Semoga nggak bosan" ya sama alur aku yang berantakan (banget) ini🥹
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arsen merasa terkejut dengan panggilan Melani, kenapa sekarang gadis itu terang-terangan memanggilnya dengan sebutan tersebut. Arsen berusaha untuk tidak memperdulikan Melani, ia dengan santai mengambil pakaiannya di lemari dan ingin cepat-cepat keluar dari sini. Saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Melani yang berada di pintu kamarnya, gadis itu dengan cepat mengunci pintu kamar Arsen, dan mengambil kuncinya, lalu kunci kamar tersebut ia buang melalui jendela.
"Apa-apaan ini, Melani?" tanya Arsen.
"Kamu ..." Melani menunjuk Arsen. "Hari ini harus bersamaku," ucapnya.
"Nggak," tolak Arsen.
"Oh ya? Kau bisa tahan kah kalau aku seperti ini?" Melani mendekati Arsen, menggodanya seperti perempuan penggoda.
Arsen berusaha untuk tidak merespon, tapi itu tidak bertahan lama. Ia terbuai dengan godaan tersebut dan mengikuti apa yang Melani mau.
𝄞⨾𓍢ִ໋
Setelah semua yang terjadi, Arsen bangun di samping Melani. Dengan cepat pria itu mengecek ponselnya, untuk sekedar melihat jam, dan jam menunjukkan sudah pukul 3 sore, setelah melihat jam, sekarang pria itu berpikir bagaimana cara ia keluar dari kamar ini bersama Melani nanti? Kunci kamarnya sudah Melani buang melewati jendela.
Arsen berusaha berpikir, ia takut jika nanti Bian pulang ke rumah walaupun hanya untuk sekedar mandi. Tiba-tiba di pikirannya terlintas kunci kamar yang pernah ia taruh di laci nakas kamarnya. Dengan cepat Arsen membuka nakas tersebut, ternyata benar kunci tersebut masih ada di sana, dengan cepat Arsen membangunkan Melani, saat Melani sudah bangun. Arsen memutuskan untuk mandi duluan, nanti setelah ia mandi, barulah Melani mandi.
Setelah mereka berdua sudah selesai mandi, Melani kembali memakai pakaiannya yang ia pakai.
Arsen keluar dari kamar terlebih dahulu untuk mengecek keadaan di luar, bisa saja sudah ada orang yang pulang ke rumah ini. Arsen memanggil-manggil Ayah serta pembantunya, namun tidak ada jawaban, tandanya tidak ada orang di rumah ini, kecuali ia dan Melani.
"Mel!" teriak Arsen.
"Iya, sebentar sayang," jawab Melani, tak kalah berteriak.
"Ayo, nggak ada orang," teriaknya lagi.
"Iya, sayang." Melani berjalan turun dari tangga untuk menemui Arsen di lantai bawah. Kemudian dua sejoli tersebut keluar dari rumah dan Arsen bergegas untuk mengantarkan Melani pulang.
𝄞⨾𓍢ִ໋
Nesa yang saat ini masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah yang pucat. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan sosok Rita muncul di ambang pintu. Nesa melihat sahabat lamanya itu datang, menenteng tas makanan dan minuman.
"Kamu udah mendingan?" ujar Rita dengan senyum hangat sembari mendekat. "Melani nggak di sini? Kata dia semalam izin tidur di sini."
"Iya, udah mendingan ini," ucap Nesa, "tapi Melani tadi pagi, dia pulang sama Arsen," lanjutnya.
"Astaga, tuh dua bocah kemana lagi sih?" ucap Rita dengan tawa di akhirnya.
"Gatau juga tuh," jawab Nesa dengan tertawa ringan.
Kalula hanya mendengar pembicaraan dua wanita di depannya dengan mata yang tertutup.
"Arsen sama Melani kemana kalau nggak pulang sampai sekarang?" batin Kalula.
Kalula ingin berpikir positif, tapi hatinya seolah mengatakan ada sesuatu yang tersembunyi diantara mereka berdua.
"Nesa, kalau gitu aku balik dulu ya, maaf nggak bisa lama-lama, soalnya lagi ada urusan," ucap Rita.
"Iya, makasih juga udah repot-repot bawa makanan, say," jawab Nesa.
"Nggak repot-repot kok." Rita dan Nesa berpelukan. "Bye, semoga cepat sembuh ya." Rita melepaskan pelukannya kemudian berjalan keluar ruangan.
𝄞⨾𓍢ִ໋
Kalula masih duduk di sofa yang berada di dalam ruangan tersebut, matanya menatap lurus kedepan, pikiran dan hatinya masih berkelahi dengan semua yang baru saja ia dengar. Batinnya terus-menerus bertanya dimana Arsen dan Melani sebenarnya.
Khayalan Kalula buyar saat pintu ruangan tersebut terbuka, mata yang tadinya menatap kosong ke depan, kini beralih menatap pintu yang baru saja terbuka. Bian berdiri di ambang pintu, Kalula kembali mengalihkan pandangannya kearah Nesa yang masih terbaring pucat di ranjang ruangan itu.
Kalula mengira yang datang adalah Arsen atau Melani, agar bisa membuat sedikit lebih tenang, namun sayangnya yang datang adalah Bian.
"Kalula? Kamu udah makan, nak?" tanya Bian.
"Belum, Ayah," jawab Kalula.
"Yaudah, sekarang kamu pulang makan dan mandi, biar Bunda nanti Ayah yang jaga," pinta Bian, "nanti kalau Kalula mau nginap disini, baru Kalula kesini lagi ya," lanjutnya.
"Baiklah. Bunda, Kalula pamit dulu ya, semoga cepat sembuh, Bunda Sayang." Kalula memeluk Nesa, kemudian mencium tangan Nesa dan Bian secara bergantian, kemudian berjalan keluar ruangan, walaupun masih dengan perasaan yang sama.
Kalula mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia hanya ingin cepat sampai di rumah, karena pikirannya yang sedang kacau, ia takut jika ia mengalami kecelakaan karena terus berpikir tentang Arsen dan Melani.
TIPIS-TIPIS DULU YAA!! TAKUT NANTI LEBIH 50.000 KATA🥹