empat puluh

1.2K 30 2
                                        

Aaron membuka pintu kamar itu dengan kasar—hari sudah sangat malam, dan dia sangat yakin raina belum mengisi perutnya sedari pagi. Ini sudah sejak seminggu semenjak kejadian itu, dan gadis itu tetap mengelak setiap kali harus turun dan makan bersamanya.

"Kau ingin mati rain ?" Aaron menarik wajah itu lembut, menekannya dengan tatapan intimidasi, jika bukan begini raina tidak mau menurut.

Gadis itu menggeleng pelan, tatapannya takut. "Aku tidak ingin makan satu meja denganmu."

"Sial, siapa kau menolakku ?"

"Aku—tidak bermaksud begitu, aku tidak berniat menolakmu, hanya saja..,"

"Atau apa ?" Tekannya tidak sabar, jemarinya semakin mengerat mencengkram wajah gadis itu.

"Kau takut pada aska ?" Tebaknya seketika, tertawa sinis kemudian. "Dia tidak sejahat itu untuk membunuh gadis kecil sepertimu rain." Sangkalnya kuat, meski dia juga sebenarnya tau aska sanggup untuk melakukannya.

Raina sangat tau aska membencinya karna kejadian itu, dia tau pria itu selalu memakinya dalam hati. Dia dapat melihat itu dari sorot tak bersahabat yang setiap kali dapat dia tunjukkan ketika mereka berpapasan. Jika saja Aaron tidak selalu didekatnya, sudah pasti bukan tubuh utuh yang diantarkan mereka pada damian, tapi mayatnya.

Tangan Aaron berpindah untuk menggenggam kedua tangan itu disatu genggaman—menariknya keluar dengan paksaan, raina berjalan dibelakangnya. Kemudian ketika mereka sampai, dilihatnya aska yang menatap mereka tajam, tatapan itu sangat dalam menusuk persendiannya sehingga raina terdiam kaku.

Aska menyeringai, dituangnya lagi beer itu lalu diteguknya—dia sangat ingin mengeluarkan allesia dari kepalanya, sedikit saja, namun tetap tidak bisa. Aaron malah memancing api dalam kepalanya dengan membawa gadis sial itu kehadapannya. Ingin sekali dia mencekik gadis itu sampai mati.

"Aku tidak akan mengantarkanmu pada allesia kalau-kalau kau berniat membuatnya mati." Ancam Aaron balas menatapnya dingin.

Aska berdecak, "Apa maksudmu ?"

"Dia takut padamu, kau juga sudah berjanji tidak akan menyentuhnya kalau aku membantumu menemukan allesia bukan ?"

"Itu benar, aku sudah berjanji untuk itu." Dia berhenti sebentar, kemudian berpikir. "Lagipula kau tidak mau jadi pesuruhku lagi bukan, untuk apa aku menepati janji itu."

Aska berdiri dari kursinya, memandang gadis itu dari atas kebawah, mencoba menilai—reflek Aaron menghadang didepannya, menghalangi.

Aska menatapnya. "Apa yang kau lihat darinya. Aku tidak menyangka seorang gadis bisa membuatmu berani melawanku Aaron, cukup sangat sulit kumengerti."

"Sudah kukatakan, jangan menyentuhnya."

"Siapa yang ingin menyentuhnya. Cih, kau membuatku jijik saja." Ucapnya kasar. "Aku tidak akan pernah lupa karna dia kau menukar wanitaku dihari pernikahan kami, penghiatanmu sangat membuatku muak."

"Aku tidak berniat menghianatimu!" Tolak Aaron keras, dia benar-benar tidak berniat untuk menukar allesia dengan siapapun. Sungguh, jika dia harus menarik waktu, dia akan membiarkan raina lepas agar dia bisa menikahkan allesia dengan aska, dia tidak akan berpikir dua kali untuk itu.

Aska bergerak untuk mencengram kedua bahu Aaron kasar—membuat jalinan tangan raina dengannya terputus, aska menariknya, menghadapnya.

"Kau satu-satunya orang yang kupercaya, dan kau menghancurkan kepercayaanku demi seorang wanita. Itu faktanya, Aaron kau tidak akan bisa mengelak." Kata aska mutlak. "Kau hanya ingin membantuku jika saja aku membuat gadis dibelakangmu tetap hidup, atau bahkan kau bisa menyangkal itu, tidak bukan ?"

"Aku bisa menukar nyawaku dengan allesia." Aaron berkata dengan sorot mata dingin. "Jadi biarkan rain tetap hidup."

"Aku—tidak membutuhkan nyawamu Aaron."

Aska melirik raina sebentar, "Karna satu-satunya nyawa yang kuinginkan tidak bisa kubunuh dihadapanmu, jadi aku tidak menginginkan nyawa siapapun sekarang."

"Dulu bahkan jika aku menginginkan kematian saudaramu, kau akan menurutinya dalam satu hari. Aku hanya tidak menyangka bahwa seorang tikus kecil berhasil membuatmu kehilangan kerawarasanmu itu."

"Kau juga bisa melakukan itu karna allesia." Sangkal Aaron cepat.

Alis aska menyengit bingung. "Itu benar, bisa saja terjadi karna aku mencintainya, kau saja yang gila. Kau baru mengenalnya dan lihat apa yang sudah berhasil dia lakukan padamu."

Aaron terdiam, sulit untuk menyangkalnya lagi, aska benar—dia juga tidak tau apa yang terjadi pada dirinya.

Sorot mata aska menatap raina dingin. "Untuk apa kau masih disini, ambilkan beer milikku di gudang bawah sekarang."

Aaron memejamkan matanya, dia mencengkram kedua tangannya—untuk melarang gadis itu lagi. Dia juga tidak tega raina diperlakukan seperti ini, tapi jika saja dia melawan aska sekarang keadaan akan bertambah parah.

Raina bergegas dengan gugup, menatap Aaron sesekali yang tidak ingin melihatnya. Matanya memanas, dia siap untuk menangis sambil meninggalkan ruangan itu untuk berlari kegudang bawah.

"Kita akan mengirimnya besok, itu sudah mutlak, jangan membantahku lagi."

"Aku tidak mengerti, untuk apa kita mengirim rain kembali padanya."

Aska kembali bergerak untuk menghampiri kursi kegemarannya, dia menatap Aaron serius. "Dia meminta tebusan, tapi bukan uang yang dia inginkan, damian hanya menginginkan adiknya kembali."

Aaron menolak keras. "Lalu menyekapnya dan memukulinya lagi ?"

Aska tertawa sinis, "Mau apapun yang dilakukan damian padanya, kenapa menjadi urusanmu. Yang terpenting kita mendapatkan allesia kembali."

"Tidak, aku menolak."

"Kau benar-benar keras kepala."

"Jika saja kita bisa mendapatkan keduanya, lalu untuk apa mengorbankan salah satunya ?"

"Kau tau akibat dari omong kosongmu itu ?" Aska berhenti sebentar, menekan Aaron seketika. "Damian bisa saja mencelakai wanitaku kapan saja, yang dia inginkan hanya raina, kita tidak perlu mengorbankan wanitaku untuk siapapun."

"Aska, kau egois."

"Kau yang keras kepala, kau yang membawanya bersamamu. Kalau kau ingin menyelamatkannya tukar saja dengan nyawamu, aku tidak sudi menolongnya. Dan bahkan apa kau tau—apa yang sudah dilakukan keparat damian itu pada wanitaku, aku sudah berpikir dengan keras, sungguh aku tidak pernah bisa membayangkannya!"

"Jadi—itu kesalahanmu, untuk apa kau bawa tikus kecil itu kesini Aaron ?" Nada dingin terdengar dalam suaranya.

Aaron menggeleng, "Aku tidak pernah tau."

Aska mendegus, dia tau Aaron hanya sedang menutupi perasaannya pada wanita itu, dia tau Aaron akan mengelak, akan sangat keras menolaknya.

"Kau mungkin mencintainya." Ujar aska tiba-tiba, Aaron langsung menatapnya. "Tapi cinta tidaklah berlaku adil bagimu, buang saja perasaan itu. Kau bekerja untuk uang, bukan untuk perasaan yang tidak seberapa itu."

Aska duduk bersandar, Aaron tak lagi menjawabnya. Dia menyeringai pada Aaron—yang laki-laki itu tidak tau adalah, aska sudah menyusun dua langkah kedepan untuk membalas sakit hatinya pada pria itu.

"Mengapa gadis kecil itu belum kembali juga—lagipula aku hanya menyuruhnya mengambilkan beer bukan merayu pria-pria disana. Bukankah penjaga gudang bawah hanya berisikan reyner dan alan saja, mereka juga belum pernah melihat gadis secantik raina, apa mungkin mereka sedang..." ucapan aska terputus kala dia merasa berhasil memancing emosi Aaron dengan santainya.

"Sialan kau!"

Dia memaki dengan kasar—diikuti dengan langkah jenjangnya yang berlari untuk meninggalkan ruangan itu, batinnya terus mencela, dan berdoa agar setidaknya raina baik-baik saja sebelum dia sampai kesana. Dan untuk pertama kalinya aska mendengar dia mengumpatinya demi seorang wanita. Aska menyeringai, setidaknya dia bisa membalas Aaron meski bukan dengan kedua tangannya.





🥹🖤

Sorry Lia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang