"El?" sejak beberapa menit lalu Tsabiya menunggu Mikael selesai berbicara dengan ponselnya untuk meminta pendapat tentang baju bayi. Kegembiraan tidak bisa disembunyikan olehnya ketika menatap semua pernak pernik bayi di toko ia dan Mikael masuki. Tsabiya merasa menang lagi sekarang karena mampu mengajak Mikael keluar untuk melihat-lihat perlengkapan bayi meskipun harus rela merengek memohon pada Mikael untuk meninggalkan pekerjaannya. Walaupun sedikit kesal sebenarnya karena Mikael tetap saja menjawab telpon dari kantor. Namun Tsabiya memilih maklum dan mengucap syukur daripada Mikael tidak mau menemaninya sama sekali.
"Udah urusan kantornya?" celetuknya saat melihat Mikael masih berdiri di sudut toko sambil mengotak-atik ponsel.
"Sudah."
"Navy atau cream?" dua baju bayi ditunjukkan Tsabiya, Mikael memandang tanpa penuh minat.
"Terserah."
Lah gimana, aku yang perempuan kenapa malah dia yang bilang terserah?
"Kok terserah, kamu nggak suka?"
"Tidak."
"Kok gitu sih, El. Bantu pilih dong. Jangan main terserah-terserah aja." Raut wajah Tsabiya berubah sedih, penolakan seperti ini selalu membuat Tsabiya main hati entah kenapa. Mungkin pengaruh mengandung bayi.
"Ambil saja yang kamu suka."
"Kamu juga kasih saran dong." Mikael menghela napas jengah, tangannya meraih baju di deret yang berbeda dengan yang Tsabiya ambil tadi. Baju bayi berwarna coklat tersodorkan ke arah Tsabiya.
"Kamu suka yang ini?" Mikael mengangguk, senyum langsung terbit di bibir Tsabiya.
"Sayang, ini baju dipilih Papa. Bagus tahu selera Papa," puji Tsabiya spontan tanpa sadar pada perutnya. Mikael yang mendengar mengernyit aneh.
"Ayo pilih lagi, El." Tangan Mikael ditarik mengikuti Tsabiya lalu dilepas saat ia sudah melihat barang lainnya yang memikat matanya sambil sibuk sendiri memilih. Tinggal Mikael yang hanya bisa memperhatikan.
"Ini mau nggak? Warna kuning? Kok Mama lebih suka hijau ya, sayang. Hijau aja ya!" Tsabiya nampak aneh di mata Mikael, bagaimana mungkin perempuan itu begitu asik berbicara dengan perut yang dielusnya.
"Eh kuning bagus juga sih kalau dilihat-lihat lagi, pasti kalau kamu yang pakai cocok."
"Kita ambil kuning juga deh." Haduh, Mikael sungguh tak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Tatapannya ia palingkan ke arah lain daripada harus memikirkan keanehan Tsabiya.
Rak letak kaos kaki bayi menganggu fokus Mikael, segera ia melangkah beberapa meter untuk bisa melihat lebih dekat. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu, melihat pernak-pernik bayi yang memiliki bentuk begitu kecil membuat dirinya terpaku.
Beberapa menit melihat saja akhirnya tangan Mikael mengambil salah satu kaos kaki bayi berwarna coklat yang memiliki tempelan panda menggemaskan. Mikael menatap lama dalam diam.
"Lucu banget bajunya. Lihat deh!" Tsabiya berbicara sendiri ternyata, di sampingnya sudah tidak ada lagi Mikael. Ia memutar pandangan hingga menemukan suaminya di tempat yang memiliki jarak tak jauh dari dirinya.
"El, lihat baju yang ada gambar bebeknya ini deh! Gemas!" serunya semangat. Namun Mikael sama sekali tak mendengar. Tsabiya heran, Mikael sedang memikirkan apa sih sampai tidak mendengar Tsabiya. Memang ada apa di kaos kaki yang dipegang Mikael? Tsabiya penasaran. Ia mendekat.
"El?"
"Hm." Responnya saat lengannya disentuh Tsabiya. Matanya masih menatap kaos kaki bayi.
"Kaos kakinya lucu, ada panda." Giliran Tsabiya yang terpana dengan apa yang ada di tangan Mikael.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsabiya [End]
RomansaApa yang terjadi ketika Tsabiya tiba-tiba dilamar oleh seorang laki-laki yang baru sekali ia temui di hari duka kematian ayahnya? Apakah mungkin ada pernikahan tanpa cinta? Apakah Tsabiya akan menerima atau tetap memilih hidup sebatang kara tanpa or...
![Tsabiya [End]](https://img.wattpad.com/cover/174824327-64-k840208.jpg)