9. Reset

0 0 0
                                    

Musim Panas, 2021

Mata itu terpejam, sangat damai kelihatannya. Entah mimpi apa yang tengah merengkuh adiknya kini, tapi ia berharap itu adalah mimpi yang indah. Semua kata-kata yang baru ia dengar belum dapat ia cerna sepenuhnya. Namun ia sudah mendapat satu poin kesimpulan, hari ini adalah hari yang panjang untuk adiknya.

riiing

Lamunannya buyar. Ia melihat ke atas nakas, itu bukan dering dari ponselnya. Ponsel hitam itu terus berdering dan ia terus ragu apa harus mengangkatnya. Namun jika dering itu dibiarkan terlalu lama adiknya bisa saja terganggu.

Dering itu terhenti, ia bernapas lega. Berarti ia tak perlu pusing lagi. Namun tiba-tiba deringan itu datang kembali. Ia melirik yang terbaring dengan mata terpejam. Adiknya sudah terlelap, sepertinya aman untuk ditinggal. Diraihnya ponsel yang terus mengoceh itu dan meninggalkan ruangan.

Pintu di belakangnya tertutup pelan. Matanya masih berfokus pada layar ponsel di tangannya. Ia memang meraihnya dan membawanya pergi, tapi bukan berarti ia yakin untuk mengangkatnya. Benda ini bukan miliknya dan panggilan ini juga bukan untuknya. Bukankah tak sopan jika ia menjawabnya tanpa ijin pemiliknya?

Dering itu menghilang lagi, tapi beberapa detik kemudian muncul kembali. Ia menelan ludah lalu menggeser tombol hijau. Jika sudah sampai tiga kali seperti ini, pasti panggilan penting.

"Teo"

Suara seeorang muncul dari benda dalam genggamannya, tapi ia merasa terlalu canggung untuk menjawab.

"Teo, kau di sana?"

"Ini Chloe, kakak Teo. Teo sedang tidur" ia mencoba menjawab, tapi yang tercipta selanjutnya adalah kesunyian. Ia mulai berpikir harus mematikan sambungan telepon ini. Namun manusia di seberang tak memberi indikasi bahwa sambungan ini harus diputus. Di sisi lain, indikasi bahwa sambungan ini tetap harus dipertahankan juga tidak diberikan.

"Apa dia baik-baik saja?"

"Ya, sepertinya"

"Maaf"

Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia bahkan tak yakin apa konteks dari permintaan maaf itu.

"Tadi aku berkunjung ke sana, Teo tampak tak sehat tapi aku malah meninggalkannya sendiri"

"Tak apa-apa, dia bilang hanya kelelahan"

Ia membuka kembali pintu kamar adiknya sedikit. Dintipnya keadaan kamar yang seyap. Adiknya masih terlelap di atas kasur. Walau tempat itu seolah sudah aman untuk ditinggal, rasa khawatir masih menyelinap di hatinya.

"Adam, namamu Adam kan? Aku melihatnya di nama kontak"

"Iya"

"Apa kau teman sekolahnya?"

"Ya, di kelas Teo duduk di depanku"

Ia menggigit bibir bawahnya. Rasa khawatir yang menelusup perlahan meremas hatinya. "Jika tak keberatan" ia kembali mengintip ke celah pintu, semuanya tampak aman.

"Boleh aku minta tolong untuk mengawasi Teo di sekolah? Maksudku, dia tampak mengkhawatirkan"

"Aku mengerti"

"Aku mengerti"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Ketika Rembulan Menutup MentariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang