Babak 2

21 3 2
                                        

Adnan Jauhari mengambil gelar Sarjana Ekonominya dalam kurun waktu yang tidak lebih juga tidak kurang. Baginya waktu adalah uang, jadi dia bertekad untuk tidak menyia-nyiakan apapun. Termasuk tawaran untuk tinggal di asrama. Orang tuanya berkecukupan, mereka bisa menyewakannya kontrakan bahkan apartemen dan uang jajannya cukup untuk mentraktir teman-temannya setiap weekend atau nonton film terbaru setiap bulannya. Tapi dia agak pelit kalau hanya mengeluarkan dana sakunya untuk hal yang cuma-cuma. Ia menerima tawaran untuk masuk asrama agar lebih hemat, ia kadang menjadi orang yang sangat perhitungan.

Ayahnya baru tahu belakangan, kalau Adnan juga ternyata membuka usaha pengusiran roh. Padahal dia sudah menekuni pekerjaan sambilan ini sejak SMA, tidak heran dia sangat tekun menyelesaikan kuliah Ekonominya dan sekarang mengambil lanjutan Manajemen Bisnis di Strata keduanya. Karena hal itu, orang tua Adnan merasa sedih. Ia takut anaknya di masa depan tidak akan mendapat istri karena sering diikuti hantu dan memang tidak sedikit hantu yang menyukainya. Belum lagi ditambah jin-jin yang berkeliaran di jalan-jalan yang sering Adnan lalui.

Adnan ingat perkataan Ayahnya untuk menutup mata batinnya agar tidak lagi melihat makhluk halus, kata Ayahnya, mereka mengikuti Adnan karena ia bisa melihat mereka. Saat Adnan tidak lagi bisa melihat mereka, maka mereka akan berhenti mengikutinya. Sama halnya seperti saat seseorang menyukaimu tapi kau cuek dan tidak melihatnya, orang itu akan berhenti mencari perhatian padamu. Tapi apa yang dipikirkan Adnan adalah mungkinkah hal itu berhasil? Mungkinkah 'mereka' tidak lagi mengikuti Adnan ke mana-mana?

Adnan

Adnan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

"Perasaan gua kok gak enak, ya?" 

Para penghuni asrama berbalik menengok ke arahnya, wajah mereka pucat pasi. Mereka baru tahu fakta Adnan tidak bisa melihat hantu lagi karena itu yang ia katakan saat tiba tadi. Tapi kenapa tiba-tiba ia mengatakan perasaannya tidak enak? Apa aura kegelapan di sini sangat jelas?

"Di dapur ada kompor, kan?" tanya Adnan.

"Lu mau ngapain, Bang?" Jems balik bertanya.

"Ada, Bang. Tapi gas belum beli. Giliran siapa yang beli gas woy?" Hizam langsung mengintrogasi anggota asrama.

"Anaknya udah keluar gak sih? Si Gilang ama temennya itu?" Malik bertanya balik.

"Ooh, yang maba semester satu itu bukan? Lah iya, dah pada keluar mereka." timpal Arsyid.

"Lah terus, giliran siapa dong?" Mereka jadi sibuk saling tunjuk.

"Ealah malah ngobrol sendiri kalian." Adnan geleng-geleng sambil membongkar tasnya.

"Tapi, Bang. Perasaannya gak enak kenapa tuh?" tanya Arsyid takut-takut, semuanya kembali tegang saat Adnan berhenti mencari sesuatu di tasnya.

"Gua ngerasa gak enak … ," Adnan berbalik, mereka semua menelan ludah takut mendengar kalau yang dikatakan Adnan adalah hal yang tidak ingin mereka dengar. Meskipun mata batin Adnan sudah tertutup, tapi tidak dengan tingkat sensitifitasnya terhadap makhluk halus, kemampuan itu tidak akan hilang begitu saja begitu pikir mereka. "... karena tadi gua lupa makan, ada air di dispenser, kan?" tanyanya lagi sambil memperlihatkan dua bungkus Indomie, mereka semua kompak menghela napas panjang, lega.

"Air galon … habis juga, Bang." jawab Hizam sambil cengengesan menyikut Jems yang juga terkekeh tidak jelas. Adnan tersenyum masam menatap mereka lalu mengambil dompetnya.

"Dua puluh menit dari sekarang, dapur asrama harus udah keisi. Nih, duit!"

Bagai menerima mandat kerajaan, serempak mereka menerima beberapa lembar uang itu dengan hormat dan segera membagi tugas. Ada yang pergi membeli gas dan membeli air galon.

"Gak pake lama, gua dah lapar. Jangan sampai kalian yang gua makan!"

***

'Awalnya, kupikir ia melihatku. Aku terlalu berharap. Aku hanya ingin bebas dari sini. Siapapun tolong lepaskan aku.'

"Bang, perasaan lu udah mendingan, kan?" Adnan masih menikmati mienya ketika Jems bertanya untuk kesekian kalinya, "Kirain perasaan lu gak enak kenapa, tahunya gak enak karena lagi laper." ucapnya berusaha merasa terhibur.

Adnan mengembuskan napas panjang, lalu bersendawa keras. Jems yang menemaninya di dapur atau lebih tepatnya anak itu membuntutinya ke sana ke mari–mengeryit setengah geli.

"Lu ngapain sih ngekor mulu, Em." kata Adnan seraya bangkit lalu membersihkan tempat makannya, "Perasaan gua udah mendingan karena dah kenyang, puas? Lu balik ke kamar gih sono. Dah jam berapa ini? Emang ada piket malam keliling asrama apa sekarang? Jaman gua perasaan gak ada." Adnan mulai cerewet.

"Gak ada lah, Bang!" Jems memikirkannya saja sudah ngeri sendiri, padahal kalau dipikir dia juga sering menakut-nakuti penghuni asrama yang lain. "Tapi kayaknya ide bagus, nanti gua usulin ama Hizam."

"Ide bagus apanya, nambah-nambahin beban aja lu, Em." 

"Kenapa semua orang selalu berpikir saran-saran gua cuma nambah beban." keluh Jems, Adnan menepuk pundaknya lantas berlalu lebih dulu. "Tungguin gua!"

Sambil berjalan di koridor Adnan menanyakan banyak hal mengenai asrama yang ditinggalkannya sekitar setahun lebih, tidak banyak yang berubah. Salah satunya Jems yang masih sama, sebagai penghuni lama dan mahasiswa tua. Adnan sangat ingin menanyakan tentang mendiang yang baru saja meninggal, tapi dirasanya timing sedang tidak pas dan akhirnya ia hanya menanyakan program anak-anak asrama yang tidak seberapa penting. Masalah gentingnya adalah para penghuni yang jumlahnya merosot tiba-tiba karena rumor horror yang menyebar.

"Mending lu segera lulus deh, Em. Saran-saran lu lebih berguna bagi pemerintah, gak capek apa jadi aktivis kampus?" saran Adnan sebelum berbelok di lorong menuju kamarnya, Jems berhenti mengikutinya.

"Beda, Bang. Kalau masih jadi mahasiswa gini, suaranya bisa lebih tinggi dari rakyat biasa. Pemerintah gak mau dengerin suara rakyat, tapi suara mahasiswa bisa bikin mereka goyah!" ucap Jems berapi-api.

"Makanya, cepetan elu lulusnya biar bisa jadi bagian pemerintahan dan ngatur rakyat. Gak bakalan ada istilah Suara gak didenger … ." Adnan bergumam di akhir kalimatnya, "Sana lu balik ke kamar, gua juga mau tidur." Jems masih berdiri di ujung lorong, ia masih setengah penasaran apakah Adnan sungguh kehilangan kemampuannya. Hingga seniornya itu melambaikan tangan menyuruhnya pergi dan embusan angin yang entah dari mana datangnya menyentuh kulit lehernya barulah Jems beranjak dari sana.

'Bukan hanya suara rakyat, suaraku pun tidak bisa kalian dengar.'

Kamar 13Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang