53

329 26 0
                                        

Hari itu, cuaca mendung bikin suasana di mansion keluarga Zhang jadi suram banget, nggak kayak biasanya. Zuohang, meskipun udah diperingatin buat stay di rumah, ngerasa gelisah nggak jelas. Akhirnya, dia mutusin buat jalan-jalan santai ke halaman belakang, berharap angin seger bisa nenangin pikirannya.

Tapi, langkahnya tiba-tiba berhenti pas dia denger suara samar dari semak-semak. Suaranya kecil, kayak bisikan, tapi cukup bikin dia jadi siaga. Sebelum dia sempat ngapa-ngapain, dua tangan kuat tiba-tiba melingkar di badannya dari belakang. Zuohang kaget dan berusaha ngelawan, tapi serangan itu terlalu cepat. Sebelum semuanya gelap, satu hal yang dia sadar: aroma parfum itu. Parfum yang dia pernah cium di deket Zimo.

.

.

.

Di dalam mansion, Zhixin lagi sibuk baca dokumen-dokumen tua ditemenin Zhangji. Sementara itu, Yuhan sama Junhao lagi nongkrong di dapur. Semua berubah kacau pas mereka denger suara benda jatuh dari arah halaman belakang. Mereka buru-buru lari keluar, tapi yang mereka temuin cuma ponsel Zuohang tergeletak di tanah.

"Zuohang!" teriak Zhixin panik, matanya nyari ke segala arah. Zhangji langsung ngecek semak-semak, tapi nggak ada tanda-tanda keberadaan Zuohang.

Junhao ngangkat ponsel Zuohang, layarnya udah penuh goresan. "Ini... nggak beres. Nggak mungkin dia ninggalin ponsel gini aja."

Zhixin ngepuk tangannya dengan keras. "Ini kerjaan Zimo, pasti!"

Zhangji dan Yuhan langsung saling pandang dengan tatapan tajam. "Kita nggak bisa nunda. Kalau dia bener-bener nyulik Zuohang, kita harus buru-buru sebelum terlambat."

.

.

.

Zuohang kebangun di tempat gelap, badannya gemetaran. Tangan dan kakinya diikat ke kursi, bikin dia nggak bisa gerak banyak. Dia nggak cuma khawatir soal keselamatannya sendiri, tapi juga tentang Zhixin dan Zhangji. Dua orang itu udah ngasih cinta mereka dengan tulus, meskipun hubungan mereka harus disembunyikan.

Zimo muncul dari bayangan dengan senyum licik di wajahnya. "Tahu nggak," katanya sambil nyengir. "Aku nyulik kamu bukan cuma buat balas dendam. Aku pengen mereka datang, aku mau lihat seberapa besar cinta mereka buat kamu. Makanya, aku nggak sentuh kamu lebih dari ini."

Zuohang cuma diam, meskipun hatinya udah campur aduk. Zimo tahu soal hubungan rahasianya, dan sekarang dia pakai itu buat nyerang balik.

.

.

.

Di mansion Zhang, suasana mencekam. Setelah dapet kabar kalau Zuohang diculik Zimo, keempat saudara Zhang ngumpul di ruang tamu dengan ekspresi serius. Walaupun cara mereka menunjukkan emosi beda-beda, satu hal jelas: mereka nggak bakal tinggal diam.

Yuhan, yang biasanya kalem, mulai bicara dengan nada marah. "Udah cukup. Kita terlalu lama biarin Zimo bebas. Dia udah lewat batas. Zuohang nggak salah apa-apa, tapi dia jadi sasaran."

Junhao nambahin dengan tegas, "Dia tahu titik lemah kita. Hubungan kalian sama Zuohang jadi alasan dia nyerang. Kita harus gerak sekarang."

Zhixin dan Zhangji saling pandang, mereka tahu kalau rahasia mereka jadi senjata buat Zimo. Tapi, di balik rasa bersalah itu, mereka sadar kalau cinta mereka buat Zuohang nggak bisa disangkal.

"Kita nggak bisa sembunyi lagi," kata Zhixin dengan suara tegas. "Apapun yang terjadi, kita bakal bawa Zuohang pulang."

.

.

.

Malam itu, mereka dapet informasi lokasi Zimo. Dia bawa Zuohang ke gudang tua di pinggiran kota. Dengan strategi matang, keluarga Zhang langsung bergerak.

"Junhao, cari jalan masuk. Zhixin sama Zhangji, fokus lindungi Zuohang," perintah Yuhan.

Zhixin menatap adiknya. "Kalau kamu?"

Yuhan nyengir tipis. "Aku pastiin Zimo nggak bakal lolos."

Saat mereka nyampe gudang, suasana tegang banget. Zhixin dan Zhangji langsung nemuin Zuohang terikat di tengah ruangan, sementara Zimo berdiri di sampingnya dengan ekspresi menang.

.

.

.

"Aku udah nunggu kalian," kata Zimo sambil senyum sinis. "Aku mau lihat sejauh mana kalian berani buat dia."

Zhixin maju dengan tatapan tajam. "Lepasin dia, Zimo. Ini urusan kita, jangan libatkan dia."

Zimo ketawa kecil. "Oh, ini bukan cuma urusan kalian. Ini juga soal kelemahan kalian. Lucu, kan? Dua bersaudara cinta sama orang yang sama."

Zhangji marah dan hampir maju, tapi Yuhan nahan dia. "Jangan kebawa emosi."

Pertarungan pecah. Junhao sama Yuhan ngurus anak buah Zimo, sementara Zhixin dan Zhangji berusaha nyelamatin Zuohang. Di tengah kekacauan, Zimo nyoba kabur sambil bawa Zuohang, tapi Zhixin dan Zhangji berhasil ngehentikan dia di atap gudang.

"Berhenti, Zimo!" teriak Zhangji.

Zimo ngerapatin Zuohang dengan pisau di lehernya. "Jangan dekat-dekat, atau dia mati."

Zuohang, walaupun takut, nyoba ngomong tenang. "Zimo, berhenti. Dendam kamu nggak akan selesai dengan cara ini."

Pas Zimo lengah, Zhixin langsung nyerang, ngejatuhin dia. Zhangji buru-buru bawa Zuohang ke tempat aman. Zimo akhirnya kalah, terluka, dan nggak bisa lari lagi.

.

.

.

Setelah semuanya selesai, keluarga Zhang balik ke rumah dengan rasa lega sekaligus lelah. Di ruang tamu, mereka ngobrol serius soal hubungan mereka.

Junhao akhirnya ngomong, "Aku nggak peduli orang lain bilang apa. Kalau kalian cinta Zuohang, itu urusan kalian."

Yuhan ngangguk. "Yang penting kita satu keluarga, dan kita tahu cinta ini nyata."

Zhixin genggam tangan Zuohang. "Kita nggak bakal sembunyi lagi. Kamu bagian dari hidup kami."

Zhangji nambahin dengan suara lembut, "Kami cinta kamu, Zuohang. Apapun yang terjadi, kita tetap bersama."

Zuohang senyum sambil berkaca-kaca. "Aku juga cinta kalian. Terima kasih udah ada buat aku."

Transmigrasi Zuohang (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang