30

12.6K 699 14
                                        

Terimakasih untuk pembaca setia dan yaudah silent reader yg ada dimanapun kalian berada. Meskipun kadang badmood parah tapi gw gak mau nyerah nulis novel ini hiksss terimakasih dukungannya selama ini🤧kayanya bau" mau ending 🤚aku gak sanggup menutup cerita ini dan semoga kalian semua terima apapun akhir dari cerita ini🤧

 Meskipun kadang badmood parah tapi gw gak mau nyerah nulis novel ini hiksss terimakasih dukungannya selama ini🤧kayanya bau" mau ending 🤚aku gak sanggup menutup cerita ini dan semoga kalian semua terima apapun akhir dari cerita ini🤧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Seakan ditarik paksa namun kali ini rasanya benar-benar sakit. Seperti tubuhnya memaksa untuk sadar. Terbangun dengan tarikan nafas yang panjang. Apa ia tadi sempat mati suri?

"Deluna akhirnya kau sadar juga." Ucap Cederix memeluk tubuh Deluna.

"Apa ada yang sakit?" Resah pria itu menatap gusar istrinya.

Wanita itu hanya diam linglung. Kenapa ia masih terjebak dalam tubuh Deluna? Namun kenapa semua ingatan itu baru diperlihatkan padanya? Kenapa tidak sedari awal ? Semua pertanyaan dan gejolak emosi yang bercampur aduk membuatnya tidak nyaman. Ia prihatin dengan hidup gadis bernama Caroline yang harus menjadi pengganti Putri Deluna sampai akhir hayatnya. Namun ia kesal karena ia sudah sejauh ini dan baru menyadari kebenarannya.

Seandainya ingatan itu diperlihatkan dari awal, mungkin ia akan mewujudkan impian Caroline. Ia akan membebaskan diri Caroline atau menemukan Andreas dan mewujudkan cintanya. Kini setelah sejauh ini, apa yang bisa ia lakukan? Hatinya sudah berlabuh pada Cederix. Ia marah pada dirinya sendiri karena meskipun menyesal pada Caroline, ia tidak bisa membenci Cederix. Bagaimanapun dan sejahat apapun Cederix, ia sudah gelap mata dan terbutakan dengan cinta.

"Andreas. Andreas dimana?" Ucap Deluna teringat pada sosok pemuda yang menjadi kunci semua hal yang menimpanya.

Cederix terdiam mengepalkan tangannya. Seharusnya pria itu memenggalnya sebelum Deluna sadar. Rasanya sesak melihat wajah Deluna yang panik. Ia baru tahu bahwa Deluna memiliki tunangan. Selama tidak sadarkan diri, Cederix meminta Aglies untuk mencari tahu identitas pemuda asing yang ditolong Deluna.  Fakta yang mengejutkannya sebab itupula ia tidak bisa bertindak langsung melenyapkan pemuda itu. Entahlah, Cederix merasa tidak berdaya bila Deluna masih memiliki hubungan tertentu. Cederix ingin Deluna benar-benar mengakhiri hubungan dengan pemuda itu dan menegaskan cintanya pada Cederix. Seharusnya saat penaklukan itu ia benar-benar menghabisi semua orang tanpa sisa atau seharusnya ia mencari tahu semua hal tentang Deluna ketika ia mulai merasakan ketertarikan dengan Deluna. Yah, semua hanya bisa di andai-andaikan.

Namun kenyataan pahit yang menghantamnya. Seakan Deluna masih mencintai pemuda itu. Mengamati wajah cantik yang sedang resah membuat Cederix tersenyum getir. Bagaimana jika Deluna yang ingin berpisah dengannya dan kembali pada Andreas? Tidak. Cederix tidak bisa membayangkannya. Berpisah sejenak saja bisa membuat Cederix goyah dan hampir menghancurkan seluruh istananya.

"Hei, kau masih harus istirahat Deluna." Ucap Cederix dengan lembut mengelus telapak tangan Deluna.

"Dimana Andreas? Aku harus bertemu dengannya." Ucap Deluna membuat dada Cederix nyeri.

Selir Deluna [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang