Holaa guyss!!
Don't forget to ⭐ and 💬🤺
💛 Happy reading 💛
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Nala mengelus pelan rambut Zaleo, menenangkan anak itu dalam pangkuannya. Zaleo baru berhenti menangis beberapa menit yang lalu, masih ada sisa-sisa tangis yang sulit dikendalikan oleh anak sekecil itu.
Saat sudah tenang, Nala mendudukkan Zaleo di atas ranjang kamarnya. Nala memutuskan untuk menjaga Zaleo dan Haigan malam ini dikamarnya, agak mengkhawatirkan jika membiarkan Zaleo menyendiri disaat seperti ini.
Zaleo menatap bunda sambungnya itu dengan tatapan sendu, Nala merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Zaleo. Nala meraih dan menggenggam kedua tangan Zaleo, dielusnya dengan sayang seperti anak sendiri.
"Nak? Jangan terlalu dipikirkan ya ucapan mama tadi? Mama Lio hanya terlalu kelelahan, biarkan dia beristirahat." Zaleo tetap mendengarkan tanpa merespon dengan kata-kata.
"Mama Lio selalu sayang denganmu, jangan benci dia ya? Bahkan disaat seribu orang menginginkanmu bersedih, mama Lio akan selalu menjadi orang pertama yang menginginkanmu untuk bahagia."
"Jadilah anak yang tumbuh dengan kuat walau hidupmu terasa menyedihkan. Zaleo juga punya bunda Nala disini, bunda akan selalu membersamaimu hingga dewasa nanti jika takdir mengizinkan." walaupun Zaleo tak sepenuhnya tau arti dari kalimat Nala, namun ia paham bahwa bundanya itu akan selalu ada dan menginginkannya untuk menjadi lebih kuat.
Zaleo merentangkan tangannya, lalu mengalungkan tangannya pada leher Nala. Zaleo memeluk Nala dengan erat, rasa nyamannya memang tak sama seperti mama Lio saat memeluknya dulu. Namun rasa nyaman ini cukup untuk membuatnya tak merasa sendiri, tak merasa disisihkan.
Moza menyaksikan itu semua dari celah pintu kamar yang terbuka, betapa beruntungnya ia memiliki omega seperti Nala. Bahkan Nala mau menerima dan menyayangi Zaleo yang bahkan bukan anak kandungnya.
Netranya menangkap gundukan kecil di atas ranjang, Moza dapat melihat Haigan sudah tertidur pulas. Senyum kecil muncul dari sudut bibir Moza, dirinya masih sulit percaya bahwa anak itu yang membawanya pada takdir ini.
Haigan lah yang menyatukan Moza dengan Nala, menyatukan dua insan yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya. Moza hanya bisa berharap bahwa kedepannya akan menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Beberapa hari terlewati saat ini Moza sedang berburu bersama kakak keduanya, alpha Neza. Moza sengaja mengajak kakaknya untuk menemaninya berburu.
Moza ingat jika kedua anaknya benar-benar menyukai daging rusa, setidaknya dengan membawakan makanan kesukaan anak-anak kecil pemberi cahaya di keluarganya itu bisa membuat Zaleo dan Haigan kembali ceria.
"Mau mulai sekarang?" Moza mengalihkan tatapannya ke arah Neza, kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Mereka berdua merubah wujudnya ke dalam wujud wolf masing-masing lalu berlari berpencar lebih masuk kedalam hutan.
Mata tajam wolf Moza mengintai rusa didepannya, ukurannya lebih dari cukup untuk anak-anaknya nikmati. Saat waktunya dirasa sudah tepat, wolf besar dan gagah itu langsung menyergap dan berniat mengoyak leher rusa sampai mati.
Namun, semua terhenti saat wolf Moza melihat ada wolf lain yang terlebih dahulu mengoyak leher rusa itu. Dilihat dari bentuk tubuh wolf di depannya merupakan seorang omega.
Setelah memastikan hewan incarannya mati, wolf omega itu merubah wujudnya menjadi seorang female omega yang sangat cantik dan juga sexy.
Wolf Moza juga ikut merubah wujudnya ke bentuk manusia, matanya masih terus menatap female omega di depannya.
"Alpha Moza, bagaimana kabarmu?" omega cantik dengan rambut panjang berwarna jingga khas-nya itu tersenyum manis menatap alpha pujaannya. Nama omega itu, Ouka.
Melihat Moza memutar tubuhnya, membelakanginya lalu melangkahkan kaki dan pergi begitu saja mengabaikan dirinya membuat Ouka tidak terima.
"Alpha!" Ouka mengejar Moza dan menahan Moza dengan pelukan eratnya.
Moza tersentak saat tubuhnya didekap erat dari belakang oleh omega di masa lalunya itu "Kenapa kau mengabaikanku? Kau ingat kan jika aku masih milikmu." pertanyaan itu membuat Moza memejamkan mata dan menghembuskan nafas lelah.
Tidak cukupkah masalah yang melingkari hidupnya ini? Kini Moza merasa masalahnya bertambah lagi. Moza melepas dengan kasar tangan yang melingkari pinggangnya dan itu menyebabkan pekikan kuat dari Ouka.
"Kau kasar sekali, alpha Moza selalu memperlakukanku dengan lembut. Ayo sayangi aku lagi alpha, kumohon." permintaan penuh tatapan frustasi itu sedikitnya membuat Moza luluh.
"Kau salah paham, aku tidak pernah menaruh rasa sayang padamu. Jadi jangan merasa tinggi, kau hanya teman tidur dan tidak lebih Ouka." penjelasan yang terdengar seperti pengusiran untuk Ouka dari hidup alpha Moza membuat omega itu terisak.
"Alpha? Tidakkah aku berarti untukmu walau sedikit saja? Aku yang pertama untukmu, dan kau juga yang pertama untukku. Kau tidak lupa kan? Kita sudah menjalani banyak hal bersama dan kini kau tega mendorongku pergi?" Ouka menatap Moza dengan pandangan terluka.
"Setidaknya biarkan aku ada di dekatmu, aku tidak meminta kau menjadi alphaku. Aku tau posisiku." Moza menatap tanah dibawah, sesaat kepalanya terasa penuh. Kini Moza mengalihkan tatapannya untuk menatap Ouka kembali.
Moza melihat tubuh Ouka yang tak seberisi dulu sudah menjelaskan kehidupan omega itu setelah dicampakkan olehnya. Setidaknya membiarkan Ouka hidup layak didekat Moza sudah cukup kan untuk membayar kesetiannya pada dirinya selama remaja.
"Maka teruslah ingat posisimu, jangan sampai mengusik kedua omega dan anak-anakku. Jika kau melewati batas sekali saja, maka hubungan yang kau anggap ada itu selesai Ouka." secercah harapan hadir di mata bulat bening milik Ouka, ia tak bisa untuk menyembunyikan rasa senangnya.
"Sekarang bolehkah aku mendapat pelukan alpha?" Moza menghela nafas pelan, lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Melihat itu, Ouka langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh alpha yang memang satu-satunya dalam hidupnya selama ini. Ouka memeluk dengan erat walau ada rasa sedih di hati karena tak lagi dapat untuk menghirup feromone yang menjadi favoritnya.
Perlahan Moza membalas pelukan Ouka walau hatinya tak nyaman dan merasa ini salah. Salahkah Moza jika memberi kesempatan untuk Ouka ada didekatnya? Ingat Moza, ini hanya bentuk rasa kasihan dan balas budi.
Alpha Nezaima yang baru sampai ketempat adiknya berada pun seperti terpaku ditempat. Neza melihat adiknya itu tampak berpelukan dengan penuh kehangatan bersama omega lain sangat merasa risih.
Neza tidak akan lupa jika selera Moza memang seorang female omega, jadi ia sedikit menaruh curiga atas kedekatan keduanya.
"Moza jaga sikapmu." suara Neza mengagetkan keduanya, Moza lupa jika ia datang berburu bersama kakaknya.
Moza melepaskan pelukan Ouka, kemudian membuat jarak antara dirinya dan Ouka. Neza mendekat kearah mereka berdua, netranya menatap Ouka penuh perhitungan.
Ouka salah tingkah dibuatnya, aura dan feromone dari alpha Neza membuatnya sedikit merinding dan panas. Setelah cukup menilai, Neza mengalihkan tatapannya kearah adiknya.
"Sebaiknya kita pulang, aku sudah mendapat satu dan kurasa kita hanya akan membawa pulang satu hewan buruan." sindir Neza saat melihat ada noda darah rusa disudut bibir Ouka.
Melihat hasil buruan Neza yang cukup untuk anak-anaknya sudah membuat Moza puas, jadi ia bisa membiarkan Ouka memiliki rusa incarannya itu.
"Rusa itu milikmu Ouka, ayo kita pulang kak." kedua alpha itu pergi meninggalkan Ouka yang masih mematung memikirkan hal aneh yang baru saja terjadi.
Ouka merasa, panas.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°
Selesai satu, muncul seribu.
Padahal masalah belum kelar tapi dateng lagi yang baru, ada yang relate?
–RIUSGURL–
KAMU SEDANG MEMBACA
Female Alpha Dominan [END]
RomanceApa jadinya jika male omega tertarik dengan female alpha dominan? Kejadian tak senonoh yang terjadi sewaktu kecil membuat mereka seakan terikat benang merah tak kasat mata. Nala tidak pernah merasa setertarik ini dengan female alpha di sepanjang hid...
![Female Alpha Dominan [END]](https://img.wattpad.com/cover/371188886-64-k728281.jpg)