Titik lemah

6K 229 5
                                        

Rumah sakit terasa sesak bagi Mikael karena langit-langit yang lebih rendah dari langit-langit rumahnya. Namun tentu bukan itu masalah besarnya. Masalah besarnya adalah kejadian yang menimpa Tsabiya membuat kandungannya dalam bahaya.  Mikael baru saja menyetujui proses operasi darurat untuk Tsabiya karena pendarahan hebat yang dialami. Bayi mereka akan lahir prematur dalam usia kandungan di bawah 36 minggu. Tidak ada pilihan lain bagi Mikael selain mengambil keputusan cepat dan tidak bisa menunggu lama atau nyawa bayi taruhannya. 

Operasi baru saja berlangsung dan Mikael menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Tsabiya tak bicara sepatah katapun sejak insiden itu hingga dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Mikael yakin kalau Tsabiya pasti kecewa dengan semua kenyataan yang dilihatnya. Sesuatu yang tidak seharusnya menjadi awal dari hubungan keduanya malah terjadi karena ide aneh Mikael. 

Sekarang Tsabiya bahkan tidak memaafkannya, tidak menatap matanya dan bahkan tidak merespon apapun yang Mikael katakan saat membawanya ke rumah sakit. Mikael seperti dibiarkan untuk merasa panik sendirian secara terang-terangan sedangkan Tsabiya dalam diamnya memohon keselamatan.

Mikael menghubungi Agil untuk mengabari orang di rumahnya. Setelahnya duduk kembali di kursi tunggu dengan hati tidak tenang. Mikael meletakkan ponsel di sebelahnya namun tal sengaja menekan galeri dan terlihat  tampilan kecil wajah Tsabiya di sana.

Mikael menatap ponselnya penasaran. Ia menggulir layar dan terlihatlah beberapa foto selfie Tsabiya yang tersenyum cantik di ponselnya. Dahi Mikael mengerut.  Saat mengecek tanggal foto diambil , dirinya sadar itu malam saat Mikael mengakui perasaannya0 pada Tsabiya.

Mikael menatap ponselnya lama. Penyesalannya semakin kuat terasa menyergap dirinya sendiri mengingat kondisi Tsabiya dalam bahaya. Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya selain berdoa.

satu jam berlalu menunggu Tsabiya dioperasi dengan perasaan tidak tenang. Akhirnya operasi selesai dan dokter keluar dari ruang operasi.

"Ibu Tsabiya dan bayi sudah berhasil di operasi. Anaknya laki-laki. Kita tinggal tunggu pemulihan. Untuk sementara bayi harus kami tempatkan di inkubator, Pak. Nanti kondisinya akan terus kita pantau mengingat kondisinya yang prematur."

"Terima kasih dokter." Mikael sedikit lega, keduanya baik-baik saja meskipun anaknya harus berada dalam inkubator untuk menjalani perawatan. Mikael berharap semuanya berjalan lancar hingga akhir.

***

Mikael menatap bayi di dalam inkubator itu dengan penuh haru. Sulit percaya bahwa sekarang dirinya adalah seorang ayah. Laki-laki yang dulunya anti pernikahan sekarang malah punya keturunan.

Baru beberapa saat lahir ke dunia, Mikael sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada bayi mungil di hadapannya. Anak laki-laki, anaknya dan Tsabiya.

"Semoga cepat sehat ya, Papa tunggu." Mikael bahkan tidak bisa menyentuh anaknya saat ini.  Rasa penyesalan yang cukup besar menghantuinya, untung saja bayinya dan Tsabiya selamat.  Mikael hanya bisa melihat dari luar kaca inkubator. Bayi mungil yang lahir belum waktunya sedang berusaha baik-baik saja di dalam sana.

Kakinya dibawa melangkah ke kamar Tsabiya dirawat setelah operasi. Tsabiya sedang tidur, wajahnya terlihat begitu lelah melalui proses operasi. Mikael ingin memeluknya tapi Tsabiya pasti akan marah-marah ketika sadar nanti.

berjam-jam Mikael habiskan untuk duduk dan menunggu. Matanya tak luput memperhatikan wajah Tsabiya. Wajah yang selalu ingin memandang Mikael selama ini. Mikael hanya bisa mengecup kening Tsabiya sebelum perempuan itu bergerak dan membuka mata barusan.

"Kamu sudah bangun?" tanya Mikael senang Tsabiya siuman.

"Mana bayinya?" tanya Tsabiya kecarian menatap seluruh isi kamar yang sedang dihuni tapi hanya ada Mikael.

Tsabiya [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang