Babak 3

23 2 0
                                        

Hizam memijat sendiri kepalanya, tugas-tugas kampus membuatnya mabuk. Kalau sudah begini tanpa minum sebotol amer pun rasanya sudah seperti meminum berbotol-botol. Ditambah lagi beberapa anggota asrama yang keluar masuk menambah beban pikirannya.

"Kalian kalau kere harusnya gak usah banyak gaya! Kalau begini nambah-nambahin kerjaan aja." omelnya membuat beberapa maba itu menciut. "Alasan kalian balik ke sini apa?"

"Anu Bang …" Mereka saling dorong untuk memulai berbicara, Hizam menatap mereka galak.

"Itu … katanya Gilang kamar No. 13 udah ada penghuni baru jadi gak perlu takut lagi." Yang disebut namanya pura-pura tidak mendengar dan asyik mengamati benda lain. Hizam fokus ke arahnya dan dengan rasa tidak bersalah Gilang hanya tersenyum minta pemakluman.

"Awas lu ya, kalau besok lu ngajak yang lain keluar lagi gua slebew–" cetus Hizam sambil bergaya hendak memukul Gilang.

"Maaf, Bang. Gak lagi deh." kata Gilang sambil mengimut-imutkan ekspresinya.

Adnan berjalan melewati mereka dan berbalik sekilas menyapa sebentar. Tak peduli dengan kondisi si Ketua asrama yang tampak kacau.

"Siapa tuh, Bang?" tanya Gilang selepas Adnan menghilang.

"Elu nyebar gosip tanpa tahu orangnya yee," satu jitakan keras mendarat di kepala Gilang, "Itu orang yang tinggal di kamar tiga belas, jangan cari gara-gara, dia senior di kampus." Mereka ber-oh panjang dan Gilang kembali hendak buka suara, namun Hizam buru-buru merenggut bibirnya agar diam, "Gak usah nanya lagi, Gilaaaang! Gua sibuk mau nguli." katanya kesal sebelum bangkit ikut pergi.

Gilang





*


'Selalu ada yang mencari orang saat ia menghilang, kecuali orang itu tidak memiliki teman maka tidak seorang pun akan datang. Tapi aku punya banyak teman, kenapa di sini aku sendirian?'

Adnan menggaruk-garuk telinganya, rasanya agak risi karena dengung-dengung tidak jelas yang di dengarnya. Bukan hanya satu tapi banyak, sebenarnya dia sudah terbiasa tapi kali ini semakin tidak nyaman baginya.

Setelah selesai dengan perkuliahannya, Adnan melanjutkan kegiatan penyusunan Tesisnya. Dia terus mencoba menyibukkan diri dan mengabaikan sekelilingnya, semenjak aksi penutupan mata batin, Adnan lebih menahan dirinya untuk tidak lagi membuka tabir penghalang dunia kasat mata dan tak kasat mata.

'Kau mendengarku kan? Apa kau juga melihatku? Kau bisa membantuku kan? Boleh aku minta tolong padamu?'

*

"JAUHARI!" Jems setengah berlari menghampirinya.

"Kurang ajar banget sih lu jadi junior, Em!"

"Santai, Bang! Kalau gak gua gituin lu gak bakal nungguin gua." Benar, Adnan tidak akan menggubrisnya kalau Jems tiba-tiba punya etika, karena Adnan tahu saat Jems bermanis-manis ria pasti ada maunya.

Kamar 13Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang