Damian melemparkan nampan itu dengan kasar, ada beberapa makanan disana untuk membuat wanita dihadapannya setidaknya tetap hidup—secara tidak langsung wanita ini juga berperan untuk menghentikan aksinya untuk membunuh adik kandungnya dihutan itu.
Allesia tetap tertunduk dikediamannya, gaun pengantinnya tidak dia ganti, pria brengsek dihadapannya ini pun sama gilanya dengan aska, dia keluar lubang iblis masuk kelubang setan, tidak ada yang lebih baik.
"Makan, aku benci ada mayat dikediamanku." Katanya dengan angkuh, kedua tangannya dia selipkan disaku celana.
Allesia melihatnya. "Kenapa kau tidak membunuhku saja, aku lelah. Sudahi saja penderitaanku." Nadanya memohon.
Laki-laki itu menatapnya sinis, mungkin jika raina membalas suratnya dengan baik dan kembali padanya dia tidak akan pernah menjalani aksinya dengan wanita yang dicintainya itu, jika raina memakai sedikit saja rasa kasihan padanya mungkin dia tidak akan menyekap siapapun kecuali adik cantiknya itu.
Langkahnya sedikit maju—dia tarik rambut allesia mendongkak kearahnya. "Siapa kau mengaturku ?"
"Aku bisa saja membunuhmu, tapi wanitaku belum tentu akan kembali. Aku mau lihat berapa lama dia kuat tanpaku disisinya."
Allesia menyengit, seperti ada yang aneh dari mereka. Kisah cinta yang dapat dikatakan tidak normal seperti mereka.
Damian melepaskan jambakannya, langkahnya tenang kearah tempat tidur—duduk mengahadap wanita itu, menatapi wanita itu dengan sangat teliti. Bisa dikatakan dalam keadaannya terlihat seperti pernikahan yang sedang dipaksa, dilihat dari sisi manapun wanita itu terlihat tidak menginginkan pernikahan sama sekali.
"Gadis yang kau lihat tempo hari itu adikku, kami dilahirkan dari ibu dan ayah yang sama, lebih tepatnya adik kandungku." Jelaskan ringkas, dilihatnya allesia yang menatapnya—kaget. Dia tertawa kemudian. "Sama seperti reaksimu, reaksinya juga sama ketika dia tau aku mencintainya."
Damian terlihat membayangkan sesuatu. "Aku, chrish dan raina, kami bersaudara. Aku menyayangi mereka tapi kasih sayang yang kuberikan pada raina lebih dari itu. Ketika raina tau aku mencintainya dia menjauhiku dan terlihat tidak perduli. Padahal aku mencintainya, kuberikan semua padanya, dia malah membuatku kesal dengan terlihat sangat dekat dengan chrish. Jadi aku membunuhnya."
Dirasakan sendi-sendinya menggigil, allesia menatapnya takut, pria itu malah menyeringai menatapnya. Sial, pria ini harusnya mati membusuk dineraka bersama aska.
"Kuceritakan semuanya padamu, kan kau hanya terdiam membisu menatapku ?"
Damian terkekeh ketika wanita itu lagi-lagi terdiam.
"Aku tidak akan menyakitimu, kau tidak perlu tertekan begitu." Ujarnya pelan. "Satu-satunya manusia yang ingin kelenyapkan adalah raina, karna dia sudah mengambil hatiku lalu menyampakkannya."
"Aku tidak tertarik dengan kisah cintamu."
Laki-laki itu menyeringai. "Kalau begitu ceritakan tentang kisah cintamu. Kau lari dengan gaun pengantin, apa laki-laki asing itu memaksamu menikahinya ?"
Allesia terdiam, jemarinya tiba-tiba menggigil—dia tau aska akan menggila mencarinya. Dan entah hukuman apa yang menantinya nanti ia tak mau membayangkannya lagi.
"Pria yang ingin menikahiku bukanlah laki-laki asing yang kau temui dihutan kala itu, tapi temannya, teman dari laki-laki itu."
"Huh ?" Tanyanya tidak mengerti.
Wanita itu mendesah pasrah. "Sama seperti kalian, kami juga terjebak dalam kisah cinta yang tidak wajar—pria yang memaksaku menikah adalah kakakku sendiri, lebih tepatnya kakak angkatku. Mungkin, dia sedang mencariku sekarang."
Damian diam dengan sorot mata dingin, raina tak membalas semua suratnya. Dia kecewa, hatinya sakit. Damian melepaskan raina bukan untuk membuat gadis cantik itu pergi, tapi untuk memastikan perasaan gadis itu untuknya. Ini sudah tiga hari dan raina tetap membatu, meski raina tidak pernah mencintainya—maka gadis itu harus siap mati bersamanya.
"Kalau begitu itu keuntungan untukku, raina bukanlah hal penting untuk mereka. Jika aku membuatmu kembali, mereka akan sukarela melepaskan raina untukku bukan ?"
Allesia menatapnya dengan sorot mata takut.
"Kenapa, memangnya pria itu sama gilanya denganku ?
"Lebih gila darimu." Katanya pelan.
Damian menatapnya dingin. "Kau harus kembali padanya, aku harus mengambil milikku kembali. Apapun caranya, mereka mengambilnya, mereka mengambil rainaku."
"Kau gila. Raina tidak mencintaimu, raina tersiksa denganmu."
"Tau apa kau tentang perasaanku, sialan !" Dia tarik wanita itu berdiri menghadapnya, kedua tangannya mencengkram lengannya kuat, allesia mengaduh sakit tapi dia terlihat tidak perduli. "Ini menguntungkanmu, kau kembali padanya. Sementara aku merampas milikku kembali."
"Aku tidak ingin kembali padanya! Aku membencinya !"
"Kau tidak ingin kembali padanya, tapi juga melarangku untuk merampas raina, apa maksudmu hah !" Laki-laki itu dengan kasar mendorongnya kekasur, menahan wanita itu dengan kuat disisinya, "kalau kau tidak ingin dia kembali, mau kah kau menggantikan posisinya ?"
Allesia menggeng kuat, tubuhnya berontak. "Tidak, tidak, lepas, lepaskan."
Damian melepaskannya dengan kasar, dia juga tak berniat mengganti raina dengan siapapun. Dia menggunakan cara ini hanya untuk mengancam wanita itu.
"Gadis sombong sialan, kalau begitu berhenti mengaturku."
Sorot matanya menatapi wanita itu dari atas kebawah, mencoba menyusuri. Ada yang salah, kepalanya berpikir dengan keras, perut wanita ini sedikit membengkak. Dia bisa pastikan ketika lengannya menyentuh tadi sedikit agak keras, jadi benar apa yang dia pikirkan. Cih, wanita sombong sialan.
"Kau tidur dengan kakakmu, lalu ketika dia bertanggung jawab kau tak mau menikahinya ?"
Allesia duduk, menjauhi damian. "Itu tidak sesederhana yang kau pikirkan."
Damian menyeringai. "Kalau begitu, kau mau mengatakan kalau kau diperkosa olehnya ?"
Sorot mata wanita itu tak lagi menatapnya, dia memandang lurus kedepan dengan tatapan hampa dan kosong.
"Kembali saja padanya, terima takdirmu. Menyangkal berapa kali juga sia-sia, jika saling mencintai lalu kau berharap apa. Tuhan memberkatimu dengan pria baik-baik yang menerimamu apa adanya. Bullshit, seperti cerita dongeng saja."
Allesia merebahkan tubuhnya dikepala ranjang, batinnya lelah. "Seperti dongeng yang kau katakan, aku mendapatkannya. Aku menyayangi pria itu. Lalu iblis itu datang dan mengancurkan semuanya lalu memaksaku menikahinya setelah semua yang dia lakukan."
Damian malah terkekeh mendengarkannya. "Gadis sombong sialan, dengarkan aku. Cinta dan kasih sayang adalah dua hal yang berbeda. Cinta kau berikan kepada orang yang kau cintai sebagai seorang pria sementara kasih sayang kau berikan kepada orang yang sudah kau anggap seperti saudara, kau belum mengerti juga ?"
Allesia menggeleng, lalu menatapnya serius.
"Tuhan akan membuka matamu untuk itu, dia mungkin gila karna dia terlalu mencintaimu. Cinta yang terlalu besar yang tidak akan kau dapatkan dari siapapun kecuali miliknya."
Wanita itu masih menatapnya bingung, kesal dia tarik wanita itu cepat—lalu ia dudukkan dilantai dengan paksa, nampan piring dihadapannya, allesia menatapnya ragu.
"Aku tidak akan meracunimu, aku membutuhkanmu untuk membuat raina kembali. " katanya menjelaskan. "Makan sekarang, berhenti membuatku kesal. Kalau tidak aku akan membunuhmu bersama bayi sialan itu." Ancamnya, lalu meninggalkan allesia sendirian dengan mengunci kamarnya.
Happy reading semuanya🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Sorry Lia [END]
Ficção AdolescenteAska terobsesi pada adik angkatnya, cinta tidak biasa hadir diantara mereka. Allesia tidak menyadarinya, menganggap bahwa semua pukulan itu sebuah kebencian, padahal tanpa gadis itu sadari, itu hanya sangkalan betapa kerasnya hati aska menolak peras...
![Sorry Lia [END]](https://img.wattpad.com/cover/294936527-64-k577470.jpg)