Hari-hari berlalu tanpa banyak kejutan, kecuali bagi Jayn yg menaruh curiga pada Nata dan Bara setelah malam dimana dia kerja kelompok dirumah Damio.
Dari bangku belakang kelas 12-A, Jayn memperhatikan Nata dengan dahi mengernyit.
Bukan karena tugas Matematika yang belum kelar, tapi karena sejak dua hari lalu Nata semakin aneh, Nata memang minim interaksi sebelumnya. Bahkan sejak awal kepindahannya ke sekolah ini dia malah sering di rundung dan dia nerima gitu aja tanpa perlawanan. padahal secara fisik dia tidak begitu lemah, Jayn yakin dia tidak sepolos itu.
Jayn duduk bersandar malas, tapi matanya tajam mengarah ke bangku depan, menyorot seorang Nata. Sikutnya menyenggol lengan Gemi yang duduk di sebelahnya, masih asyik scroll TikTok. “Gem …”
“Gam Gem Gam Gem—gue bukan Kak Gem, tai,” desis Gemi malas, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Nama gue Ryo ya ...” “Ryonardo.” koreksinya.
Jayn mendengus, “Bunda lu aja manggil lu Gemi.”
Gemi ngelirik setengah kesel. “Apaan sih… ganggu aja.” Tapi Jayn gak nyerah. Dia narik kursi Gemi mendekat, bikin suara gesekan kayu memecah keheningan kelas. “Sini-sini. Gue punya sesuatu. Penting.”
Gemi ngelirik sambil tetap pura-pura cuek, tapi pas Jayn bisikin sesuatu ke telinganya—mata cowok itu langsung membulat. “Apaan?! Seriusan?”
“Berani juga tuh orang …” gumam Gemi sambil mengepalkan tangan.
_____
"APAA ..."
"Sial .. Berani juga dia"
Disebuah ruko yang sudah tak terpakai .. Erland bersama dua anak buahnya sedang bersantai sebelum salah satu dari anak buahnya yg lain melaporkan kejadian hari ini.
Vito - salah satu bawahan Erland melaporkan tindakan Nata yg merobek buku tugas Erland yang sebelumnya dia suruh kerjakan.
"Jangan lupa beri pelajaran buat cacing kecil itu besok"
"Baik bos, selain itu beberapa hari ini dia ke sekolah bawa moge Boss". Mendengar hal itu Erland tersenyum aneh. Dia membenarkan duduknya lalu bersedekap dada.
"Lebih perhatikan dia, dan mulai sekarang suruh dia membayar untuk kita, Jika menolak- ambil uangnya secara paksa" perintah Erland.
__
Di koridor atas, Damio berjalan perlahan, memegang map tugas praktikum. Beberapa anak otomatis merendahkan suara saat dia lewat. Aura dingin dan wibawa yang nempel di cowok itu bikin semua orang mikir dua kali sebelum ngajak ngobrol tanpa keperluan jelas. Langit sudah sore, sekolah juga sepi hanya menyisakan beberapa siswa yang mengikuti ekskul dan keperluan pribadinya.
Jayn dan Gemi memperhatikannya dari ujung lorong. Gemi melirik Jayn dan menyikutnya.
“Eh, tuh idola lo. Kenapa gak cerita ke Damio langsung aja, kan dia bisa gali info dari semua orang.”
Jayn mendesah. “Gila lo, dia bukan customer service. Bisa-bisa gue diketawain. Lagian, gue gak yakin Damio bakal peduli soal beginian.”
Gemi terkekeh. “Ya udah, biar waktu aja yang buka rahasia mereka.”
Keduanya memilih berlalu, berjalan berdampingan menuju lantai bawah sambil sesekali melempar candaan sampai dimana sesuatu menarik atensi Gemi. "Jay, lu duluan aja dah. gue kebelet nih." ucapnya yg secara naluriah memegang bendanya sendiri.
"Anjirr lu, gue keburu sat ada urusan lain. gue duluan dah." tanpa menunggu Gemi, Jay langsung melenggang pergi sendiri. Setelah diyakini jay sudah mulai jauh, Gemi kembali menormalkan ekspresinya, melirik ke sekitar dan atensinya tertuju pada sebuah pot bunga di depannya.
Gemi masih berdiri di tempatnya, pura-pura celingukan. Begitu yakin Jayn udah sangat jauh, dia mendekati pot bunga terdekat. Pelan-pelan, dia jongkok, pura-pura mengikat tali sepatu. Lalu—BRUK!
Siku kirinya menghantam tepian pot yang kasar. Perih langsung menjalar. Darah segar mulai mengalir, sebagian membasahi lengan seragamnya.
Gemi menarik napas dalam, menahan nyeri sambil menyeringai. “Pas.”
Dia melangkah santai menuju parkiran, melewati seseorang yang duduk diam di atas motornya. Anak itu nggak menyadari keberadaanya. Matanya sembab, ujung hidungnya merah.
Ah, damn. “Manis gini abis nangis?” batin Gemi sambil pura-pura berdehem kecil.
Fourth mendongak cepat, buru-buru ngusap pipinya. “Maaf kak, ini motor kakak ya?”
Gemi tersenyum tipis. Rasanya kayak disambit rasa bersalah… tapi juga tertarik.
Tangannya spontan mengangkat, menangkup pipi Fourth yang masih hangat. “Kamu kenapa?” bisiknya lembut, ibu jarinya mengusap perlahan pipi yang mulai kering.
Fourth tampak bingung, tapi kemudian matanya tak sengaja melihat noda darah, ternyata itu berasal dari lengan Gemi. “Kak … itu … luka?” Dia menggenggam tangan Gemi, lalu tanpa banyak tanya, dia menariknya ke arah UKS. Gemi ngikut, masih tersenyum pelan. Dalam hati, dia tahu: semua sesuai rencana.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
HOPELESS || TaBarcode🔞
Teen Fiction"Bahkan atmosfer kita saja berbeda, bagaimana kita bisa bersatu" __ Nata "Jika ingin penyatuan, datanglah ke apartemenku malam ini" __ Bara
