27

684 56 4
                                        


Tak seorang pun mampu mengatur napas setelah perjalanan terakhir pahlawan mereka sebelum musuh besar lainnya menimpa mereka.

Para pemburu.

Mereka datang seperti badai sebelum siapa pun bisa bersiap dan mereka menghancurkan seluruh Roan.

Sang pahlawan perisai perak, andrew. Harus memulai perjalanannya ke dunia lain. Tidak ada yang sama dengan tidak adanya seseorang berambut merah. Sungguh menyedihkan.

Setelah kematiannya, pahlawan berambut merah itu dimakamkan di samping ibunya. Dan di makamnya muncul pohon willow besar.

Ada yang sibuk dengan semua pembangunan kembali setelah perang usai. Membangun kembali kerajaan. Membentuk aliansi politik dan sebagainya.

Namun, di dalam hati mereka selalu ada seorang berambut merah. Setiap tahun pada hari kematiannya, seluruh Kerajaan Roan akan dihiasi dengan warna merah.

Merah darah, seperti darah bangsawan. Batu ruby menjadi simbol yang melambangkan 'cinta abadi'.

Cincin Ruby merah, yang selalu dipakai oleh kaisar baru Kerajaan Roan.

Gelang Ruby merah, seorang perisai perak pahlawa. Dia selalu memakai gelang itu.

Sebuah kastil dibangun di istana Roan untuk menghormati seorang permaisuri, yang tidak akan pernah bisa disaksikan oleh Roan.

Di masa depan, setiap generasi permaisuri akan tinggal di sana dan dianggap sebagai tempat paling suci di istana kekaisaran Roan. Dan di kastil hitam, ada kamar yang di khususna untuk 'seseorang' berambut merah. Dan di kastil Henituse, untuk tuan muda tertua mereka yang paling di cintai.

Para penyair, pelukis, musisi, dan penulis dari seluruh benua menyanyikan lagu yang sama tentang malaikat yang telah memberkati kehidupan manusia. Malaikat yang telah diambil kembali oleh Tuhan karena ia terlalu berharga.

Dan legenda tentang pohon willow yang mulia tersebar di seluruh benua.

•••

Terdengar ketukan di pintu kantor Alberu.

"Masuklah." Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria berambut hitam.

"Kau sudah kembali."

"Ya. Para pemburu itu menyebalkan." Andrew mendengus kesal.

"Haha, kau tidak pernah berubah." Andrew hanya duduk di sofa dengan tidak sopan.

"Bagaimana keadaannya?"

"Sama seperti biasa. Para bajingan haus kekuasaan yang bersembunyi di kursi mereka kini bangkit kembali sejak perang berakhir."

Alberu mendesah. Ruang kerja itu berubah menjadi hening yang terasa nyaman. "Apakah kau akan menemui daren sebelum pergi lagi?" Alberu bertanya. Andrew dengan tenang menatapnya sebelum mengangguk.

"Ya."

"Dia seharusnya ada di taman."

"Aku akan... pergi." Ucap Andrew.

"Saat kau melihatnya, suruh dia masuk ke dalam karena sudah hampir waktunya makan malam."

"Kak. Tidak- Alberu." Andrew memanggil Alberu dengan dingin.

"Hmm?"

"Berapa lama."

"Apa berapa lama?" Tanya alberu bingung.

"Berapa lama kau akan terus menipu dirimu sendiri seperti ini."

Tangan yang memegang pena berhenti beberapa menit sebelum terdengar helaan nafas. "Selama diperlukan untuk mengatasi rasa sakit ini."

"Kak-"

"Aku tidak bisa hidup tanpanya, andrew. Aku lebih baik menipu diriku sendiri dengan berpikir bahwa dia masih hidup daripada menjadi gila dan menghancurkan semua yang telah dia korbankan."

Andrew hanya bisa menghela napas. Alberu terjebak di masa lalu. Masa lalu di mana ia menipu dirinya sendiri atas kematian daren.

"Ilusi harapan cenderung menutup mata seseorang terhadap kebenaran yang menyakitkan." Andrew tidak berkata apa-apa lagi dan hanya menghela napas. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Kak, jangan ulangi sejarah."

Setelah itu Andrew pergi. Pandangan Alberu tertuju pada lukisan seorang pria cantik berambut merah yang sedang tersenyum.

Daren mempunyai banyak gelar sebelumnya. Sampah, pengecut, tidak berguna, bocah nakal. tapi ada satu gelar yang tidak ada seorang pun memanggilnya.

Jelek. Tak seorang pun berani menyebutnya jelek.

Alberu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah lukisan itu sebelum menyandarkan dahinya ke bingkai.

"Daren, sayang, kecantikanmu adalah kekuatan dan senyummu bagaikan pedang. Saat ini aku tak berdaya. Tolong jangan tersenyum padaku lagi. Hatiku sudah berdarah."

Air mata dan isak tangis mengikuti suasana ruangan yang sunyi dan sepi. Alberu diam-diam mencium cincin rubi merah itu.

Sementara di luar ruangan, andrew berdiri diam mendengarkan semua tangisan itu. Dan pandangannya terganggu oleh... tirai merah transparan?

Tidak, itu... "Daren."

"Andrew siapa lelaki yang menangis di dalam ruangan itu"

"Dia adalah... sang kaisar."

"Kenapa dia menangis?"

"Dia memiliki cinta yang sangat indah. Namun cintanya meninggalkannya lebih awal."

"Sungguh menyedihkan."

"Jadi kamu kasihan padanya."

"Tentu saja, dia terlihat menyedihkan."

"Kalau begitu, tidakkah kau akan menghiburku juga?"

"kau? Kenapa?"

"Karena aku juga kehilangan cintaku di saat yang sama." Mata roh merah itu membelalak.

"Kau makhluk menyedihkan, kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal."

Andrew hanya tersenyum. "Kamu selalu baik."

"Apa?"

"Tidak apa-apa. Ayo kembali, daren."

"HEII!"

Lorong itu kembali sunyi ketika komandan berambut hitam itu berjalan pergi bersama 'teman' rohnya.

Sambil berjalan Andrew tersenyum. Kekuatan kuno daren ditransfer kepadanya. Dan sebagian jiwa daren ikut bersamanya. Itulah yang menyebabkan situasi ini. Andrew senang. Setidaknya dia tidak kehilangan daren seutuhnya.

Satu-satunya orang lain yang tahu tentang keberadaan daren adalah Rai. Dan mereka merahasiakannya dari semua orang.

Keduanya tidak ingin daren terluka lagi. Daren tidak mengingat hidupnya sebagai manusia. Dan mereka tidak akan mengingatkan daren tentang masa lalunya. Mereka lebih suka daren yang ceria ini. Andrew sudah kehilangan sinar mataharinya sekali.
Tidak pernah lagi.

Matahari adalah segalanya.
Fajar akan membawa harapan.
Matahari terbit akan membawa sorak-sorai.
Pagi hari akan memberikan kesegaran.

Siang hari akan mendatangkan kekuatan.
Sore hari akan mendukung kemalasan.
Malam hari akan membawa rasa nostalgia.

Matahari terbenam akan menghadirkan rasa sepi yang mengingatkan kita bahwa akhir sudah dekat. Dan senja akan memberi kita rasa tenang yang memberi isyarat agar kita menyingkirkan semua ketakutan kita.

Matahari yang memicu semua kegembiraan dan air mata ini akhirnya menghilang dari langit.

Tanpa matahari yang menuntun kita, bagaimana kita akan menemukan cahaya. Dalam kegelapan malam ketika bulan tidak lagi memiliki cahaya, dan bintang-bintang menolak untuk berkelap-kelip karena kesepian di langit.

Namun kita tidak dapat lagi menahan matahari. Jadi, kita akan tetap di sini. Karna cahayanya menyelimuti kita dalam pelukannya yang hangat.

In another lifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang