22

654 67 6
                                        

"Tidak, ini..bukan- seharusnya..aku." Marvel tidak dapat menjawab pertanyaan andrew.

Rosalyn tahu Marvel tidak dapat membantu saat ini, dia melangkah maju. Ia menenangkan hatinya semaksimal mungkin dan menghela napas.

"Andrew, saat kami masuk ke ruangan, yang kami lihat daren henituse menusukmu. Kami juga tidak mengerti mengapa situasinya berlawanan."

Andrew mengerutkan kening, mencoba memahami situasinya. "Mungkin ...sebuah ilusi?" Pandangannya beralih ke pedang.

Tepat saat itu terdengar suara lain berlari. "Jackson-apa." Alberu membeku. Saat dia masuk, dia jelas melihat tunangannya menusuk saudara angkatnya, tapi kenapa.

Kenapa malah kekasihnya yang berdarah. Saat Alberu 'melihat' daren menusuk andrew, dia tidak tahu harus merasa apa. Dia senang daren baik-baik saja. Dia khawatir tentang andrew, bingung kenapa daren menusuknya, terluka karena pengkhianatan. Terkejut karena situasi yang tak terduga. Cemas memikirkan apa yang akan terjadi pada daren sekarang.

Namun saat pemandangan di depannya 'berubah' seolah-olah dinding kaca telah pecah, pandangan Alberu menjadi kosong. Saat ia melihat tubuh berlumuran darah dari kekasihnya melingkar di lengan andrew, sambil mengerutkan kening dan gemetar, Alberu merasa hampa.

Dia tidak bisa merasakan, melihat, berpikir, atau mendengar apa pun lagi. Ia merasa seolah-olah ia telah terlempar ke dalam danau berisi air beku yang membuat seluruh tubuhnya mati rasa. Paru-parunya tidak bisa bernapas. Tekanan semakin membebani dirinya. Kaki dan tangannya tertutupi oleh kulit kayu.

"Sayang..." Dia hanya bisa merintih menyebut namanya dengan menyedihkan. Ketakutan dan keputusasaan memenuhi seluruh tubuhnya. "Da...ren"

"Ugh!" Daren mengerang kesakitan. Baru kemudian mereka mulai bergerak lagi. "Sial, dia kehilangan terlalu banyak darah."

"Jangan angkat pedang nya." Ron dan Beacrox, sebagai pembunuh, lebih mengenal pedang daripada siapa pun di sini. Meskipun mereka sendiri cukup terkejut, saat ini situasi daren sedang kritis. Yang terpenting saat ini adalah daren.

Pertama dan paling penting, biarkan benda tersebut berada di dalam luka dan berhati-hatilah agar tidak menggerakkannya, karena dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Benda tersebut sebenarnya membantu menghentikan aliran darah. Menariknya keluar kemungkinan akan meningkatkan kehilangan darah, sementara mendorongnya masuk dapat menyebabkan cedera lebih lanjut pada organ dalam.

Andrew menggertakkan giginya melihat semua orang tercengang saat ini. "Sadarlah! Rai!" Rai mendengus.

Sebagai naga yang cerdas, dia tahu persis apa yang Andrew inginkan darinya. "Baiklah." Begitu Rai mengangguk, cahaya terang menyelimuti Andrew dan daren, mereka berdua menghilang dari sana.

Mereka muncul kembali di pintu masuk kuil tempat Eruhaben berada. "Eruhaben!" Eruhaben mengerutkan kening dan menoleh ke arah Andrew saat mendengar panggilan yang terasa mendesak itu.

Perisai yang menutupi Kota Puzzle menghilang dan dia bisa mendengar orang-orang bersorak pada saat itu.

"WOOOOOOOOO-"

"Kita masih hidup-!"

"Aaaaaaah" Senang, lega, khawatir. Wajah mereka yang ceria dan berlinang air mata penuh dengan berbagai emosi. Mata ksatria yang telah menjaga pintu masuk balai kota Puzzle City berbinar.

Para prajurit yang bersorak-sorai. Teriakan mereka membuat semuanya terasa nyata. Pertempuran panjang ini akhirnya berakhir. Mereka tidak pernah menyangka akan melihat langit secerah ini setelahnya.

Senyum lembut muncul di wajah sang ksatria. Matahari di langit terasa hangat dan angin terasa menyegarkan, bukannya dingin.

"Sudah berakhir." Gumamnya membuat ksatria senior yang berdiri di sebelahnya tertawa terbahak-bahak dan menganggukkan kepalanya.

In another lifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang