"Kau siap ?" Suara serak itu terdengar menyeramkan, membuat wanita itu merinding dalam pelukan hangatnya. Lengan kirinya mencengkram allesia kuat-kuat, meski kedua tangannya terikat—aska masih terus mengawasinya.
Sialan, mereka sudah berada didepan pintu bercat putih itu, allesia sudah memegang kuncinya, namun jemarinya lagi-lagi ragu membukanya.
Masih belum siap.
Ia menghembuskan nafas dalam-dalam, menyiapkan diri. Dia-sudah menyiapkan kata-katanya sedari kemarin, dan hari ini dia akan bersuara. Ancaman aska tentu bukan main-main, meski seminggu ini ia tak bicara apapun pada kakaknya, nampaknya itu bukan masalah untuk aska—selagi dia menurutinya dengan sangat baik.
Aska mendekat kesamping wajahnya, menatapnya dengan sangat lembut. "Kau bukan hanya membuang waktuku, tapi kau juga nyaris membuatnya mati didalam sana." Tunjuknya pada pintu bercat putih itu.
Allesia masih diam, kepalanya berpikir keras, tidak mungkin mereka melakukannya. Dia telah menutujuinya, untuk mengakhirinya dengan diaz, memulai hubungan baru dengannya. Tidak mungkin, aska melaksanakan ancamannya bukan ?
Jemarinya membuka pintu itu cepat, dengan sedikit ketidaksabaran. Nyaris sedikit memaksa, namun juga cukup sulit—karna kedua tangannya diikat oleh iblis disampingnya ini.
Aska terkekeh, wanita ini terlihat manis dengan semua usahanya.
Pintu terbuka.
Allesia nyaris jatuh jika aska tak langsung menangkapnya, berdiri dibelakangnya dengan posisi setengah memeluknya. Diaz pria itu—nampak sedikit merintih ketika menatapnya, pria baik itu penuh luka baret nyaris disekujur tubuhnya. Bahkan wajah tampannya nyaris tidak dikenali lagi, penuh luka gores—bahkan dapat dia lihat adanya luka yang sudah lama dan luka baru. Tubuhnya hanya mengenakan celana panjang hitam yang menutupi sepanjang kakinya, rambutnya habis tak bersisa, menyisakan tatapan kesedihan yang mendalam.
Air mata gadis itu menetes, melihat pria yang selama ini mempertahankan kewarasannya harus menjadi seoongok daging penuh luka. Harusnya, dia tidak pernah lari. Harusnya mereka tidak pernah pergi bersama. Harusnya dia tidak pernah melibatkan siapapun. Harusnya dia tidak senekat itu untuk menyembunyikan anak kakaknya dan lari dengan pria lain. Harusnya dia tidak pernah melakukan semua itu.
Tubuhnya lungkai terduduk, aska tak menahannya lagi. Dia menangisinya dengan keras—ketika dia melirik aaron yang hanya menatapnya puas, tatapan itu mengambarkan bahwa 'ini yang kau dapat dari pemberontakanmu itu'.
"AKU AKAN MELAPORKAN INI KEKANTOR POLISI! KALIAN NYARIS BUKAN MANUSIA! APA SALAHNYA! KENAPA MELAKUKAN ITU PADANYA!" Teriaknya sangat keras, namun malah mengundang tertawaan dua pria itu.
"Kau mau melaporkan ini pada orang-orang tolol yang menerima suapan kami allesia ?" Aaron terkekeh senang. "Dengan hanya satu tanganku, aku membuat duniamu hancur begitu saja. Kau membuat temanku hancur, sebagai gantinya aku membuat temanmu juga hancur. Lalu dimana letak kesalahannya ? "
Wajah allesia memerah. "Apa kau bahkan seorang manusia ?"
Aaron menyeringai, "tentu saja. Aku dikandung dan dilahirkan sama sepertimu. Tapi setelah itu dibuang bagai seoongok sampah tidak bernilai, aku bahkan lebih hina dari seekor binatang. Lalu kenapa, apa itu masalahmu ?"
"Aku tidak tertarik pada masa lalu kelammu, lepaskan temanku!"
Aaron tersenyum simpul, tangan kasarnya menyikap rambut yang menutupi penglihatannya, menyugarkannya keatas—seketika beberapa tetes darah yang masih lengket ikut mengenai wajah tampannya. Dia tersenyum simpul, kedua lesung pipinya terlihat sangat manis.
"Kau beruntung karna kau wanita yang dicintai aska, kalau tidak—tanganku ini sudah melepaskan kepalamu dari tempatnya."
Wanita itu sudah berdiri untuk segera menerjangnya, tanpa takut sedikitpun. Aska menghentikan itu dengan pelukan keras, menahan wanita itu disisinya. "Kau membuang waktu seminggu untuk menambah lukanya allesia. Kaulah satu-satunya yang bersalah, kau yang membuat pria pilihanmu nyaris mati sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry Lia [END]
Novela JuvenilAska terobsesi pada adik angkatnya, cinta tidak biasa hadir diantara mereka. Allesia tidak menyadarinya, menganggap bahwa semua pukulan itu sebuah kebencian, padahal tanpa gadis itu sadari, itu hanya sangkalan betapa kerasnya hati aska menolak peras...
![Sorry Lia [END]](https://img.wattpad.com/cover/294936527-64-k577470.jpg)