Ruangan itu sunyi. Lampu redup hanya menerangi buku tua yang terbuka di atas meja kayu. Semua mata tertuju pada sosok transparan yang berdiri di tengah mereka — Daren Emerson Henituse, sosok yang tak pernah mereka sangka bisa kembali, walau hanya sebatas roh.
Alberu berdiri di sisi ruangan, menatap Daren dengan mata penuh luka dan harapan yang saling bertarung dalam diam.
“Apa kau benar-benar kembali?” suaranya parau, seolah takut ini hanya ilusi yang akan hilang secepat datangnya.
Daren tersenyum lemah, matanya menatap Alberu dengan hangat. “Aku tak pernah benar-benar pergi, Alberu. Aku hanya berada di tempat yang berbeda.”
Air mata mulai mengalir dari mata Alberu. “Kami semua merindukanmu. Kau meninggalkan begitu banyak pertanyaan, begitu banyak rasa sakit.”
Roh Daren menatap ke arah sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah yang hancur dan rindu. “Aku tahu… aku juga merasakan semuanya. Tapi aku tidak ingin kalian terus terjebak dalam luka itu.”
Alberu melangkah maju, suaranya bergetar. “Bagaimana caranya? Bagaimana kami bisa melanjutkan tanpa dirimu?”
Daren mengangkat tangan dan menyentuh buku di hadapan mereka. “Kenangan adalah jembatan, bukan rantai yang mengikat. Kita harus belajar berjalan di atasnya, bukan terperangkap di bawahnya.”
Seketika, ruangan dipenuhi cahaya merah lembut, mengalir hangat ke setiap sudut hati yang terluka. Semua merasakan kehadiran Daren, bukan hanya sebagai roh, tapi sebagai bagian dari mereka yang tidak akan pernah hilang.
“Ini bukan perpisahan, alberu,” kata Daren lembut. “Ini adalah awal dari cara baru untuk saling menjaga.”
Alberu mengangguk perlahan, menerima luka itu sebagai bagian dari dirinya. “Aku akan terus mengingatmu, sayang. Sampai kita bertemu lagi.”
Daren tersenyum terakhir kali, lalu mulai memudar, membawa serta cahaya yang menghangatkan ruangan dan hati mereka.
Ketika cahaya hilang, hanya tersisa kenangan dan luka yang kini mulai menjadi kekuatan untuk melangkah.
---
Setelah cahaya merah perlahan memudar, keheningan memenuhi ruangan. Semua menatap tempat dimana Daren berdiri tadi, seolah berusaha menangkap sisa kehadirannya.
Alberu menghela napas panjang, suaranya serak saat berkata, “Dia pergi lagi... tapi aku tahu, dia tidak benar-benar meninggalkan kita.”
Seorang dari mereka, dengan suara bergetar, menimpali, “Aku merasa seperti kehilangan bagian dari diriku sendiri. Rasanya kosong, tapi juga... ada harapan.”
Yang lain menunduk, “Bekas luka ini mungkin tidak akan pernah hilang, tapi aku percaya kita bisa terus hidup, karena Daren mengajarkan kita untuk kuat.”
Andrew menatap semuanya, matanya sedikit basah, “Kita harus menjaga kenangan ini. Biarpun dia tidak ada, cintanya tetap hidup di hati kita.”
Mereka saling bertukar pandang, dan dalam keheningan itu, sebuah janji tanpa kata terucap: bahwa cinta dan kenangan akan menjadi cahaya dalam kegelapan mereka.
Selesai sudah.
Hal yang paling melelahkan dari berduka bukanlah menangisi, melainkan menceritakan lagi dan lagi kejadian demi kejadian ketika mereka pergi, menjawab banyak pertanyaan dan dilarang untuk menangis.
END
Akhirnya ending jugaa, maaf banget kalo endingnya kurang memuaskan. Dan makasih buat kalian semua yang udah baca,vote and komen cerita aku ini
Jangan lupa mampir di cerita aku yang lain juga ya, dan tunggu cerita baru akuu.
KAMU SEDANG MEMBACA
In another life
Fantasy"Daren!" 'kenapa?' "Bunuh pengkhianat itu!" 'Yang kulakukan hanyalah mencintaimu dengan kemampuan terbaikku, jadi mengapa?' "Kamu sebaiknya mati saja!" 'Aku berharap-' "Sungguh tidak enak dipandang." Awan berwarna abu-abu dan hujan turun deras, kare...
