Hari pertama.
Daren terbangun saat merasakan sinar matahari yang terang menyentuh wajahnya. "Mhmm" Begitu dia mengerang, dia merasakan sinar itu menghilang?
Tidak, tangannya terhalang. "Hah?" Daren membuka matanya dan melihat sebuah tangan.
"Sudah bangun, Sayang?" Daren melihat seorang lelaki cukup cantik berkulit cokelat.
"Alb- uhuk" Daren merasa tenggorokannya kering. Secangkir minuman dingin langsung menempel di bibirnya.
"Minumlah pelan-pelan." Suara Alberu selembut angin pagi. Daren meminum air dengan patuh sebelum melihat sekeliling.
Dia kembali ke istana Roan? Apa yang terjadi? Dia tidak ingat. Yang dia ingat hanyalah dia...tunggu apa yang terjadi padanya?
Melihat alis daren berkerut, Alberu tersenyum lembut mengusap alis berkerut itu untuk meluruskannya.
"Jangan berpikir. Kau tidak perlu khawatir tentang apa pun. Biarkan saja...kami yang mengurusmu."
"Kami?" Lalu terdengar ketukan di pintu.
Alberu tersenyum. daren baru menyadari Alberu sudah berpakaian. Jadi, dialah satu-satunya yang memakai piyama.
"Masuklah." Pintu terbuka dan memperlihatkan...andrew? Dengan on, hong dan Rai.
"Daren yaa."
"Daren!"
"Daren cantik, kau sudah bangun."
"Mhmm" Daren menatap andrew dengan tatapan seperti berkata 'apa yang membawamu ke sini'. Mata andrew menatap ke arah Alberu.
Alberu hanya menggelengkan kepalanya, menunjukkan bahwa daren tampaknya tidak mengingat apa pun. Jika demikian, dia pasti bertanya-tanya.
Daren menyambut anak-anak yang berlari, karena beberapa alasan semuanya datang berdesakan dalam pelukannya tapi menghindari dadanya.
"Hai?" Daren menyapa mereka. Mereka tiba-tiba tampak gembira. Andrew datang untuk duduk di sisi lain tempat tidur daren.
"Manusia cantik, sekarang setelah kau bangun, bisakah kita bermain?"
"Bermain?" Bingung daren. Anak-anak biasanya bermain dengannya, tapi tidak pernah secara khusus memintanya bermain.
"Ya, kita bisa bermain di taman." Kata Rai semangat.
"Kita juga bisa pergi ke kota untuk membeli barang-barang." On dan Hong menambahkan.
Daren kebingungan jadi dia menoleh ke arah Andrew untuk meminta bantuan, hanya Andrew yang memerhatikan mereka, menatap daren sambil tersenyum lembut.
Daren mengerutkan kening sebelum menoleh ke Alberu. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi?
"Kau mau pergi?" Alberu bertanya dengan lembut.
"Kurasa kenapa tidak?" Ucap daren. Alberu mengangguk dan menatap andrew. Kedua pria itu saling menatap dan mengangguk.
"Aku akan meminta pelayan untuk membantumu berganti pakaian. Setelah itu kita akan sarapan dan kau bisa menemani anak-anak di taman. Andrew akan menemanimu. Aku akan menjemputmu saat makan siang." Kata Alberu.
Daren hanya mengangguk. Alberu tersenyum sebelum mengecup keningnya dan pergi bersama yang lain. Tak lama kemudian beberapa pelayan datang untuk membantu daren berganti pakaian.
Namun daren merasa bingung. Mengapa wajah mereka begitu aneh. Para pelayan tampak seperti ingin menangis. Aneh sekali. Mereka juga bersikap sangat lembut dan hati-hati. Apakah mereka takut dia akan mengamuk? Mungkin saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
In another life
Fantasía"Daren!" 'kenapa?' "Bunuh pengkhianat itu!" 'Yang kulakukan hanyalah mencintaimu dengan kemampuan terbaikku, jadi mengapa?' "Kamu sebaiknya mati saja!" 'Aku berharap-' "Sungguh tidak enak dipandang." Awan berwarna abu-abu dan hujan turun deras, kare...
