Terdengar suara pintu di buka, Sean langsung berdiri melihat ke arah pintu. Agatha berjalan masuk sambil menutup pintu dengan hati-hati. Sean menghampiri dan menyambutnya dengan tangan yang dilipat ke belakang agar dirinya tidak lancang memeluk Agatha. Senyum Sean yang hangat sungguh menenangkannya, Agatha pun membalas senyuman itu.
"Selamat datang, Agatha."
"Ya, aku pulang."
"Agatha ingin sesuatu? Minum? Makanan? Agatha pasti lelah."
"Kau akan mengambilkannya untukku?" Sean mengangguk semangat menunggu permintaan si pemilik rumah.
"Hmm.. mungkin secangkir teh hangat akan sedikit membantuku," Agatha menggantungkan kunci mobil di dekat pintu kamarnya. Sean pun langsung ke dapur membuatkan secangkir teh hangat untuknya.
Agatha mengeluarkan ponsel dari saku celananya sebelum menghempaskan diri ke atas sofa. Memeriksa ponsel siapa tahu ada yang menghubunginya, tapi matanya bukan tertuju pada pemberitahuan justru pada tanggal yang berada di bawah jam. Sial, dirinya lupa kalau hari ini adalah Sabtu. Ia mendudukkan diri begitu Sean meletakkan secangkir teh hasil buatannya di depan Agatha. Lagi-lagi lelaki itu hampir menempelkan lututnya di atas karpet, untunglah Agatha menarik lengannya dengan cepat sehingga Sean duduk di sebelah.
"Sean, ini adalah Hari Sabtu," katanya setelah menyeruput teh hangat buatan Sean.
"Ya, ini memang Hari Sabtu."
"Tidak ada permintaan?"
Sejenak Sean diam, ia pikir Agatha hanya main-main, "Kupikir Agatha hanya.."
"Aku tidak pernah main-main," Agatha menatapnya lekat menunggu permintaan apa yang akan keluar dari mulut Sean malam ini.
"Hmm.. entahlah Agatha, aku belum memiliki keinginan spesifik saat ini."
"Begitu ya, tidak apa-apa, Sean. Kau bisa menyimpannya untuk nanti," Agatha tersenyum, menepuk pundak Sean dengan lembut mengisyaratkan agar tak perlu terlalu memikirkannya.
"Apa Agatha akan tidur juga?" tanya Sean ragu-ragu.
"Tidak, belum, besok kan masih libur. Aku ingin begadang saja. Besok siang orang tua Ellen akan kemari mengambilnya."
Sean jelas sangat terkejut dengan perkataan Agatha. Dia tak memberi tahu sejak jauh-jauh hari seandainya kakaknya akan kemari. Tentu Agatha menyadari ekspresi terkejut itu, tapi dengan tenang dia hanya tertawa.
"Tidak perlu khawatir. Kakakku bukan orang yang mengerikan. Mungkin .. hanya sedikit terkejut saja karena ada lelaki yang tinggal bersama aku."
"Aku pun kalau menjadi kakakmu juga akan sangat terkejut! Kenapa tidak beritahu jauh-jauh hari?"
"Aku memang tidak berniat untuk memberitahumu. Lagi pula kau mau pergi ke mana kalau aku beritahu lebih awal? Sudahlah tak perlu khawatir.."
"Bagaimana kalau aku diusir?"
"Dia tak akan melakukannya. Kita sudah cukup dewasa untuk mengetahui batasan masing-masing. Jangan khawatir, oke?" Agatha tidak tahan melihat kekhawatiran Sean sehingga ia mengusap kepala lelaki itu dengan penuh perhatian.
Sean tak bisa dan jelas tak ingin menolak sentuhan lembut wanita ini. Belum pernah sekalipun ia merasakan sentuhan lembut ini sejak merantau, meninggalkan panti asuhan. Perasaannya yang ingin terus menghabiskan lebih banyak waktu dengan Agatha pun mulai meningkat.
Keesokan harinya, Sean terbangun, tangan kanannya terasa berat. Ketika dirinya benar-benar membuka mata, rupanya Ellen telah tertidur menengahi Sean dan Agatha. Perlahan ia ingin menggerakkan tangan, berusaha untuk tidak bersuara agar Ellen tidak terbangun. Ia akhirnya mendudukkan diri dan bersandar pada sofa di belakangnya, memperhatikan betapa nyenyaknya Ellen dan Agatha yang begitu lelap di atas lantai bersamanya. Sean pun memasang selimut untuk menutupi tubuh kedua gadis di sampingnya. Ia menatap keindahan sederhana rambut cokelat Agatha yang tergerai di bantal kecil, dan Ellen yang meringkuk di sampingnya.
Perasaan hangat menjalar di dada Sean. Sentuhan lembut Agatha di kepalanya malam tadi masih terasa nyata. Itu adalah bentuk perhatian yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia melirik jam dinding. Pukul 07.00. Walaupun pekerjaan pertamanya baru dimulai pukul 10.00, ia terbiasa bergerak cepat. Selain itu, ia merasa harus melakukan sesuatu sebagai balasan atas kebaikan hati Agatha yang mengizinkannya tinggal.
Sean dengan hati-hati bangkit, bergerak sehalus mungkin agar tidak membangunkan kedua gadis itu. Ia menuju dapur kecil apartemen Agatha. Dengan tiga pekerjaan, ia terbiasa mengurus diri sendiri, termasuk memasak makanan sederhana. Ia membuka kulkas. Tidak banyak bahan, tapi ada telur, sedikit sayuran, dan beberapa potong roti. Cukup untuk sarapan cepat dan sehat.
Saat aroma telur orak-arik dan roti panggang mulai menyebar, suara serak nan lembut terdengar, "Hmm, baunya enak sekali."
Agatha berdiri di ambang dapur, mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia berjalan mendekat, tapi berhenti di kejauhan yang masih sedikit menjaga jarak. Wajahnya menunjukkan senyum lelah namun tulus.
"Kau tidak harus melakukannya, Sean," ujarnya, nadanya lembut dan penuh perhatian.
Sean, yang sedikit gugup karena ditatap intens, membalik roti. "Tidak apa-apa, Agatha. Aku harus membalas kebaikanmu karena mengizinkanku tinggal. Lagipula aku sudah terbiasa bangun pagi."
Agatha bersandar pada kusen pintu, memperhatikan gerakan tangan Sean yang cekatan.
"Terima kasih," kata Agatha tulus. "Aku bahkan jarang membuat sarapan untuk diriku sendiri, apalagi untuk Ellen."
Sean menyajikan orak-arik telur dan roti di dua piring, lalu menyodorkan satu piring ke Agatha, "Untukmu. Aku akan membuatkan bubur untuk Ellen setelah ini," kata Sean.
Agatha menerima piring itu dengan hati-hati. Saat tangan mereka bersentuhan sesaat, ada sedikit kejutan listrik kecil yang terasa oleh keduanya. Agatha berdeham ringan, sedikit mundur untuk menjaga batasan.
Setelah selesai menyantap sarapan sederhana yang dibuatkan Sean, Agatha dan Ellen duduk di sofa ruang tamu yang luas. Ruangan itu didominasi warna netral yang elegan, dengan jendela besar menghadap ke jalan yang selalu ramai. Apartemen itu memang modern dan mewah, jauh dari kesan bangunan tua yang kusam.
Sean berdiri di depan pintu. Ia sudah rapi dengan pakaiannya yang paling santai namun layak celana chino dan kemeja polos, cocok untuk bekerja di toko buku.
"Agatha, aku harus pergi sekarang. Aku ada shift pagi di toko buku hingga jam satu siang," ujar Sean.
Agatha menoleh, mengangguk. "Baiklah. Terima kasih sudah membantu membereskan dapur, Sean." Ia tersenyum lembut.
Agatha berdiri, lalu melangkah ke arah Sean, memperkecil jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan, mengusap lembut kerah kemeja Sean yang sedikit kusut. Sentuhan penuh perhatian ini, meskipun hanya sebentar, telah berhasil membuat jantung Sean berdebar kencang.
"Aku akan kembali lagi setelah shift di restoran sore nanti," janji Sean, suaranya sedikit serak.
"Hati-hati, Sean," kata Agatha tulus. Sean mengangguk, lalu bergegas keluar dan menutup pintu perlahan.
Ia segera melangkah ke lift, turun dari Lantai 3 apartemen modern yang sunyi itu. Saat ia melangkah keluar dari lift menuju lobi, ia merasakan ketegangan di udara. Lobi mewah itu sepi, tetapi ia melihat mobil sedan hitam mengkilap baru saja berhenti di jalur penurunan penumpang di depan gedung. Pintu mobil terbuka.
Seorang pria keluar dari kursi pengemudi, tampak berkuasa dalam setelan jas yang mahal. Diikuti oleh wanita yang ia yakini pasti adalah istri pria itu. Mereka melangkah menuju pintu masuk otomatis. Sean berada di lobi, berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke area pejalan kaki di jalan utama. Mereka berpapasan secara sekilas. Pria itu fokus pada ke mana ia harus pergi dengan penuh wibawa, bahkan tidak melirik ke arah lain. Sean sendiri sedang terburu-buru, hanya berjalan lurus dengan pandangan fokus ke depan.
Mereka melewati satusama lain dengan jarak aman, tidak ada kontak mata, tidak ada kata yangterucap. Sean keluar dari gedung, menarik napas lega. Ia merasakan aura yangkurang bersahabat dari pria itu. Sean segera mempercepat langkahnya menujupemberhentian bus. Ia harus tiba di Toko Buku tepat waktu, dan mengalihkanpikirannya dari ketegangan yang ia tinggalkan di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
More Than Words
RomancePertemuan pertama mereka tidaklah istimewa dan berkesan. Setidaknya setelah itu mereka berjumpa sekali atau dua kali, tapi Agatha pura-pura tidak tahu. Sean sudah tertarik padanya sejak pertama kali, tapi dirinya tidak bisa melakukan banyak hal kare...
