LIMA

7 4 0
                                        

Wendy berpamitan tepat sebelum jam makan malam. Agatha sudah memintanya untuk tinggal sebentar untuk ikut makan malam bersama, tapi ditolak. Sebagai gantinya ia ingin mengantar temannya ke tempat parkir, meminta Sean untuk menemani Ellen seandainya sudah lapar sebelum ia kembali mereka bisa makan malam terlebih dahulu tanpa perlu menunggunya.

Begitu keluar, Wendy langsung memeluk erat tangan kiri Agatha. Ia tahu Wendy tidak bisa mengatakan banyak hal karena ada Sean ditambah lagi seorang balita. Tampaknya ada cukup banyak hal yang ingin ia bicarakan berdua dengan Agatha.

"Agatha, aku sudah berhenti pergi ke restoran itu," kata Wendy tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Aku.. sudah tidak tertarik, aku tidak bisa memilih makanan."

"sudah kubilang kan? Lalu bagaimana dengan Calix-mu?"

"Dia sudah punya pacar, itu membuatku tidak nyaman karena pernah memesannya bersamaan. Mereka asyik mengobrol sendiri. Aku langsung menghabiskan makananku dan langsung membayar tanpa memberi tip."

"Karena itu?"

"Tidak, rasanya aku juga lebih boros."

"Aku sudah bilang. Untunglah otakmu kembali normal. Aku bangga padamu," Agatha menepuk-nepuk ujung kepala Wendy.

"Aku akan mengikuti kencan buta."

"Berhenti menyia-nyiakan waktumu, bodoh."

"Kamu tidak pantas mengatakan itu, sekarang kamu sudah punya Sean."

"Dia hanya menumpang."

"Kalian cocok. Aku yakin dia akan memperlakukanmu lebih baik dari orang-orang bodoh itu."

"Entahlah, Wendy, aku tidak yakin."

"Agatha, beri dirimu sendiri kesempatan untuk jatuh cinta sekali lagi. Setidaknya sekali ini saja. Kelihatannya Sean tidak main-main."

"Dia masih terlalu muda."

"Hanya beberapa tahun, dia sudah cukup dewasa."

"Ya, ya aku akan memikirkannya. Hati-hati di jalan, kabari aku saat sampai rumah."

Wendy memeluk Agatha, setelah itu masuk ke dalam mobil. Agatha melambaikan tangannya sebentar, lalu berbalik setelah mobil Wendy tidak terlihat oleh matanya. Perkataan temannya tampak begitu serius, sangat jarang Wendy membicarakan hal seperti ini. Wanita itu memang banyak tingkah sejak dulu, tapi selalu memperhatikannya. Jujur saja Agatha pernah curiga kalau dulu Wendy ingin mendekati laki-lakinya, melihat temannya begitu mudah langsung akrab, tapi memang dasarnya mereka laki-laki yang senang main perempuan. Wendy sudah banyak menyelamatkannya, sebelum bahkan di tengah hubungan yang mengerikan.

Beruntunglah Agatha membawa sebungkus rokok dan korek keluar. Ia berjongkok di dekat pintu masuk untuk menikmati sebatang rokok yang belum tersentuh sejak tadi pagi. Sambil asyik menghisap, ia memandangi bungkus rokok kesayangannya sejak SMA. Sayang sekali rasanya jika harus dibuang sekarang.



Wendy membuka ponselnya. Persis seperti perkiraannya, inilah kenapa seharian dirinya tidak membuka bahkan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Mantan pacarnya -Louis belakangan ini mengganggunya. Minta bertemu bahkan pernah mendatangi apartemennya. Apa alasannya? Sepertinya pria brengsek itu kehabisan uang dan ditinggalkan pacar barunya. Wendy tahu betul betapa bertingkahnya orang itu, bahkan penyesalan terbesarnya sampai sekarang adalah pernah memacari Louis. Dia adalah mantan terburuk. Wendy memberi satu kesempatan karena kasihan, tapi rupanya itu hanya tipuan untuk memanfaatkannya seperti sebelumnya.

Seorang tetangga meneleponnya, memberitahu bahwa pria brengsek itu datang lagi. Wendy berangsur-angsur mencari tempat untuk berhenti. Ia tidak bisa pulang sekarang, tapi tidak mungkin kembali ke tempat Agatha. Tidak untuk mengganggu temannya yang sedang sedikit berbunga-bunga. Pilihan yang bisa diambilnya sekarang adalah berhenti di tempat parkir umum. Entah apa yang bisa dilakukannya di sini.

More Than WordsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang