Tangannya masih bau besi. Entah karena darah, atau karena rasa bersalah.
Dia bahkan nggak berani menatap bayangannya sendiri di cermin kamar mandi.
"Bangsat," bisiknya pelan, membasuh tangan untuk keempat kalinya.
Air dingin terus mengalir, tapi panas di dadanya nggak ikut surut.
Bara kira, setelah memukul Nata, semuanya bakal selesai.
Nyatanya, justru semuanya jadi makin kacau. Nata pingsan...
Teman-teman Erland ngakak puas.
Dan seperti kata Erland: Bara udah balik ke jalur yang bener.
Jam dinding berdetak pelan di kamarnya.
Sudah lewat tengah malam. Tapi rasa bersalah itu malah makin kencang, makin bersuara tiap detik berlalu.
Tiba-tiba ponselnya menyala.
Satu notifikasi masuk dari Fourth.
[Fourth 🐢]
01.15
Lu oke?
Bara nggak langsung bales. Dia duduk di tepi ranjang, menatap tangan yang sudah kering—tapi rasanya masih lengket.
Apa yang harus gue jawab?
[ Me ]
01.22
Kenapa lu nanya gitu?
[Fourth 🐢]
01.22
Tadi sore gue liat lu berantem lagi, Bar.
Bara menggertakkan gigi. Tangannya meremas ujung selimut, seolah bisa meremukkan rasa sesaknya sendiri.
Dia pengen bilang semuanya cuma salah paham. Tapi kenyataannya...
Dia emang mukul Nata. Dia emang bikin anak itu pingsan.
Dan yang paling nyakitin—Nata nggak ngelawan.
Nggak ada perlawanan, nggak ada rintihan,
Dia cuma diam...
Diamnya yang malah makin menyakitkan bagi Bara.
Bara memejamkan mata. Jantungnya berdetak pelan... tapi terasa nyeri.
Dia yakin, Nata bukan anak lemah.
Tapi juga bukan orang yang pantas diperlakukan kayak tadi.
Dan apa yang telah dia lakukan...
Dia sadar itu semua salah, tapi dia tetap milih jadi bangsat.
Dia menatap lagi tangannya, masih utuh ... Tapi rasanya kayak tangan orang lain.
Dan waktu dia mengangkat wajah...
Bayangan Nata muncul di cermin, tersenyum tipis tapi penuh luka.
Bara harus pergi. Dia harus melihat Nata.
Apakah Nata masih hidup?
Atau setidaknya dia masih cukup kuat buat membencinya.
Dia meraih ponsel yang tergeletak di kasur dan langsung menghubungi kenalannya. Tak lama, panggilan tersambung.
“Dia dirawat di mana?”
_______
Suara mesin, Bau disinfektan yang menyengat, dan lampu putih menyilaukan mata. Nata membuka kelopak matanya perlahan.
Dia memerhatikan sekitar ... Langit-langit putih, dan Dengung pelan dari alat medis yang entah apa namanya. Dia mencoba menggerakkan tangan, tapi perih menyengat di sikunya. Matanya menatap infus yang menancap, Dia ada di rumah sakit.
Jantungnya berdetak kacau, sangat kontras dengan suasana di ruangan itu yang terlampau sunyi.
Tidak ada orang duduk di samping ranjang. Tidak ada siapa-siapa di sini selain dirinya sendiri.
Nata menoleh pelan, dia berusaha untuk duduk, namun sakit di area perutnya membuatnya kesulitan. Meja di sampingnya kosong, hanya ada sebotol air mineral dan satu kaleng biskuit yang belum dibuka.
Tenggorokannya kering. Dia menelan ludah. Dan tiba-tiba, semuanya kembali.
Tawa Erland.
Sepatu yang menghantam rusuk.
Dan... pukulan terakhir dari Bara.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOPELESS || TaBarcode🔞
Teen Fiction"Bahkan atmosfer kita saja berbeda, bagaimana kita bisa bersatu" __ Nata "Jika ingin penyatuan, datanglah ke apartemenku malam ini" __ Bara
