F.A.D 23

591 44 1
                                        

Don't forget to ⭐ and 💬
❤️ Happy reading ❤️

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

Hari demi hari berlalu, kehidupan makhluk hidup yang masih bernafas tidak akan berhenti jika ada makhluk hidup yang mati. Artinya kematian seseorang tidak akan membuat hidupmu juga berhenti, kau harus tetap hidup entah itu dengan kebahagiaan atau tanpa kebahagiaan.

Seperti halnya Moza serta keluarganya, mereka sudah mulai damai dengan menerima segala luka dan duka yang ditinggalkan oleh mendiang Lio.

Namun, Zaleo tetap tak bisa seceria dulu. Di depan semua orang Zaleo memang menunjukkan raut wajah khas anak-anak yang penuh keceriaan. Tetapi disaat anak itu sendirian, yang dapat Moza lihat hanya kemurungan.

Untungnya Haigan sudah mulai melembutkan hatinya dan mau menerima Zaleo sebagai seorang kakak dihidupnya.

Dengan adanya Haigan yang selalu mengajak Zaleo berinteraksi bermain bersama, itu dapat membuat Zaleo sedikit demi sedikit keluar dari zona kesedihan.

Saat ini Nala menemani Haigan dan Zaleo berlatih di halaman belakang rumah. Kali ini sesi latihan memanah di latih langsung oleh alpha Amar, yang merupakan tangan kanan alpha Zenuel pemimpin klan Jiriyah.

Melihat tumbuh kembang kedua anaknya yang semakin hari semakin baik, tentu membuat Nala sangat merasa bangga dan bahagia.

Di tengah kegiatan Nala yang sedang menonton sesi latihan anak-anaknya, ia dikejutkan dengan kedatangan alpha Zeus Peztixius yang merupakan kakek dari alpha Moza.

Alpha Zeus sangat jarang datang ke kediaman ini karena beliau memilih tinggal di rumah lain yang pernah ia habiskan bersama luna-nya semasa hidupnya dulu.

"Kakek? Silahkan duduk." sambut Nala dengan sopan, sebenarnya Nala belum pernah bertemu tatap muka secara langsung seperti ini dengan alpha Zeus.

Tapi siapa yang tidak tau rupa pendiri klan terbesar di negeri ini? Jelas wajahnya banyak di kenal orang dan salah satunya adalah Nala.

"Cucu menantu? Hmm atau belum ya?" tatapan alpha Zeus membuat Nala salah tingkah. Nala cukup segan untuk duduk bersama dan mengobrol begini.

Apalagi memang yang di ucapkan alpha Zeus benar, Nala belum resmi menjadi menantu di keluarga ini. Moza belum menikahinya secara resmi, hanya ada ikatan mate di antara mereka saat ini.

Melihat Nala yang mati kutu didepannya, membuat alpha Zeus sedikit melembutkan auranya "Jangan takut begitu, aku tidak menggigitmu bukan? Lagipula kau memang pasangan cucu terakhirku." mendengar alpha Zeus mulai berbicara lebih santai membuat Nala tersenyum tipis dibuatnya.

"Tidak perlu segan, kau cucuku juga dan kau yang membuatku memiliki cicit-cicit hebat seperti mereka. Terimakasih." alpha Zeus menatap bangga ke arah kedua cicitnya yang sedang berlatih.

"Tidak perlu berterimakasih kakek, harusnya aku yang berterimakasih karena keluarga ini mau menerima omega sepertiku. Kakek pasti tau jika dari dulu aku memang yang lebih dulu mengejar alpha Moza dengan tidak tau malu." Nala meringis pelan mengingat masa-masa remaja hingga dewasa saat mengikuti kemanapun Moza pergi.

"Aku banyak membuat alpha Moza risih dengan kehadiranku dulu, aku malu." Nala menundukkan kepala dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.

Alpha Zeus tertawa kecil melihat Nala yang tampak tak punya muka saat berhadapan dengannya secara langsung. Mate cucu terakhirnya ini cukup unik dan lucu.

"Tapi kau berhasilkan? Moza sekarang menjadi milikmu, bahkan bukti cinta kalian sudah tumbuh sebesar itu." Nala menegakkan kepalanya dan mengikuti arah pandang alpha Zeus.

Zaleo berlari untuk menghampiri alpha Zeus dan di ikuti oleh Haigan serta alpha Amar yang berjalan santai.

Zaleo langsung masuk kedalam dekapan alpha Zeus "Uyut kenapa jarang datang? Zale rindu." alpha Zeus menepuk-nepuk pelan pundak cicit pertamanya itu seakan menguatkan Zaleo.

"Ternyata cicit uyut ini rindu? Kalau begitu kita habiskan waktu yang banyak untuk membayar rasa rindu itu. Setuju??" Zaleo menganggukan kepalanya dengan semangat.

Setelah pelukan terlepas, pandangan alpha Zeus tertuju ke arah Haigan yang tampak diam dan bersikap tenang. Wajah anak itu sangat mirip dengan wajah cucu terakhirnya, Moza.

"Kemari, namamu Haigan kan? Aku adalah kakek ibumu yang berarti aku merupakan kakek buyutmu, tidak mau memelukku cicitku?" kedua tangan alpha Zeus terbuka lebar menyambut Haigan.

Haigan menatap Nala terlebih dahulu, saat Nala mengode dengan anggukan kepala barulah anak itu mendekat ke arah alpha Zeus dan masuk ke pelukannya.

"Astaga keturunan-keturunan yang hebat, sangat sayang jika hanya ada mereka berdua nantinya." dilihat dari manapun memang yang tampak pasti hanya Moza, dua cucunya yang lain sangat suram.

Elzaima dan Nezaima benar-benar melajang hingga saat ini. Walau alpha Zeus tau bahwa Zaleo adalah anak kandung dari Elza, tapi tetap saja dalam pandangannya Zaleo tetap anak kandung dari Moza.

Wajah Nala memerah saat mendengar menuturan alpha Zeus, apa maksudnya beliau mengharapkan keturunan baru untuk keluarga ini?

Disisi lain Ouka sudah sangat frustasi dengan keluarganya yang terus mencecarnya untuk menghasilkan uang. Sampai satu-satunya solusi terakhir yang ia dapat, walau harus melanggar kesepakatan yang sebelumnya dibuat.

Rencana ini Ouka buat dengan persiapan khusus agar berjalan sesuai keinginan, dan rencana itu jatuh malam ini. Pesta makan kecil-kecilan untuk menyambut alpha Zeus kembali ke kediaman klan Jiriyah ini.

Semua tamu undangan tampak asik dengan dunianya sendiri, pesta ini hanya mengundang sedikit tamu yang merupakan petinggi-petinggi klan di negeri ini.

Di tengah keramaian Ouka tengah menyuap salah satu pelayan untuk mengantarkan minuman racikannya kepada alpha Moza.

Ketiga alpha yang merupakan kakak beradik itu tengah mengobrol dengan santai, lebih tepatnya hanya Elza dan Neza karena Moza masih enggan untuk berinteraksi dengan kakak sulungnya itu.

Di tengah obrolannya, mata Neza tak sengaja menangkap sosok Ouka yang tampak serius berbicara dengan seorang pelayan. Sedikit aneh bagi Neza namun ia abaikan.

Selang beberapa menit, para pelayan mulai menawarkan minuman- minuman berbagai warna. Satu pelayan mendekat ke arah ketiga alpha itu.

"Selamat menikmati." setelah memastikan bahwa minuman khusus itu diambil oleh alpha Moza, pelayan itu segera pergi.

"Pesta seperti ini memang tidak pas jika tidak minum-minum." alpha Neza menghabiskan minuman miliknya hingga tandas, alpha Elza dan Moza hanya menggelengkan kepala tanda tak habis pikir.

Ouka sudah mempersiapkan kamar khusus milik Moza dengan sangat indah dan harum wewangian mawar. Alpha Moza tidak akan bisa menolak dirinya saat reaksi tubuhnya berkata sebaliknya.

Maaf Nala, tapi bagi Ouka ini adalah cara satu-satunya untuk bertahan hidup. Nantinya jika melanjutkan hidup dengan saling berbagi alpha sepertinya tidak akan menjadi masalah besar untuk Nala. Karena male omega itu juga sudah pernah berbagi alpha Moza dengan male omega lain bukan?

Setidaknya tidak akan terlalu berat untuk Nala berbagi tempat dengan female omega sepertinya. Ouka sangat menantikan itu.

Ouka tersenyum manis di depan cermin besar di kamar itu sembari menunggu alpha Moza datang, pakaiannya berwarna merah mawar yang mencolok. Bahkan pakaian minim itu tidak bisa membalut dari keseluruhan tubuh Ouka.

Kemolekan tubuh Ouka memang tak dapat diragukan, mana mungkin alpha segagah Moza menginginkan dirinya dulu jika tubuhnya tidak seindah ini.

Ouka cukup puas ditakdirkan dengan fisik sesempurna ini.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

Awal kehancuran baru akan segara dimulai 🔁

–RIUSGURL–

Female Alpha Dominan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang