F.A.D 22

594 53 15
                                        

Don't forget to ⭐ and 💬

🌸 Happy reading 🌸

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

Kabar duka datang dari klan Jiriyah dan klan Delriyah. Lio dinyatakan meninggal dunia, bunuh diri. Pada akhirnya omega dari alpha Moza berhasil menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang terbilang muda.

Suasana suram di kediaman pemimpin klan Jiriyah semakin bertambah dengan kedatangan orang-orang penting dari berbagai klan untuk mengucapkan bela sungkawa.

Dua hari telah berlalu semenjak kematian Lio, namun masih banyak yang datang untuk sekedar formalitas terhadap pemimpin klan tertinggi di negeri ini.

Moza bisa dikatakan sudah seperti mayat hidup saat ini, Zaleo ada didekapannya. Anaknya itu tak mau sedikitpun melepaskan Moza, jiwa kecilnya tampak terguncang oleh keadaan tidak menyenangkan yang tiba-tiba terjadi.

Masih terus menimang Zaleo dalam dekapan, Moza berusaha memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk anaknya.

Nala memperhatikan Moza yang terlihat kelelahan dan kurang tidur, wajahnya sayu. Nala menghampiri Moza yang ikut memejamkan mata seraya menimang Zaleo.

Moza membuka mata karena merasa pundak kirinya ditepuk pelan, dilihatnya omega yang sekarang menjadi satu-satunya dalam hidupnya.

"Moza, izinkan aku mencoba mengambil alih Zaleo. Kau tampak kurang sehat." melihat Nala khawatir padanya membuat hati Moza menghangat. Omega kecilnya itu sangat perhatian dan pengertian.

"Aku baik-baik saja. Lebih baik kau menjaga Haigan dengan baik." Nala tidak bisa percaya pada ucapan alphanya itu. Sudah jelas Moza sangat terlihat letih dan tak bertenaga lagi.

"Jangan membuatku harus mengurus satu lagi jika kau jatuh sakit. Haigan sudah aman, aku memanggil Renka kemari. Jadi sekarang Zaleo menjadi tanggung jawabku, tentu sebagai bundanya." Nala berjinjit sedikit untuk merapikan rambut Moza yang sudah tidak tertata rapi seperti biasa.

Moza memandang Nala dengan tatapan sendu, lalu ia mengangguk tanda izin diberikan. Nala tersenyum senang, ia mencoba mengambil alih Zaleo yang tertidur di dekapan Moza.

Zaleo sedikit terusik, namun kembali tenang saat Nala mengelus-elus pelan punggung kecil anak itu. Kata-kata menenangkan yang Nala bisikan kepada Zaleo juga membuat anak itu merasa aman.

Saat Zaleo sudah nyaman di dekapannya, Nala menatap Moza yang juga memperhatikan keduanya. Nala mengangguk seraya tersenyum menyiratkan bahwa Moza tidak perlu khawatir karena Zaleo akan aman dengannya.

Moza mengarahkan telapak tangan kanannya untuk mengusap lembut rambut Zaleo, Nala juga memperhatikan Zaleo yang terlelap dengan nyaman. Beberapa detik kemudian Nala membulatkan matanya kaget, tak lupa juga pipi yang perlahan memerah.

Nala merasakan tangan Moza berpindah untuk mengusap rambutnya dengan lembut juga, diakhiri dengan pat-pat pelan di atas kepalanya.

Kemudian Moza pergi ke kamar pribadinya, meninggalkan Nala dan Zaleo untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Ouka yang melihat Moza baru saja masuk ke kamar pribadinya, tempat dimana mereka biasa menghabiskan waktu bersama pun tak bisa menyembunyikan senyum indahnya.
Ouka sengaja datang ke kediaman pemimpin klan Jiriyah ini untuk memastikan keadaan Moza.

Ouka hafal betul kebiasaan alpha dewasa itu, jika sedang dalam keadaan yang buruk Moza tidak akan bisa mengistirahatkan otak dan tubuhnya dengan baik. Itu sebabnya Moza mampu menahan keadaan fisiknya dan tak tumbang walau tidak tidur selama hampir 3 hari.

Ada cara untuk menenangkan tubuh dan jiwa Moza yang selalu Ouka gunakan dulu saat mereka masih bersama, wewangian mawar.

Moza menatap pemandangan luar dari jendela kamarnya, tatapannya kosong namun isi kepalanya berkecamuk. Pikiran Moza dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, bersalah karena tak mampu melindungi omeganya dan menyesal karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk Lio.

Entah kenapa Moza merasa hidupnya selalu terasa sulit, dimulai sejak ia kecil yang dipaksa menjadi kuat seperti kedua kakaknya. Kemudian semasa remaja yang selalu diberi tekanan untuk tidak bersikap ceroboh dan menjaga kehormatan keluarga.

Terakhir saat Moza masuk di usia 20 tahun dimana ia dipaksa menikahi omega yang hamil anak kakaknya. Kehidupannya berjalan sesuai rencana keluarganya, tidak pernah sesuai rencananya sendiri.

Saat Moza mulai menerima omega dan anak barunya itu, muncul lagi masalah yang membuatnya berfikir seribu kali untuk memutuskan keputusan terbaik yang dapat ia ambil.

Keputusan pertamanya tanpa campur tangan keluarga, yaitu bertanggung jawab atas Nala dan kehadiran Haigan yang merupakan anak kandungnya.

Kelahiran anak yang tidak pernah Moza bayangkan akan lahir dari rahim omega yang selama ini mengusiknya. Omega yang bahkan tak pernah ada dalam mimpinya dan terlebih Moza tidak suka male omega.

Tapi Moza mampu mengubur rencananya maupun keinginannya. Namun masalah tak berhenti sampai disitu, kini anaknya harus kehilangan mamanya. Melihat anaknya menderita adalah suatu kesakitan terbesar dalam hati seorang ibu tentunya.

Moza mampu menahan semuanya namun tak mampu menahan tangisan anaknya. Benar-benar menjadi orang tua yang payah, menjaga senyum anaknya saja Moza tidak bisa.

Semakin lama Moza semakin tenggelam dalam pikirannya, beberapa saat kemudian indra penciumannya menghirup aroma wewangian bunga mawar yang segar.

Asap tipis dari wewangian yang dibakar pun mulai memenuhi ruangan. Moza membalikkan tubuhnya, netranya dapat menangkap Ouka yang sedang menutup pintu kamarnya.

"Kau tidak perlu melakukan ini lagi." Moza tak bisa membiarkan dirinya terlena lebih lama lagi atas kehadiran Ouka.

Omega berparas cantik itu berjalan mendekati Moza, kemudian dengan berani ia meraih kedua tangan Moza. Alpha itu merasakan elusan pelan yang dilakukan Ouka pada punggung tangannya.

"Aku tau alpha tidak bisa beristirahat dengan benar beberapa hari ini. Pikiranmu kacau dan kepalamu terasa berat kan? Jangan mengira ini rayuan, aku hanya berniat tulus ingin membantumu." Ouka lihat alpha didepannya tampak berpikir sejenak.

"Sudahlah, kemari ikuti aku. Aku akan membuatmu merasa nyaman." Ouka menarik pelan tangan Moza untuk mengikutinya ke ranjang.

Ouka menempatkan diri dengan duduk dibagian kepala ranjang, lalu Moza ia arahkan untuk tidur di pangkuannya.

Moza merebahkan tubuh di ranjang dengan posisi kepala di paha Ouka. Lalu dengan senang hati Ouka mengelus surai halus milik Moza, tak lupa juga pijatan-pijatan kecil di area dahi ia lakukan.

Moza menatap Ouka yang juga balik menatapnya "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?" sebagai seorang alpha, tentunya ia tidak bodoh untuk menilai sikap omega yang tertarik padanya.

"Kau masih berarti dihidupku, jika alpha tidak menginginkanku dulu mungkin aku dan keluargaku sudah mati." Ouka ingat sebagaimana susah hidup keluarganya dulu, semenjak bersama Moza semua tampak mudah untuknya serta keluarganya.

"Jadi ini balasan rasa terimakasihmu?" pertanyaan Moza dianggukki oleh Ouka. Moza mengalihkan tatapannya dari Ouka lalu berusaha menjemput mimpinya karena tak mau lagi membuang waktu. Tak berselang lama, Moza tertidur dengan nyenyak.

Melihat alpha Moza memejamkan mata dan tampak damai di pangkuannya membuat sudut bibir Ouka tersungging tipis.

Hanya seorang Ouka yang tau dan dapat melakukan ini, only Ouka.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°

Jadi siapapun disini sakit.

Siapa kira-kira yang paling sakit disini?

–RIUSGURL–

Female Alpha Dominan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang