Hati ke Hati

6.8K 208 10
                                        

"Nggak semudah itu, Bapak Mikael Rashan Migantara,"

Mikael tidak bisa menahan senyum ketika Tsabiya mengeluarkan lidah dan mengejeknya.

"Tsabiya tolong obati luka saya," pintanya tiba-tiba memegangi pelipis.

Tsabiya mengangguk, "Ayo masuk, El."

Tsabiya menarik tangan Mikael dan melangkah ke rumah. Keduanya masuk dengan heran saat semua orang sedang duduk di lantai mengitari Tsavir. Yumna, Mikaila, Agil, Om Odi, dan Mikall ada di dalam rumah Tsabiya.

Wajah Mikael yang bersahaja tadi kini berganti dengan wajah ketat melihat kondisi rumah. Apalagi saat Mikael melihat Mikall duduk paling dekat dengan Tsavir.

Wajah Mikall yang tadi sumringah kagum menatap bayi mungil di hadapannya kini berganti segan. Suasana rumah jadi hening mencekam seketika. Agil sampai berdeham mencoba mengurai kekakuan yang ada tapi tidak berhasil. Yumna gelisah sendiri dalam duduknya, takut dimarahi putra sulungnya sebab tanpa izin mempersilahkan Mikall dan Om Odi ke dalam rumah Tsabiya.

Tsabiya bingung juga, tidak tau harus merespon seperti apa. Ia takut Mikael meledak lagi.

"El, Mama cuma mau Mikall juga lihat kepona-----"

"Cuci tangan dulu sebelum pegang Tsavir. Dia masih kecil dan rentan sakit," ujar Mikael pada Mikall tiba-tiba. Suasana jadi kikuk lagi karena respon Mikael yang di luar dugaan.

Alih-alih marah Mikael malah menasehati Mikall. Wah, benar-benar sebuah kemajuan yang besar sampai-sampai Mikaila menganga tak menyangka.

Mikael masuk ke kamarnya tanpa peduli pada semua orang. Tsabiya ikut di belakangnya sambil memberi kode ke mertuanya untuk tenang mengingat respon Mikael yang tidak terganggu.

Di dalam kamar, Mikael langsung membuka lemarinya. Ia mengeluarkan satu pasang pakaian santai dan handuk bersih.

"El handuk kamu masih bersih kenapa ambil yang baru?" Kebingungan Tsabiya tidak ditanggapi. Laki-laki itu keluar kamar membawa pakaian dan handuk tadi diikuti Tsabiya.

"Mandi dan ganti baju, Al!" Senyum lebar terbit di wajah Yumna melihat tingkah Mikael. Mikall agak bingung tapi kemudian bangkit menghampiri Mikael karena tepukan bahu dan dorongan hangat dari Om Odi.

Mikall menerima dengan canggung, "Maaf Bang, gue salah paham selama ini."

Mikall meminta maaf dengan tulus tanpa ada satu pun yang menduga. Mikaila bahkan tersenyum lebar sekarang sambil menyenggol ibunya yang juga menahan senyum. Jantung Yumna berdebar bahagia. Om Odi dan Agil tatap-tatapan, tampak paham isi kepala satu sama lain.

Tsabiya diam-diam kagum, Mikall bisa meminta maaf tanpa gengsi, menempatkan Mikael sebagai orang yang tetap ia hormati sekali pun keduanya habis bertengkar besar. Mikall anak yang tumbuh dengan didikan baik dari Yumna, meski pun pernah membenci, ada sisa kelembutan di hatinya. 

Mikael diam, laki-laki itu hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.

"Jangan lama, saya mau mandi juga." Mikael menepuk bahu Mikall pelan lalu kembali masuk ke dalam kamar.

"Kamar mandi di samping dapur, Mikall." Tsabiya menunjuk arah sambil tersenyum.

"Iya, terima kasih, Tsabiya. Maaf pernah nggak menghargai lo sebagai istri Bang El." Tsabiya mengangguk karena tidak mempermasalahkan apa pun. Semua sudah berlalu, Tsabiya kini memahami keadaan keluarga Mikael.

Mikall berlalu ke kamar mandi sementara Yumna dan Mikaila girang melihat perubahan Mikall dan Mikael.

"Waktu kamu lahiran, Mikael baikan sama Mama, sekarang Mikael baikan sama Mikall. Kamu dan rumah kamu ini ajaib ya, Tsabiya!" seloroh Yumna bahagia. Mikaila mengangkat jempolnya ke udara. Ia dan Agil menunda berangkat ke Jakarta karena kejadian tadi.

Tsabiya [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang