part 6

6 1 0
                                    

Mereka menginap di Ocean Serenity Villa, sebuah hotel butik yang terletak di tebing Nusa Penida, hanya beberapa menit dari Pantai Crystal Bay. Hotel ini terkenal dengan arsitekturnya yang memadukan gaya tradisional Bali dan modern minimalis. Setiap villa memiliki balkon pribadi yang langsung menghadap laut lepas, memungkinkan tamu menikmati suara deburan ombak dan aroma laut yang segar.

Pada malam hari, lampu-lampu taman menyala lembut, memberikan suasana romantis. Suara deburan ombak dan udara segar dari laut menjadi pengiring malam yang sempurna. Hotel ini juga terkenal karena layanan pribadi dan keunikan kuliner lokal yang ditawarkan kepada para tamu, membuat mereka merasa seperti di rumah.

Di balkon villa, Valeria duduk bersandar sambil menghirup udara segar bercampur aroma laut. Di hadapannya, hamparan ombak yang bergulung pelan terlihat berkilauan diterpa sinar bulan. Beberapa burung laut masih berputar di atas perahu nelayan yang berlayar di kejauhan. ia menyandarkan tubuhnya, tenggelam dalam ketenangan malam.

Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh. Gaza berdiri di sana, membawa nampan kayu yang penuh dengan camilan tradisional Bali. “Aku bawa sesuatu buat nemenin malam ini.” ujarnya sambil mengangkat nampan itu sedikit.

Valeria tersenyum, membukakan pintu untuk Gaza. “Masuk saja. Aku nggak menyangka kamu seberinisiatif ini.”

Mereka duduk di balkon bersama. Gaza meletakkan nampan di meja kecil di antara mereka. “Ini beberapa camilan khas Bali. Aku pilihkan yang paling terkenal dan, menurutku, paling enak.” jelasnya sambil menunjuk satu per satu makanan di atas nampan.

Gaza mengambil sepotong jaje laklak, kue kecil berbentuk bulat yang disiram gula aren cair dan parutan kelapa. “Ini namanya laklak. Dibuat dari tepung beras, warnanya hijau karena pakai daun suji. Rasanya manis, tapi ada gurihnya juga dari kelapa. Biasanya dimakan pagi-pagi, tapi malam begini juga cocok.”

Valeria mengambil satu potong dan menggigitnya perlahan. Matanya langsung berbinar. “Teksturnya lembut banget, terus gula arennya... seperti meleleh di mulut.”

Gaza tersenyum kecil, senang dengan reaksi Valeria. “Memang itu yang bikin banyak orang suka. Jaje laklak ini salah satu favoritku waktu kecil.”

Kemudian ia menunjuk jaje begina, camilan manis berbentuk kerucut kecil yang terbuat dari beras ketan dan gula merah. “Kalau ini begina. Rasanya hampir mirip dodol, tapi lebih kenyal. Dibuat dengan proses yang cukup lama karena harus dimasak sambil diaduk terus.”

Valeria mencoba begina. “Ini manisnya beda. Lembut di lidah, tapi ada rasa karamel yang khas.”

Gaza mengangguk. “Iya. Itu karena gula merahnya asli dari pohon aren lokal. Makanya rasanya lebih kuat dibanding gula biasa.”

Mereka terus berbagi cerita sambil mencicipi camilan lainnya, seperti jaje uli yang kenyal dengan aroma pandan, dan dadar gulung yang manis dengan isi kelapa parut. Gaza menjelaskan setiap camilan dengan detail, dari bahan hingga tradisinya.

“Gaza, kamu kayak ensiklopedia makanan berjalan.” goda Valeria sambil tertawa kecil.

Gaza mengangkat bahu dengan senyum malu-malu. “Aku cuma ingin kamu tahu kenapa makanan ini spesial. Lagi pula, nggak ada yang lebih menyenangkan daripada berbagi sesuatu yang kita suka dengan orang lain.”

Valeria menatap Gaza sesaat, merasa hatinya hangat. “Aku senang kamu mau berbagi. Semua ini... rasanya seperti pengalaman yang nggak akan aku lupakan.”

Semakin lama Valeria bersama Gaza, semakin ia merasa bahwa apa yang mereka miliki lebih dari sekadar persahabatan. Kebersamaan mereka selalu dipenuhi dengan tawa, cerita, dan momen-momen kecil yang membuat hatinya hangat. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tak pernah hilang dari pikirannya.

Apakah Gaza juga merasakan hal yang sama?

Valeria sering memutar ulang setiap momen yang mereka lewati bersama dalam benaknya, mencoba mencari petunjuk. Cara Gaza menatapnya, perhatian kecilnya, dan lelucon santainya yang selalu membuat Valeria tertawa, semua itu terasa begitu berarti. Namun, setiap kali ia berpikir untuk membahas perasaannya, ada keraguan yang menahannya.

“Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika dia hanya menganggapku sebagai teman?” gumamnya sendiri suatu malam saat ia duduk di balkon rumahnya, memandang bintang-bintang.

Gaza adalah sosok yang sulit ditebak. ia selalu tampak santai. Namun, justru itulah yang membuat Valeria bertanya-tanya. Apakah ada sesuatu yang ia coba sembunyikan sendirian?

Kekhawatiran itu semakin menguat seiring waktu. Valeria tidak ingin menuntut apa pun, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya. ia mulai merasa lelah dengan ketidakpastian ini. Meski begitu, ia tetap menikmati kebersamaan mereka, takut jika mengungkapkan perasaannya malah akan mengubah segalanya.

Sambil menatap langit malam yang cerah, Valeria menggenggam cangkir teh hangat di tangannya. “Aku hanya ingin tahu, Gaza... apakah kau juga merasakan hal yang sama? Atau ini hanya harapanku saja?” bisiknya pelan.

Sejak perjalanan study tour itu, Gaza dan Valeria menjadi semakin dekat. Mereka tak lagi terlihat canggung atau ragu untuk menunjukkan kedekatan, bahkan di hadapan banyak orang. Setiap orang di sekitar mereka mulai memperhatikan keakraban yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan biasa.

Malam itu, Valeria dan Gaza memutuskan untuk makan malam di sebuah warung sederhana yang terletak di tepi jalan. Warung itu terkenal dengan pecelnya yang legendaris. Tempatnya kecil, hanya terdiri dari beberapa meja kayu dan kursi plastik, tetapi penuh dengan pelanggan yang datang untuk menikmati makanan khasnya.

“Pecelnya di sini memang terkenal,” kata Gaza sambil menyerahkan sepiring pecel lengkap dengan tempe goreng dan kerupuk kepada Valeria. “Bumbu kacangnya dibuat dari kacang tanah yang digoreng dengan sempurna. Rasanya pedas, manis, dan gurih sekaligus. Katanya, resepnya sudah turun-temurun dari pemilik pertamanya.”

Valeria tersenyum, mencicipi sesuap nasi dengan pecel. “Wow, Gaza. Pecel ini beneran enak, sampai bikin aku pingin nambah.”

“Rahasianya ada di daun jeruk dan gula merah yang mereka gunakan.” Gaza menjelaskan sambil menikmati makanannya. “Kombinasinya pas, kan?”

Mereka makan dengan lahap, bercanda tentang hal-hal kecil yang terjadi di hari-hari mereka. Suasana santai warung dengan obrolan pelanggan lain di sekeliling mereka, menambah kenyamanan malam itu.

Ketika Ombak Berbicara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang