Semilir angin berhembus dengan tenang, daun-daun berguguran, langit masih menghitam meski hujannya telah reda. Aroma tanah basah masih tercium jelas di indera penciuman seorang lelaki.
Mata tajam nya membidik tajam ke depan, menatap tajam target. Tangannya mengarahkan anak panah yang akan meluncur bebas ke arah target.
Tepat sasaran. Anak panah itu menancap dengan sempurna di tubuh kelinci kecil. Kelinci kecil itu pun tumbang karena anak panah yang menancap di tubuhnya.
Lelaki itu tersenyum puas seraya menghampiri kelinci yang sudah tak berdaya itu. Lelaki itu, Leon.
Tak ada secuil rasa iba di hatinya, anak itu seperti robot yang tidak mempunyai rasa kasihan.
Drtt...drt..
Handphone di saku nya bergetar, tanda ada seseorang yang memangilnya. Leon menjauh dari kelinci itu dan mengangkat panggilan dari handphone nya.
"Apa kau baik-baik saja Leonard?" Suara seorang wanita menyapa nya dari seberang telepon.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Leon dengan nada dingin.
"Bagus. Jangan pernah lengah, atau nyawa mu terancam." Ujar wanita itu dengan tegas.
"Hm"
"Saat umur mu 20 tahun nanti, kamu akan kembali ke saya."
"Sebelum itu, beri tahu siapa aku sebenarnya."
Terdengar suara tawa dari seberang sana.
"Apa yang ingin kau tahu?"
"Keluargaku."
"Heumm kau memiliki seorang kakak laki-laki."
Tut.
Sambungan telepon itu terputus.
Ada banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya, menuntut jawaban.
"Gue siapa?.."
****
Zayyan kini sedang termenung di atas bangku kayu yang berada di jendela kamarnya. Matanya menatap objek yang ia sukai, hujan. Ia menatap setiap air yang turun dari langit.
Ingatannya kembali pada memori beberapa tahun silam, saat adiknya masih ada di sisinya, dan pria yang ia sebut Ayah menjadi monster yang menyeramkan di hidup mereka.
"Ampun Yah, maafin Zayyan.."
Anak kecil dengan usianya yang masih 5 tahun harus mendapatkan siksaan yang menyakitkan dari orang tuanya.
"MATI KAMU MATI!"
"ANAK GA TAU DI UNTUNG!"
Pria dewasa itu terus menginjak dada anak kecil yang terbaring lemah di atas tanah yang tidak di alasi apapun.
"A-ayah.. sakit.." air mata menggenang di kelopak matanya, ia kesulitan untuk bernafas.
Pria itu menekan kakinya, menguatkan injakan nya, membuat anak itu semakin merasa tersiksa.
"ARGHH"
Zayyan kecil berteriak, menangis dalam diam.
Leo yang berada di sudut ruangan hanya memperhatikan kejadian itu tanpa tau harus berbuat apa.
"Ayah, udah kasian bang Zay.." Leo berujar lirih dengan suara bergetar.
"DIAM KAMU BOCAH CILIK!"
Pria dewasa itu mengangkat kaki nya, dan Zayyan bisa bernafas lega.
Rupanya, siksaan itu belum berakhir, pria itu mengambil sapu yang berada di pojok ruangan dan mengangkat nya tinggi-tinggi.
Sapu itu di sabetkan kearah Zayyan dengan sekuat tenaga. Zayyan lagi-lagi hanya bisa menjerit pilu.
"I-ibuu.." lirih Zayyan yang hanya terdengar olehnya.
Zayyan mengerjapkan matanya, menyudahi ingatan-ingatan kelam itu.
Hatinya meringis mengingat kejadian kelam itu. Rasa rindu tak bisa ia bendung lagi di dalam hati, rasa rindu akan kasih sayang seorang ibu, dan rasa rindu kepada adik nya.
Ibunya meninggal sejak Leo lahir ke dunia, maka dari itu ia sangat menyayangi Leo karena ia adalah satu-satunya peninggalan ibu.
****
"BANGGG!!"
Suara cempreng yang berasal dari Sean memenuhi ruang kamar yang terlihat kosong.
"Berisik!"
Bantal mendarat dengan sempurna di kepala Sean, pelakunya adalah Lexan. Ia merasa tergganggu dengan suara nyaring itu.
"Yaelah Bang sensi bangat, lagi pms ya?"
"Bacot."
"Nih makan, Lo pasti belum makan kan?" Sean melempari kantong pelastik yang berada di genggaman nya.
"Thanks."
"Muka Lo kenapa bonyok-bonyok begitu?" Ujar Sean meringis melihat luka lebam yang berada di wajah Lexan.
"Gapapa."
"Gipipi. Kaya cewe jawaban lo."
Lagi, bantal mendarat di kepala Sean.
"Kena pukul Ayah lagi ya?" Tanya Sean, tepat sasaran.
Lexan menatap Sean dalam, tatapan terluka terlihat jelas di mata nya.
Mereka tumbuh bersama, semua luka yang Lexan alami Sean selalu tau, begitupun sebaliknya.
"Gue iri sama lo." Ujar Lexan.
"Lo bisa dapetin kasih sayang itu, sementara gue ngga."
"Gue benci sama lo."
"Gue mau Lo mati."
"Gue mau Lo ngerasain apa yang gue rasain."
"Gue mau lo tersiksa di dunia ini."
Lexan terus meracau, dengan tatapan terluka.
"Bunuh gue, kalo itu bisa buat Lo bahagia." Ucap Sean, ia menyerahkan pisau lipat yang berada tidak jauh darinya.
Lexan menyeringai, mengambil pisau itu dan melangkah mendekati Sean.
"Bunuh dia! Matikan dia!"
Bisikan-bisikan di kepalanya membuatnya kehilangan kendali, matanya menatap tajam kearah Sean seolah dia adalah musuh terbesarnya.
Jarak mereka semakin dekat, Lexan mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, dan...
"Arghh."
****
See u..

YOU ARE READING
Takdir Yang Tertulis
General FictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA❗❗ Dulunya, dua orang Kaka beradik saling menumpu satu sama lain. Dulunya, mereka saling menguatkan satu sama lain. Tetapi, itu dulu. Semenjak penculikan itu mereka terpisah. Tidak ada lagi kaka beradik yang selalu bersama...