Aira menatap Gama nanar, tak percaya bahwa ini akan menjadi akhir dari kehidupannya.
Sebenarnya dalam lubuk hati Aira ia merasakan ketakutan, namun ia tak boleh panik, ia yakin bahwa tuhan tidak akan menghukum dirinya dengan akhir hidup seperti ini.
Namun tak ada lagi yang bisa Aira lakukan, ia berharap tuhan masih berbaik hati memberikan kesempatan hidup pada Aira.
Aira janji jika Tuhan benar-benar memberinya kesempatan kedua, ia akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, Aira l akan memperlakukan orang lain dengan lebih baik lagi, dan ia akan memberi kesempatan kepada hatinya jika memang benar ingin bersama dengan Arfa.
"_Selamat tinggal ya dear little friend, Zunaira linka Alivia."
Mata Aira terpejam merasakan tubuhnya yang mulai terjatuh kebawah.
Hingga sebuah suara mengejutkan dirinya bak amemiliki secercah harapan baru.
"AIRAAA!!"
Arfa berlari menangkap tali itu, dengan cepat Revan membantu melilitkan kembali ujung tali pada pohon.
"Bertahan Ra, gue disini!" ucap Arfa menenangkan gadisnya yang hampir meregang nyawa dibawah sana.
Sedangkan Bara dan Dyo berusaha menangkap Gama yang hendak kabur.
Para bodyguard Adijaya dan Dirgantara bekerja sama membantu menaikkan Aira kembali bersama Arfa dan Revan.
Permainan tembak dan tangkap antara Gama, Bara, Dyo, serta bodyguard Yoraffa dan Alexander akhirnya berhasil dihentikan dengan tertembaknya Gama di bahu dan betisnya. Walau sedikit kewalahan namun akhirnya Gama berhasil diamankan.
Tak membutuhkan waktu lama, Aira juag akhirnya berhasil dinaikkan kembali dengan selamat.
Setelah melepaskan semua ikatan tali yang ada di tubuh Aira, Arfa langsung memeluknya. Keduanya menangis hebat dalam pelukan satu sama lain.
"Fa, gue takut Fa." ucap Aira masih tersedu.
"Gue disini, gue disini. Nggak akan ada yang bisa nge-lukain Lo selama ada gue. Udah tenang ya, kita pulang sekarang." Arfa semakin mengeratkan pelukannya.
Tak lama polisi akhirnya datang untuk menangkap Gama. Setelah pengecekan dan olah TKP Gama akhirnya ditangkap oleh pihak kepolisian.
Dibarengi dengan terbenamnya sang mentari, Kelima anak muda itu menuruni bukit dengan tiga pemuda dibelakang sepasang calon kekasih itu.
Perlahan Arfa menuntun Aira dengan masih mendekap gadis itu di pelukannya hingga masuk kedalam mobil.
Entah bagaimana cara mereka bisa sampai kesini, tapi Aira bersyukur karena Arfa menjadi dewa penyelamatnya sekali lagi.
*****
Hari ini tepat tiga bulan setelah insiden di bukit itu, Aira bersyukur masih bisa menghirup udara segar hingga saat ini.
Aira tersenyum melihat seluruh teman seangkatannya melompat, bernyanyi, berteriak, dan bermain air hujan dengan riang. Baju yang mereka kenakan hari ini juga telah kotor dengan cat semprot yang tadi mereka mainkan. Dengan saling menuliskan tanda tangan di masing-masing seragam milik temannya, menambah kesan momen saat itu menjadi semakin kental.
Ya, hari ini adalah hari yang paling mereka tunggu-tunggu, yaitu hari pengumuman kelulusan.
Satu persatu mulai dari Arfa, Ziva, Evellyn, Sam, Revan, Bara, dan Dyo menepi dan berjajar disamping Aira. Menggenggam erat tangan satu dengan yang lainnya, sembari menatap gerbang sekolah yang kini tak akan lagi menjadi pembatas antara mereka dengan dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZATARFA (Tamat)
Teen Fiction"perihal masa putih abu-abu yang tak akan pernah terlupakan" ••••• Zunaira Linka Alivia. "Gue? Suka sama salah satu dari mereka? No way!!" ~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~• Zatarfa Cadfael Adijaya. "Gue bakal dapetin apapun yang gue mau, termasu...
