" APAA?? "
Adi terkejut setelah mendengar jawaban Shani bahwa calon cucu pertamanya nanti adalah anak perempuan.
" Kamu yakin Shan? Gak!, papa gamau kamu lahirin cucu pertama papa itu perempuan. Kalo anak pertama kamu perempuan siapa yang bakalan jadi ahli waris dan bisa nerusin pekerjaan papa? Anak perempuan itu menurut papa nggak cocok! " Marah Adi.
Veranda yang kesal dengan ucapan suaminya itu sontak langsung menyambar ucapannya.
" Itu kan menurut papa aja, ga semua hal itu dilakukan oleh laki laki, perempuan juga bisa. Kamu jangan meremehkan perempuan! Lihat dulu, kamu dulu tu ga punya apa apa. Motor ga punya, handphone belum lunas, kolor ga ganti, siapa yang nemenin kamu dari nol? Aku! Siapa yang modalin? Aku! Tanpa aku juga kamu sekarang ga jadi apa apa. " Ujar Veranda kesal.
Disitu Shani menahan tawanya sebisa mungkin yang awalnya suasana tegang menjadi lawak karena Veranda yang mengungkit masa lalunya bersama Adi untuk membelanya.
Jujur saja sekarang Adi malu rasanya karena Veranda mengungkit masa lalunya dulu masa berpacaran dengan dirinya yang tak punya apa apa sehingga sekarang memiliki apapun namun itu semua juga berkat Veranda.
" Udah lah mas kamu tuh gausah kebanyakan protes! Kalo anaknya ngelahirin cucu perempuan ya ngga usah masalah juga. Kan kalo diajarin juga bakal cepet nangkep emang kamu hobby nya mancing sampe malem pulang pulang cuma bawa ikan kecil mana satu biji ga nangkep namanya " Ucap Veranda.
" Bukan gitu maksudnya ma tapi- "
" Udah gausah tapi tapian, lebih baik kamu mandi bau badan kamu kaya lele tau nggak. "
Karena malu dan juga kesal dengan Veranda, Adi pun pergi lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mandi membersihkan dirinya di kamar mandi yang berada di dalam kamar.
" Makasih ya mama udah belain cici dari papa " Ucap Shani tersenyum manis.
" Iya ci, ini udah tanggung jawab mama juga sebagai orang tua kamu... Iii calon cucu oma perempuan inii pasti nanti cantik ya kaya bunda Shani manisnya kaya Ayah Sean, sehat sehat sampai kamu lahir ya anak cantik, oma disini nungguin kamu " Ucap Veranda sembari mengelus perut Shani yang sudah membesar.
" Sean, kamu jagain Shani yang bener! Ini dia lagi berbadan dua, inget "
" Iya ma siap " Ucap Sean.
౨ৎ˚_________ ࣪౨ৎ˚__________ ࣪౨ৎ˚
Keesokan harinya, Shani dan Sean memutuskan untuk pergi ke toko baby untuk membeli perlengkapan bayi saat persalinan nanti dan mumpung Sean juga sedang libur bekerja.
" Nanti.. Kalo disana aku mau beli banyak banyak ya mas, aku ga sabar deh mau lihat dede lahir di dunia ini " Ucap Shani sembari mengelus perutnya yang bulat karena ada bayi di dalamnya.
" Iya, suka suka kamu mau beli berapa banyak sayangg, kamu mau beli yang warna apa emang? Pink pink gitu ya? " Tanya Sean.
" Nahh bener juga tebakan kamu, aku pengen cari baju dan barang barang yang warnanya tu soft gitu "
" Yaudah deh, langsung aja o t w "
Mereka pun keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
Ceklek.
" Sini biar seat belt nya biar mas pasangin aja "
Sean pun memasangkan seat belt untuk Shani.
" Makasih ya mas "
" Sama sama sayang "
Selama di perjalanan, Shani terus saja mengobrol dengan calon bayi yang ada di dalam perutnya itu meskipun tak ada respon namun ia masih tetap senang dan bahagia jika mengobrol dengan calon bayinya.
