Hari ini telah tiba.
Hari pernikahannya. Entah sejak kapan dia terbangun dengan gaun putih indah tubuhnya, dengan makeup yang cukup tipis. Tubuhnya lemah, air mata tidak lagi mengaliri kedua kelopak matanya—tatapannya hampa, kosong. Dia melirik kedepan, didepan kaca terlihat gadis cantik dengan rambut diikat setengah. Menyisakan sedikit rambut disela telinganya—lengkap dengan veil putih diatas ikatan rambutnya.
Ini akhirnya dan dia akan menikahi iblis itu, entah sejak kapan undangan pernikahan itu tersebar—dia bahkan tidak pernah tau. Itu bisa diketahuinya mendengar banyaknya suara riuh keramaian dari luar sana. Allesia menghembuskan nafas kasar, dia tidak bisa lari lagi, inilah akhir takdirnya.
Dia menoleh ketika mendapati angin berhembus dari sela jendela kamarnya. Jendela yang cukup besar untuk menampung muatan manusia. Otaknya berpikir dengan cepat, sedikit bergerak untuk mengangkat gaunnya dengan susah payah—dia membuka jendela itu dengan lebar, didepannya ada halaman hutan yang sangat luas. Namun dia juga pastikan wilayah itu dihiasi pohon-pohon besar yang rimbun, tanpa tau ada jalan keluar ataupun tidak.
Allesia melangkah dengan susah payah, ini belum berakhir. Dan dia tidak akan pernah mau bersatu dengan iblis itu, biarlah hatinya patah, biar hatinya rusak. Dirinya tidak akan pernah mau hidup dengan aska meski sedetikpun saja. Biar kakaknya merawat sierra dengan baik lalu dia membawa bayinya dikandungan. Ini sesuatu yang adil bahwa mengingat—tidak ada hal yang lebih baik dari ini, demi kewarasannya.
Jendelanya tidak cukup tinggi dan ini memudahkannya, ketika dia menapakkan kakinya ketanah—dia berlari sekencang mungkin, tanpa melirik kebelakang lagi. Dia terseok-seok ketika dihadapi oleh tanah yang tidak rata dan akar-akar pohon yang menyandung kakinya. Dia terbangun lagi untuk mempercepat langkahnya ketika mendapati seseorang mengejarnya dari belakang.
"Berhenti." Seru suara dingin dari belakang tubuhnya. Allesia terus berlari, tanpa pernah perduli suara milik siapa dibekangnya, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini cara terakhirnya untuk hidup dengan waras.
Kemudian hening, tak terdengar langkah apapun lagi. Allesia menoleh kebelakang dan tidak mendapati apapun, padahal dia dengan jelas sadar jika seseorang mengikutinya tadi, bahkan suaranya yang dingin itu masih terdengar dikepalanya sampai kini. Dia memutuskan untuk bersembunyi disalah satu pohon besar yang dapat menutupi seluruh tubuh kecilnya. Arah matanya melirik keseluruh arah, mengawasi jika suatu saat ada yang menyergabnya dari arah manapun, jantungnya berdetak dengan kencang.
"Brengsek kau, lepaskan aku!" Itu bukan suara miliknya, tapi milik orang lain. Allesia merilik ke‐arah yang tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Ada sosok gadis dengan gaun putih lusuh, tubuh penuh luka gores disepanjang tubuhnya, kedua tangannya diikat dengan kuat, namun dalam kondisi pengenaskan seperti itu dia tetap terlihat sangat cantik dengan kulit putih pucatnya. Allesia menutup mulutnya—ketika mendapati seorang pria tak dikenal menodongkan pistol tepat dikepala gadis itu, yang bahkan tidak terlihat takut sama sekali.
"Bunuh, bunuh saja aku kali ini damian. Tidak perlu sungkan, kau bilang tidak akan ada yang memisahkanku darimu kecuali kematian, bunuh aku sekarang juga." Gadis muda itu berkata dingin, dengan sorot mata hampanya—seperti tidak ada kehidupan disana.
Laki-laki asing itu terkekeh sinis. "Hal yang paling menjijikkan yang pernah ibu lakukan adalah melahirkanmu—jika saja saat kita kecil aku bisa menjadi malaikat kematianmu aku tidak mungkin jadi gila seperti ini."
Damian mendekat, senjata itu dia letakkan tepat pada ujung pelipis wanita muda itu, tatapannya berubah marah. "Aku pasti akan membunuhmu, dan kepalamu akan kuantar pada ibu tercinta kita dengan bukti bahwa inilah karma yang harus dibayarnya karna telah melahirkanmu." Ujung bibirnya tertarik, sedikit menjeda kalimatnya. "Aku memberimu pilihan untuk hidup denganku dan kau memilih mati untuk menjadi takdirmu, aku hanya mengupayakan pilihanmu, lalu apa tetap menjadi salahku ?"
"Kau harusnya mendekam dibalik jeruji besi." Kata wanita itu tajam. "Bahkan mungkin rumah sakit jiwa akan menendangmu dari sana mengingat tingkat gila kejiwaanmu sudah memang mendarah daging sejak kita kecil, kau bahkan membunuh chrish hanya karna dia satu-satunya pria yang kusayangi dirumah itu."
"Diam kau sialan !"
Suara tembakan terdengar menghiasi hutan itu, damian mengarahkan pistolnya kearah atas—mengancam wanita itu, agar mulut sialannya berhenti mengatakan yang tidak-tidak mengenai perilaku binatangnya dimasa lalu.
"Sialan kau, aku bahkan bisa membuatmu mati, dan apa yang baru saja kau katakan ?" Dia mencekik leher gadis itu, yang kini wajahnya memerah akibat perbuatannya. "Seharusnya aku juga membunuhmu, lalu diriku sendiri setelah itu. Ibu dan ayah mungkin akan senang melihat kedua anaknya mati dari pada bersama."
"Kita mati bersama, benci aku semaumu setelah ini." Damian semakin membuat wanita muda itu tercekik, hingga dalam batas kesadarannya dia dapat melihat dengan ujung matanya—sosok pria yang juga memegang senjata, mengarah pada mereka, pandangannya buram hingga dalam satu sentakan suara tembakan terdengar untuk yang kedua kalinya.
Dorr...
Damian tersentak—ketika merasakan peluru menembus ujung sepatunya, dan dia pastikan ujung jarinya pasti terluka karna itu. Dia dengan sadar melepaskan cekikannya lalu gadis itu jatuh ketanah dengan posisi tangan yang masih saling terikat, tubuhnya yang lemah membuat kesadarannya hampir hilang, namun dengan sedikit kabut samar dimatanya dia masih terus melirik kearah pria itu—malaikat penolongnya.
Kedua laki-laki itu dengan sigap saling menodongkan pistol, damian menyengit—mereka tidak saling mengenal, siapa laki-laki gila yang sudah mengganggunya ini. Dapat dia lihat pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang, terlihat rapi dengan susunan rambutnya. Ujung matanya juga melihat sosok wanita yang mengenakan gaun pernikahan—tengah meringkuk ketakutan dibalik salah satu pohon didekatnya. Otaknya dengan cepat membaca. Apa ini pengantin yang sedang melarikan diri dari predatornya ?
Damian terkekeh sinis. "Aku tidak mengenalmu, tapi tindakanmu barusan dengan jelas sangat menangguku. Apa yang kau inginkan ?"
"Lepaskan dia." Suara Aaron menggema dengan dingin, sorot matanya mengarah pada wanita yang kedua tangannya terikat dan tengah terbaring lemah ditanah. Dia tidak mengerti dengan perasannya sendiri, tiba-tiba ada keinginan untuk menyelamatkan gadis asing itu.
"Kau mengenalnya ?" Lirik damian kasar, kakinya menendang kecil tubuh gadis muda dibawahnya. Kemudian arah matanya melirik sosok wanita dibalik pohon. "Itu pengantinmu, kau tidak perlu mencampuri urusan orang lain."
"Aku hanya menginginkan dia, bawa saja wanita itu kalau kau mau." Entah sejak kapan mulutnya berbicara begitu, malah dengan bangga dengan mengatakan pria itu untuk membawa allesia saja dan menyisakan wanita muda itu untuknya. Sungguh jika harus menarik kata-katanya dia akan melakukannya sekarang juga.
"Kau yakin ?"
Damian bergerak perlahan, satu tangannya masih menodongkan senjata, tubuhnya perlahan mendekat pada wanita yang meringkuk ketakutan dibalik pohon, dan langsung merengkuhnya dengan paksa, wanita itu menangis dalam pelukannya. Dia balik menodongkan senjatanya pada kepala wanita itu—untuk membuatnya berhenti menangis.
"Jika sudah bersamaku, aku tidak akan mengembalikannya lagi, ini pertukaran yang setara bukan ?"
Aaron menatapnya dingin. "Aku tidak perduli, terserah mau kau apakan." Lagi-lagi Aaron harus mengutuk mulutnya kali ini. Dia disini untuk menagkap allesia karna telah berani melarikan diri, tapi entah hal gila apa yang mempengaruhi pikirannya, dia tak dapat mengontrol kalimat sialan yang keluar dari bibirnya, entah kenapa.
Damian melirik mereka sinis, matanya berkabut saat melihat pria asing itu mendekati gadis pujaannya yang sudah tak sadarkan diri ditanah. Hanya dengan ini dia dapat memantaskan hatinya untuk melihat—apa gadis itu akan kembali padanya atau tidak. Jika hal yang terjadi bukan seperti yang ia pikirkan, maka, dengan kasar dia akan menyeret wanita itu kembali bersamanya.
Dia kemudian menyeret wanita bergaun pengantin itu pergi bersamanya, tanpa melirik kebelakang lagi. Hingga hilang dari pandangan mereka.
Aaron hanya menatap dingin sosok gadis itu, mungkin aska akan menembakkan banyak peluru kekepalanya nanti jika yang dia bawa pulang bukanlah allesia, melainkan gadis asing yang dia tidak pernah tau asal usulnya. Biarlah itu semua terjadi, dia akan memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan allesia nanti, tapi sekarang biarkan dia memastikan perasannya dulu, hal apa yang dia inginkan dari gadis muda yang ada direngkuhannya ini.
Tanggapan kalian mengenai part ini apa ?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry Lia [END]
Ficção AdolescenteAska terobsesi pada adik angkatnya, cinta tidak biasa hadir diantara mereka. Allesia tidak menyadarinya, menganggap bahwa semua pukulan itu sebuah kebencian, padahal tanpa gadis itu sadari, itu hanya sangkalan betapa kerasnya hati aska menolak peras...
![Sorry Lia [END]](https://img.wattpad.com/cover/294936527-64-k577470.jpg)