Beberapa purnama kirimanku ditinggal tak berbalas,
IM kau langsung tak berkesempatan ku baca,
Tinta kaca yang dulu menyinari gelap malam,
Kini malap menanti pagi.
Kau sibuk menyinari dunia, menginspirasi mereka yang kurang perhatian,
Aku sibuk mencari erti dan fungsi hidupnya aku di sini,
Sejenak aku berfikir,
Adakah pengakhirannya di sini?
Adakah segala yang kita usahakan sia-sia?
atau hanya sekadar aku yang kurang memahami.
Aku yang dahulunya sibuk mengejar bintang kini mengejar komuter ke kantor,
Aku yang dahulunya biasa menemani kini hanya mahu berselimut sepi,
Aku yang dahulunya bernafas wangian rambutmu kini respirasiku penuh pencemaran dunia sendiri.
Andai kau masih di sana,
aku harap kau tak sendiri,
semoga hari-harimu akan terus berseri,
Usai kau mengejar mimpi, aku tetap disini menanti.
YOU ARE READING
Aku, Kau dan Tiang Lampu
PoetryAku bukukan segala hajat tak tersampai buatmu. Dengan harapan suatu hari aliran deras isi hatiku menjadi bacaan kegemaranmu. I compiled all my unfulfilled wishes for you. With the hope that the torrent of my heart's contents will become your favorit...
