ekstrachapter 1

2.7K 46 3
                                        


Aska merasakan pandangannya meremang, kemudian dia berkedip sekali lagi untuk menyadarkan kondisi, dia pikir dirinya sudah tiba dineraka dan siap menerima hukuman tuhan akibat tindakan bejatnya pada adik cantiknya itu—kemudian dia tersenyum, sangat tulus, mengingat kalau dia masih mengingat allesia bahkan setelah kematiannya.

Dia tersentak, kemudian menyadari ini bukanlah kegelapan setelah kematian, dia merasakan hembusan kecil pada jemari kasarnya, yang bahkan sekarang sudah mati rasa karna tertimpa beban kepala seseorang. Aska pikir ini sedang hujan, ketika menyadari bahwa pipinya sudah basah, namun kemudian dia tersadar ketika setetes demi setetes jatuh tepat baju biru mudanya, dia sadar bahwa itu air matanya sendiri.

Aska berpikir, untuk apa tuhan memberikan kesempatan hidup bagi dia yang brengsek ini, dia yang lagi-lagi akan menyakiti makhluk tuhan yang paling cantik ini.

Tangannya bergerak untuk menyentuh tubuh bersandar itu—kemudian ia tarik lagi, ragu. Belum semenit dia memandanginya, seseorang itu bangun, tersadar lalu memeluknya dengan erat, allesia, miliknya, cintanya.

"Kau sudah bangun, oh tuhan aku pasti sedang bermimpi." Allesia melepaskan untuk memandanginya sekali lagi, lalu memeluknya dengan erat.

Aska belum bergerak membalasnya, dia terpaku. "Jangan sebut-sebut tuhan sayang, atau dia akan berubah pikiran dengan menarik kesempatan hidupku nanti."

Allesia berkaca-kaca, rasa lelahnya dua bulan ini sudah hilang entah kemana.

"Begitukah ?" Dia terpaku untuk sementara, dan tidak membayangkan hal lebih indah daripada ini. "Dokter mengatakan bahwa kesempatan hidupmu hanya tiga puluh persen, tapi aku tidak percaya, kau kakakku yang kuat, tembakan itu tidak akan bisa membunuhmu, aku tau itu, jadi aku menunggu dan kau membuktikannya tepat dihadapanku."

Allesia memeluknya—semakin erat, bahkan baju yang aska kenakan sudah basah oleh air matanya, dia hanya tidak menyangka bahwa penantiannya akan berbuah manis.

"Kau tau—kakak, Aaron memukul dokter itu sepuluh kali ketika dia mengatakan itu, jadi dokter itu harus dirawat dan digantikan dokter lain."

"Aku tau dia akan melakukan itu."

"Dua bulan ini, aku terus-terusan bermimpi kau akan mati, kau akan meninggalkanku, wajahmu sungguh jelek sekali dimimpiku, aku tidak bisa membayangkan sungguh—jika itu nyata, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah kematianmu." Allesia menangis, air matanya jadi semakin deras.

Aska membalas pelukannya, tersenyum disepanjang renungannya, "bukankah kau menginginkan hal itu ?"

Gadis itu segara menghapus air matanya cepat, pipinya mulai memerah, malu.

"Aku sudah tidak mengingingkannya lagi." Allesia menjawab jujur, "itu hanya bayangan mimipiku, dan aku sudah setakut itu, kakak—jangan tinggalkan aku, aku ingin hidup bersamamu."

Pelukan itu mengerat, aska tau dia memiliki obsesi yang bahkan tidak pernah hilang dari kepalanya, dia mencintai allesia, dan bahkan jika tuhan menyabut nyawanya maka dirinya bersumpah akan terus mendoakan gadis itu agar ikut mati bersamanya. Perumpamaan cinta yang allesia katakan, hanya akan membuat perasaannya menggila saja—dan bahkan dia tidak pernah membayangkan bahwa allesia akan membalas perasaanya, dia cukup dengan cintanya sendiri dan memaksa gadis itu untuk selamanya, tapi apa yang allesia katakan, hanya akan menambah garis obsesinya saja.

"Apa kau baru saja menangis ?" Allesia menyentuh jejak air mata diwajahnya, aska memalingkan muka, tidak ingin disentuh.

"Bukan begitu, saat aku membuka mataku tadi, kepalaku sangat sakit jadi aku menangis, ya, benar karna kepalaku sangat terasa sakit." Aska menghindar, bahwa allesia tidak perlu menyadari betapa dia lemah dihadapannya.

"Kepalamu sakit sampai membuatmu menangis ?"

Gadis itu mengulang kalimatnya, ragu. Aska bahkan tidak pernah menangis saat dia sakit dan demam parah, dia tidak melibatkan siapapun sampai benar-benar sembuh, dan bahkan saat tertembakpun dia masih tersenyum, seakan luka itu bukan apa-apa untuknya.

Aska menatapnya tajam. "Itu benar, mengapa kau jadi meragukanku, "

Gadis itu mendegus sebal. "Itu tidak masuk akal, kau bahkan tidak pernah menangis disepanjang hidupmu, mana mungkin aku percaya begitu saja."

"Lalu, maumu bagaimana, huh. Aku mau menangis saja, kepalaku memang sakit, oh tidak, semua tubuhku sakit, lihat perutku ini penuh perban, dan apa yang kau lakukan, kau menduduki perut orang yang sedang sakit, jahat sekali kau ini." Gadis itu tersentak ketika menyadari jika dia mendudukinya, dan menjauh seketika. "Atau, mungkin saja aku tidak menangis, itu mungkin hanya halusinasimu saja, bisa saja atap rumah sakit ini bocor dan mengenai wajah tampanku, lalu kau beranggapan kalau aku tadi menangis, bisa saja kan."

Allesia menggeleng pelan, aska ini gila atau apa, dia hanya menebak dan aska mengelaknya berulang kali dengan jawaban yang sangat tidak masuk akal, apa-apaaan tadi.

Laki-laki itu memandanginya dengan seksama, dan berharap bahwa allesia mempercayai akal bulusnya. Dalam hidupnya, dia tidak pernah menangis dan dia benci mengakuinya bahkan dihadapan gadis yang dia cintai. Aska bergerak untuk merengkuhnya lagi, tidak perduli bahwa allesia menimpa lukanya yang terasa sedikit nyeri.

"Jangan jauh-jauh dariku, aku bisa mati tanpamu." Aska bergerak untuk menyusuri surai hitam itu. "Kau tau sayang, akupun memimpikan hal yang sama, bahkan kita hidup didunia yang berbeda, bahwa aku mati dan kau meratapi kematianku."

Allesia menggelang dalam pelukannya, menolak aska untuk melanjutkan ceritanya. Aska merengkuhnya kuat, mengelus punggungnya dengan sayang.

Aska tertawa pelan. "Dan mungkin cintaku sangat besar, aku terus-terusan memohon pada tuhan untuk mengampuniku agar aku bisa membahagiakanmu dan anak kita, aku sudah mendengarkan kalimat cintamu dan itu yang kujanjikan pada tuhan, agar dia mengembalikanku dan aku akan mengubah rasa sakitmu dengan kasih sayangku."

Allesia melepaskan pelukannya pelan, menatapnya tulus.

"Apa tuhan mengabulkannya ?"

"Itu yang sedang terjadi sayang."

Gadis itu tersenyum membalasnya. Kemudian mata aska berkeliling mencari sesuatu, rahangnya mengeras seketika, dia mengumpat didalam hatinya.

"Apa bahkan Aaron tidak menungguku sama sekali, kemana bajingan tengik itu! "

Allesia berbalik untuk menenangkannya, "Hei, apa yang sudah kakak katakan, dia sudah menjagamu selama ini dan baru pulang tiga hari yang lalu, dia juga manusia dan mungkin dia juga kelelahan, berikan waktu untuknya istirahat."

"Kau pikir dia pernah lelah, sungguh allesia. Kau tidak mengenalnya, aku tau, pasti tikus kecil itu yang sudah membuatnya tidak perduli lagi padaku, dia jadi tidak patuh. Kau tau, bahkan dia menukar dirimu dengannya, sialan. Tidak perlu menutupi kesalahannya dengan mengatakan dia perlu istirahat, dia tidak pernah kelelahan, sekalipun tidak."

"Kak, satu menit yang lalu kau baru saja berjanji akan menyayangiku." Gadis itu mengelaknya dengan hal yang tidak bisa dia bantah lagi, aska jadi semakin kesal.

"Kau suka padanya ya ?"

"Aku sudah mengatakan aku mencintaimu, lalu bagaimana aku bisa menyukainya, menurutmu aku wanita seperti apa."

Aska tertunduk kesal, "Kalau begitu, tidak perlu membelanya seperti itu, aku cemburu."

Gadis itu menatapnya, tidak membalas, dia tau aska mencintainya, tapi tidak terang-terangan mengatakannya sampai seperti ini, pipinya bersemu merah. Tangan aska menyelip tengkuknya, lalu menyusuri pipinya yang merah, menyatukan kening mereka lalu memulai ciuman yang hangat disana. Untuk pertama kalinya, gadis itu membalas ciumannya, perlahan dan agak ragu, allesia tampak tidak berpengalaman sama sekali, aska memperdalamnya, memeluk tubuh itu lebih erat, gadis ini mengisi satu ruang kosong dihatinya dan menguncinya, tidak membiarkan siapapun masuk, kecuali dirinya sendiri.

Aaron membuka pintu dengan pelan, tatapannya bertemu dengan aska, dia membawa bekal untuk mereka, mata aska setengah terbuka dan dia sebal ketika seharusnya pria itu tidak perlu datang dan mengganggunya, dia mengusirnya dengan inisial tangannya, lalu Aaron tanpa berkata apapun, menutup pintunya kembali tanpa disadari oleh gadis itu, yang sudah terpaku oleh ciuman manisnya.





Sorry Lia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang