"Hai Daddy, apa kabar? Ini Arfa, sekarang disini." Arfa terduduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang ayah yang masih terbujur tak sadarkan diri. "Maaf ya kalau selama ini Arfa nggak pernah patuh sama Daddy, maaf juga kalau Arfa selalu salah paham dan kasar sama Daddy. Arfa nggak tau caranya menerima kenyataan bahwa Mommy nggak ada, Arfa nggak tau lagi mau cerita ke siapa. Apalagi setelah kak Arka mutusin buat pergi dari rumah, Arfa ngerasa nggak punya siapa-siapa." Air mata Arfa meluncur begitu saja tanpa permisi, membuat situasi saat itu makin terasa sesak untuk Arfa.
"Setelah ini Arfa janji nggak akan kemana-mana lagi, Arfa nggak akan menghindar dari Daddy lagi, Arfa nggak akan ngebantah ataupun ngebentak Daddy lagi." Arfa memperkuat genggaman tangannya pada sang ayah, menunjukkan kesungguhan bahwa ia serius atas ucapannya. "Tapi Arfa mohon, Daddy bangun ya. Daddy balik kayak dulu, biar kita bisa kumpul bareng sama Kak Arka dan Louis. Arfa mohon banget, Daddy harus balik."
Hening tak ada jawaban dari sang ayah, Arfa menelusup kan kepalanya di tangan Sang ayah yang masih setia ia genggam. "Daddy please wake up! Wake up!!"
Tangis Arfa semakin menjadi karena, anak laki-laki itu kembali menjadi dirinya yang berusia tujuh tahun saat detik-detik kematian ibunya. Hingga tanpa sadar sebuah tangan mengusap rambutnya dengan lembut. Usapan yang sangat lembut dan menenangkan untuk dirinya kala itu.
Seketika Arfa mendongak dan mendapati ayahnya tersenyum melihat dirinya. "Daddy?!" pekik Arfa.
"Jangan_" Eigar berusaha untuk mengatakan sesuatu. "_Nangis."
Arfa menangis semakin tertunduk malu. Bahkan disaat seperti ini saja ayahnya masih tak mampu melihatnya menangis. Ternyata sikap ayahnya yang sering Arfa sebut sebagai 'pemerasan emosi dan cari muka' selama ini, ini salah besar. Ayahnya benar-benar tulus tak ingin melihatnya menangis.
"Daddy tunggu sebentar ya, aku panggil yang lain dulu." Arfa berlari ke luar kamar.
"Bibi Lucy! Kak Arka! Omah! Louis! Semuanya! " teriak Arfa memenuhi seluruh rumah. "Omah!! Bibi Lucy!! Kak Arka!!"
Dikarenakan sudah tengah malam jadi mungkin perlu waktu untuk membuat semua orang terjaga dan datang menemuinya.
"Zatarfa, ada apa sayang?"
"Kenapa Fa?"
Panik semua orang bergegas menghampiri Arfa.
"Daddy Omah, Daddy udah sadar." ucap Arfa tak bisa membendung air matanya.
Segeralah Arfa membawa semua orang ke kamar sang ayah. Melihat Eigar membuka mata, Benjamin langsung menyuruh anak buahnya untuk memanggil dokter Hans agar segera datang ke kediaman Adijaya.
Setelah kurang lebih membutuhkan waktu sepuluh menit untuk dokter Hans memeriksa keadaan Eigar, akhirnya diaknosis baru pun muncul.
"Keadaan Eigar sudah sepenuhnya membaik, sangat mustahil sepertinya dia berada di titik ini begitu cepat, sedangkan beberapa jam yang lalu kondisinya sudah kritis dan hampir tidak bisa melawan penyakitnya."
Secercah harapan dan rasa lega terlihat dari wajah semua orang disana.
"Tapi kita juga tetap harus waspada, karena saya belum bisa memastikan apakah kondisi Eigar saat ini bisa dikatakan pulih yang sebenarnya."
Semua orang masih memperhatikan Dokter Hans dengan seksama.
"Saya akan membawa beberapa peralatan medis dari rumah sakit mulai memantau Eigar dalam jarak dekat, agar bisa langsung menangani jika terjadi sesuatu."
"Terimakasih atas bantuannya Om." Arka menjabat tangan Dokter Hans.
"Iya, nanti kabarin kalau ada apa-apa ya." Dokter Hans tersenyum membalas Arka, lalu kembali menghadap ke Benjamin. "Untuk sekarang, saya urus izin alatnya dulu, saya pastikan sebelum pagi semua alat medis lengkap sudah ada di rumah ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
ZATARFA (Tamat)
Ficțiune adolescenți"perihal masa putih abu-abu yang tak akan pernah terlupakan" ••••• Zunaira Linka Alivia. "Gue? Suka sama salah satu dari mereka? No way!!" ~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~• Zatarfa Cadfael Adijaya. "Gue bakal dapetin apapun yang gue mau, termasu...
