya. Dokter bilang normal karena kamu melahirkan prematur ditambah lagi bayi kita belum pernah menyusu ke kamu sama sekali. Pasti butuh waktu juga, jangan merasa tertekan."
"Tapi aku pengen kasih Tsavir ASI," dumelnya lagi.
"Saya paham. Untuk sementara biar Tsavir minum susu formula, itu juga bagus. Bengkak ya? Coba lihat!"
Tsabiya menepis cepat tangan Mikael yang hendak menyentuh kancing bajunya.
"Apa sih, El? Nggak mau!" sungutnya langsung.
"Kenapa? Kenapa tidak boleh? Saya suami kamu, Tsabiya. Saya mau tau kondisi kamu."
"Nggak bengkak dan nggak mau. Aku nggak nyaman dekat-dekat sama kamu," jawab Tsabiya tegas.
"Dulu kamu tidak mau lepas dari saya. Kenapa sekarang jadi tidak nyaman sama saya?" Mikael heran.
"Nggak tau, mungkin dulu bawaan bayi, sekarang bayinya udah lahir jadi udah normal lagi. Kayaknya aku emang nggak suka sama kamu, cuma pas hamil itu pengaruh bayi aja,"
Mikael menghela napas, "Bilang saja kamu mau jauh-jauh dari saya, sejak pulang dari rumah sakit kamu tidak mau saya tidur di kasur yang sama dengan kamu, kamu tidak minta bantuan apa pun ke saya padahal kesulitan duduk dan berdiri setelah melahirkan kemarin."
"Tumben peka," desis Tsabiya bangkit dari duduknya.
"Tsabi---" Mikael menahan tangan Tsabiya saat perempuan itu melangkah. Tanpa sengaja, ASI dalam botol yang belum ditutup Tsabiya tumpah ke lantai membuat keduanya sama-sama terkejut. Ucapan Mikael terpotong saking tak menduga akan seperti ini kejadiannya.
Tsabiya menatapnya kesal.
"Kenapa sih, El. Ganggu terus! Lihat ASI-nya tumpah kan? ASI-ku cuma dikit, pompanya lama sambil nahan sakit juga! Malah terbuang percuma sekarang!" Kilat marah terlihat jelas di mata Tsabiya. Kekesalannya memuncak melihat ASI-nya terbuang sia-sia di lantai.
"Biya, saya nggak sengaja. Maaf seharusnya saya lebih hati-hati," Mikael merasa bersalah. Usaha Tsabiya memompa ASI berakhir seperti itu karena dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsabiya [End]
RomanceApa yang terjadi ketika Tsabiya tiba-tiba dilamar oleh seorang laki-laki yang baru sekali ia temui di hari duka kematian ayahnya? Apakah mungkin ada pernikahan tanpa cinta? Apakah Tsabiya akan menerima atau tetap memilih hidup sebatang kara tanpa or...
![Tsabiya [End]](https://img.wattpad.com/cover/174824327-64-k840208.jpg)