"Ada sesuatu di dalam dadaku, rasanya aneh tapi seru. Kayak ada yang meletup-letup gitu."
"Kayak kembang api? Saya juga merasakannya."
Semua kejadian tadi malam terputar di kepala Tsabiya. Perkataan sederhananya hanya untuk menyampaikan secara terselubung betapa Mikael selalu tampil luar biasa di matanya, entah itu pagi, siang, atau malam tidak ada bedanya. Ditambah lagi saat Mikael tertawa, Tsabiya tidak pernah melihatnya sampai-sampai terpana. Sejauh apa Mikael sudah membuka diri? Kalimat balasan dari Mikael benar-benar di luar prediksi Tsabiya. Mikael tau apa yang Tsabiya maksud dan merasakan hal yang sama? Tsabiya kehabisan kata-kata. Harusnya Tsabiya yang membuat Mikael salah tingkah karena gombalannya bukan malah Mikael menanggapinya dengan sempurna. Itu sama sekali bukan Mikael. Jangan-jangan laki-laki itu ketempelan jin.
Perasaan Tsabiya berbunga-bunga untuk sesaat tapi langsung ditepis oleh dirinya sendiri. Saat ini bukan saat yang tepat merasakan perasaan berbunga-bunga. Tsabiya menyimpan sedikit kekecewaan dalam hatinya, perasaan senang berubah menjadi perasaan cemas dan pikiran buruk. Bagi Tsabiya, alasan-alasan Mikael menikahinya masih tidak bisa diterima. Tsabiya takut kalimat manis Mikael dijadikan alat untuk merayunya saat Tsabiya masih mempertimbangkan untuk berpisah atau melanjutkan pernikahan keduanya.
Masih dengan perasaan yang tak karuan Tsabiya tadi malam, Mikael malah terang-terangan mengucapkan kalimat sayang padanya untuk menegaskan perasaan pada Tsabiya. Tadi Malam Tsabiya benar-benar tidak tidur nyenyak memikirkan semuanya.
saya sayang sama kamu
aaarghh Tsabiya ingin lari meninggalkan dilema yang sedang dirasakannya tapi kalimat sialan itu terasa terdengar terus berulang-ulang di telinganya saat Tsabiya bengong memandang hujan yang tiba tiba turun seperti sekarang.Tiba-tiba acara bengongnya terdistraksi dengan pesan di ponselnya.
suami slow respon:
Saya diajak bersosialisasi ke kantor desa oleh Pak Aryo dan terjebak hujan di sini. Tidak ada payung, saya pulang setelah reda, ya, Biya.
senyum kecil terbit di bibir Tsabiya membaca pesan Mikael, sejak kapan Mikael mengabarinya? Setelah Agil dan mertuanya memutuskan kembali ke Jakarta tadi pagi, Mikael memang setelah makan siang izin untuk bertemu dengan Pak Aryo, entah apa hubungan kedua laki-laki beda usia itu, Tsabiya yakin ada sangkut pautnya dengan mendiang ayahnya dulu ketika kajian bersama. Namun ketika ditanya, Mikael mengalihkan pembicaraan terus.
"sok akrab banget sosialisasi kayak bakal jadi warga sini aja, introvert banyak tingkah." Gumam Tsabiya kecil. Matanya memandang seluruh kamar. Meja belajar kecilnya dipenuhi barang milik Mikael. Kertas, Laptop, Ipad, dan yang lainnya membuat meja itu kelihatan begitu sempit karena ada barang-barang Tsabiya sebelumnya.
"Pindahin aja kali ya beberapa barang punyaku, biar Mikael leluasa bekerja." Tsabiya bersemangat memindahkan beberapa barangnya dari meja ke kamar almarhum ayahnya. Kamar yang tidak dipakai lagi saat ini.
"Hitung-hitung kita gerak ya, Sayang. Jangan tidur terus." Tsabiya berbicara pada perutnya sambil melanjutkan aktivitas dan menikmati hujan.
Tangannya sedang menata kembali meja, memperbaiki posisi lampu belajar dan semua barang Mikael.
Tsabiya menoleh, "Eh?"
Ia tidak sengaja menjatuhkan tas berkas Mikael dan beberapa isinya tercecer keluar. Dengan susah payah ia coba duduk dan mengutipnya. Berkas-berkas itu diangkat dari lantai dan menyisakan satu benda yang familiar di mata Tsabiya.
"Kunci?" kunci bergantungan besi huruf T berwarna biru. Kunci yang tidak asing di mata Tsabiya.
"Ini kan gantungan kunci huruf T punyaku yang pernah Ayah minta dulu buat dipasangkan di kunci gudang belakang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsabiya [End]
RomanceApa yang terjadi ketika Tsabiya tiba-tiba dilamar oleh seorang laki-laki yang baru sekali ia temui di hari duka kematian ayahnya? Apakah mungkin ada pernikahan tanpa cinta? Apakah Tsabiya akan menerima atau tetap memilih hidup sebatang kara tanpa or...
![Tsabiya [End]](https://img.wattpad.com/cover/174824327-64-k840208.jpg)