"Daren, apa kabar?"
"Baik" Meski daren bilang dia baik-baik saja, dia saat ini terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bangun.
Semuanya dimulai pagi tadi, ketika dia mencoba bangun dari tempat tidur untuk minum. Begitu dia bangkit dari tempat tidurnya, kakinya lemas dan dia terjatuh. Suara keras itu membangunkan Alberu.
Ia menjadi sangat khawatir saat melihat daren tergeletak di lantai. Ia segera mengangkatnya dan membaringkannya di tempat tidur sebelum memberi tahu seluruh istana.
Eruhben dan para dokter bergegas masuk. Diikuti oleh andrew, Marvel dan Ron.
Tidak peduli bagaimana mereka memeriksa, hanya ada satu kesimpulan, Itu semakin mendekati akhir.
Daren adalah satu-satunya yang kebingungan di antara mereka. Ia bisa merasakan indranya berkurang. Namun sekarang ia tidak bisa merasakan kakinya lagi.
Mereka semua terasa.....mati.
"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya andrew, duduk di sisi lain tempat tidur.
Daren berpikir sebentar. "Kue, makaroni, dan teh hijau."
"Makanan penutup? Kenapa kita tidak sarapan dulu?" Alis Alberu terangkat mendengar permintaan itu.
"Oke."
"Bagus." Alberu menepuk kepala daren sebelum membunyikan bel. Beacrox masuk sambil mendorong troli berisi wafel dengan madu dan buah-buahan, beserta secangkir susu.
Daren duduk sambil bersandar di head board. Sebuah meja kecil telah disiapkan untuknya di tempat tidur.
Porsi sarapan yang lain disiapkan di meja teh di dalam kamar. Alberu dan andrew sarapan bersama daren di tempat tidur.
Hari ini sangat sibuk bagi daren. Orang-orang datang satu demi satu untuk menanyakan keadaannya. Setiap kali dia meyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja, mereka hanya menatapnya dengan sedih.
Dia sebenarnya baik-baik saja. Selain kakinya yang tidak bisa digerakkan, dia baik-baik saja.
"Haah" Daren mengehela nafas. Membuat fokus alberu yang sedang fokus melihat beberapa dokumen teralihkan.
"Lelah?" Tanya alberu. Daren menggelengkan kepalanya.
Alberu meletakan pulpennya. "Apa kamu mau berjalan-jalan sambil menyaksikan matahari terbenam?"
Ya, matahari terbenam lagi. Hari yang lain telah berlalu. Daren melihat ke luar jendela. Bertanya-tanya apakah di luar sedang panas atau hangat.
Tapi Alberu mengira daren sedang rindu atau sedang kesal, sehingga senyum di wajahnya pun menghilang.
Tidak peduli seberapa kuat dia mencoba mencari daren, saat-saat seperti ini menghancurkannya sepenuhnya.
"Tapi aku tidak bisa berjalan lagi." Daren berkata dengan suara pelan.
"Siapa yang bilang?" Daren menoleh ke arah suara itu dan melihat andrew bersama Rai.
"Yap, siapa bilang kamu tidak bisa jalan lagi, daren cantik." Daren menatap anak yang gembira itu.
Rai hanya tersenyum nakal kearah daren sebelum melambaikan tangannya. Mana hitam mengelilingi daren sebelum dia diangkat dari tempat tidur.
"Sekarang, bolehkah kita jalan-jalan?" Trio dengan seekor bayi naga berjalan di sepanjang jalan berbunga di taman istana Roan. Daren sebenarnya sedang melayang alih-alih berjalan sekarang.
"Anginnya cukup menyegarkan." Daren mengangguk, setuju atas ucapan andrew.
"Hangat. Kupikir masih panas."
KAMU SEDANG MEMBACA
In another life
Fantasia"Daren!" 'kenapa?' "Bunuh pengkhianat itu!" 'Yang kulakukan hanyalah mencintaimu dengan kemampuan terbaikku, jadi mengapa?' "Kamu sebaiknya mati saja!" 'Aku berharap-' "Sungguh tidak enak dipandang." Awan berwarna abu-abu dan hujan turun deras, kare...
