part 7

2 1 0
                                    

Setelah selesai makan, Valeria meminta Gaza berhenti di sebuah pantai kecil, tempat yang sering ia kunjungi bersama kakaknya, Marvel di saat senggang. Suasana pantai begitu tenang, hanya suara ombak yang memecah kesunyian malam.

Valeria berdiri di tepi pantai, menatap hamparan laut yang gelap dan luas. “Aku tahu ini aneh,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin malam. “Tapi aku merasa laut ini adalah penghubungku dengan Ayah dan Ibu.”

Gaza memiringkan kepalanya, menatap Valeria dengan penuh perhatian. “Kenapa begitu?”

Valeria menarik napas dalam, suaranya bergetar saat mulai bercerita. “Dulu, kak Natan sangat teramat menyukai laut lebih dari siapapun, ia begitu antusias mengajak kami semua ke laut. Dia ingin merayakan ulang tahunnya dengan pesta di tepi pantai. Itu harusnya jadi momen yang indah, tapi... kita tidak pernah tahu bencana datang kapan, kan?” ia terdiam sejenak, mencoba menahan emosi yang meluap.

“Ts..tsunami itu datang tiba-tiba, merenggut Ayah dan Ibu.” Suaranya pecah. “Kak Natan menyalahkan dirinya sendiri sejak hari itu. Dia trauma, Gaza. Dia tidak pernah ingin dekat lagi dengan laut. Bahkan dia melarangku setiap kali aku ingin datang ke sini.”

Gaza menatap Valeria dengan rasa bersalah yang ia sendiri tidak mengerti sepenuhnya. Namun, ia tetap diam, mendengarkan cerita Valeria dengan sabar.

“Tapi aku merasa berbeda,” Valeria menatap ombak yang bergulung lembut. “Aku merasa laut ini... adalah tempat di mana ayah dan ibuku masih ada dan mereka tetap hidup walaupun berada jauh di dasar bahkan diujung sana.”

Gaza menelan ludah, matanya menatap jauh ke arah laut. Ada sesuatu dalam cerita itu yang membangkitkan memori yang tak ingin ia ungkapkan. “Val,” panggilnya lembut. “Kamu luar biasa kuat. Laut memang tempat yang tak terduga. Tapi aku pikir, dia juga menyimpan banyak hal indah didalamnya.”

“Maka dari itu aku sangat menyukai laut karena aku selalu ingin dekat dengan kedua orang tuaku. Saat aku merindukan ayah dan ibu, kak El membawaku kemari hanya untuk sekedar menikmati deburan ombak, walaupun kak Nathan sering kali melarang kami dan memberikan peringatan keras, tapi Kak El selalu meyakinkan kak Nathan bahwa semua itu hanya kejadian di masa lalu yang kelam.”

Gaza mengangguk pelan, tapi pikirannya mulai terbawa ke dalam. Seolah cerita Valeria mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini ia coba lupakan. Namun, ia memilih untuk tidak mengatakan apa pun malam itu. Sebaliknya, ia memastikan Valeria tahu bahwa ia mendengarkan dan ada di sana untuknya.

Setelah meninggalkan pantai yang sunyi, Gaza mengantarkan Valeria pulang kerumahnya, ia menghidupkan motornya, membiarkan suara mesin mengisi keheningan malam. Valeria duduk di belakangnya, tangannya ragu-ragu menyentuh punggung Gaza sebelum akhirnya menggenggam erat. Mereka meninggalkan pantai itu dengan suasana hati yang sulit dijelaskan antara keduanya.

Sepanjang perjalanan, hanya suara angin malam yang menemani mereka. Jalanan sepi, diterangi lampu jalan yang terpancar dengan hangat. Gaza memilih jalur yang memutar, memberikan waktu lebih lama bagi Valeria untuk menikmati perjalanan. Sesekali, ia melirik ke belakang, memastikan Val tetap nyaman.

Namun, suasana berubah begitu mereka tiba di depan rumah Valeria. Di teras rumah terlihat sosok tinggi tegap yang berdiri dengan tangan bersilang. Natan, kakak Valeria menunggu dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan.

Val turun dari motor, sedikit gugup. Sebelum ia sempat membuka mulut, suara berat Natan memecah malam. "Darimana saja baru pulang jam segini?" tanyanya dengan nada dingin yang tajam.

Val membuka mulut, namun Natan sudah beralih menatap Gaza dengan tatapan tajam layaknya pisau. “Dan kamu, siapa? Berani sekali membawa adik saya keluyuran sampai larut malam begini.

Val mencoba menengahi. "Kak..." panggilnya pelan, tetapi suaranya tenggelam dalam ketegangan di antara kedua lelaki itu.

"Saya hanya mengajak Val mencari udara segar dan mampir untuk makan malam di warung pecel pinggir jalan." jawab Gaza tenang.

Natan memicingkan mata, tatapannya kini jatuh pada leher Gaza. Sebuah kalung perak tergantung di sana, liontinnya berbentuk lingkaran dengan dua ikan berenang melingkar di sekitar jangkar, dengan latar belakang gelombang laut dan burung camar. Lambang ini tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam didalamnya, itu adalah Sebuah simbol yang menyimpan banyak cerita kelam yang pernah terjadi di masa lalu.

Jantung Natan berdegup keras. ia sangat mengenali logo itu. Lambang yang dulu identik dengan organisasi "Pencinta Laut" yang sempat membuat kehebohan beberapa tahun silam. Organisasi itu awalnya berdiri untuk melindungi laut dan ekosistemnya, tetapi kemudian dituduh sebagai dalang di balik berbagai tragedi dan kecelakaan. Aktivitas mereka konon telah dihentikan, namun desas-desus tentang keberlanjutannya masih beredar.

Mata Natan menyipit. “Val, cepat masuk ke dalam.” ucapnya dengan nada yang tak bisa dibantah.

“Tapi, Kak…”

"KAKAK BILANG MASUK, VALERIA!" bentaknya keras, membuat Valeria terkejut sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam rumah.

"Jadi, kamu bagian dari mereka?" tanya Natan, suaranya penuh tuduhan.

Gaza tetap tenang meski ada ketegangan di wajahnya. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud."

“Kalung itu,” Natan menunjuk, nadanya dingin. “Saya tahu persis siapa kalian. Dan saya tidak akan membiarkan adik saya terseret ke dalam urusan kotor kalian. Lebih baik jauhi dia, sebelum semuanya menjadi semakin rumit.”

Gaza menatap Natan tanpa berkata-kata, tetapi pikirannya berputar. Bagaimana Natan bisa tahu tentang organisasi itu? Gaza tak pernah menyebutkannya pada siapa pun, apalagi membiarkan lambang itu menjadi petunjuk.

“Saya pamit.” ucap Gaza singkat sebelum menyalakan motor dan melaju menjauh. Malam yang awalnya tenang berubah menjadi penuh pertanyaan dan kekhawatiran. Gaza tahu, kehadirannya di hidup Valeria kini menjadi lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

Ketika Ombak Berbicara Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang